Review Sony M1I Aspen dari Segi Design

Selamat datang kembali sobat blogermie yang setia. 😀
Mungkin dari sekian banyak pembaca merasa kikuk dan aneh, mengapa admin mengangkat judul ini bukan?

Beberapa minggu ini, entah mengapa Statistik kunjungan Google analystic saya sedikit berubah dari hari biasanya. Dan Tutorial Flashing Aspen berhasil menjadi artikel terpopuler minggu ini.

Sebenarnya hal itu sangat kontroversi juga lho, karena awalnya saya tidak terlalu memberikan gambaran kuat bahwa nantinya artikel tersebut menarik atau tidak. Tetapi sebatas memberikan wawasan saja.

Namun, apa hendak dikata, ternyata relevansinya juga sangat berpengaruh bagi pemilik Ponsel Sony Ericsson Aspen diseluruh penjuru indonesia, sehingga berhasil menduduki urutan pertama konten paling banyak dicari versi Google. Dan Lagi-lagi, Sony Ericsson M1I Aspen banyak menjadi rujukan para netizer untuk mengetahui lebih jelas review dan tutorialnya. Sekaligus menanggapi banyaknya permintaan untuk dibuatkan Tutorial Aspen beserta permasalahanya.

Sebelumnya, dengan ini saya meminta maaf sedalam-dalamnya apabila pertanyaan yang ada di di database ini belum semuanya terjawab. Adapun sedikit keterlambatan jawaban, atau bahkan jawaban-jawaban yang tersedia masih belum memuaskan keingin-tahuan pembaca semua, karena semata-mata rutinitas harian seorang suami yang tidak dapat ditinggalkankan begitu saja.

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah pertanyaan yang belum terjawab dari mas @Dika bagus kurnia. Dengan maksud menjawab pertanyaan tersebut, tetapi ada beberapa error terjadi di sana-sini. Widget komentar tidak dapat diakses, dan kerap memunculkan pemberitahuan “Error reporting“.
Sempat saya merefresh berulang kali halaman browsing, tapi tetap tidak mengubahnya sebagai galat. Jadi saya merasa datebase komentar kelebihan beban, Sehingga saya berinisiatif menjawab pertanyaan beliau melalui sebuah postingan. Semoga beliau tidak kecewa

Oleh sebab itu, semoga artikel ini sedikit membuka wawasan kita mengenai Sony Ericsson Aspen, Khususnya pembaca yang ingin tahu seluk-beluk Smartphone canggih ini

OK. Pada awal postingan perdana kali ini, saya akan lebih memprioritaskan pengenalan dulu, Sebelum berlanjut ke step tutorial dan trik. Akan lebih bijaksana jika kenal mengenal smartphone murah dan penuh kejutan ini dari 1 persatu.

 

MUKADIMMAH

Yang masih awam dan baru mempergunakan, saya akan memberikan reportase dan review perihal Sony Ericsson Aspen. Sony Ericsson Aspen adalah Ponsel kedua Besutan Sony yang sudah ber OS windows. Jauh dengan pendahulunya Sony X-peria 1 yang sama-sama mengusung ketangguhan yang mirip, jauh dari buyutnya Sony ericsson M600 yang menggunakan Symbian UIQ.

Dalam silsilah keluarga saya, semua jenis ponsel sony dengan segala tipe sudah kami coba. Dari kesemua Ponsel tersebut, semuanya menyatakan sebagai Ponsel terfavorit dan hasil turun-temurun.
Dari tahun 2006, setidaknya saya sendiri sudah memakai 5 jenis Ponsel Sony. Mulai Tipe lama T310, J200, K550, G900, K660, dan yang terakhir Sony Ericsson Aspen.

Awal kemunculan Sony ericsson Aspen di awal tahun 2010, saya baru mampu membeli ponsel tersebut awal tahun 2011 dengan hasil jerih payah menabung. Saya sengaja mengincar ponsel ini karena kebutuhan Mobile yang sangat kompleks, disamping sistem pengoperasiannya mengusung OS Windows yang kadangkala mengundang teka-teki bagi yang sudah terbiasa mendengar Developer Microsoft yang sudah sukses melanglang buana di dunia komputer dekstop.

Saya sering mondar-mandir mempergunakan Smartphone canggih ini mulai dari segala aktivitas. Dari kebutuhan untuk Telepon, Sms, Office, Chatting, sampai mempergunakan aktivitas Mandiri Internet Banking.
Tentu saja kelebihan yang membuat pemilik smarphone ini bangga ialah dengan Kualitas bahan baku yang konon katanya telah mengusung konsep Greenheart. Satu-satunya cikal bakal inovasi Sony Ericsson yang mendaur ulang bahan bakunya dari bahan yang ramah lingkungan.

 

USER INTERFACE

Kunggulan Sony Ericsson Aspen secara fisik jika dilihat dari depan adalah Backlight LCDnya yang kinclong pada modus standby. Bagi yang sekedar alay atau ingin berstyle banci kaleng, sangat cocok dipakai untuk keperluan bersolek.

Hingga yang menurut saya paling unik, adalah dengan tersedianya Game Ecomate dan Experiment 13 yang sengaja diangkat untuk menghargai Lingkungan hidup.

Display backlight Glossy, sangat cocok untuk proyeksi dan cermin

Desain Aspen cukup dipandang sangat sexy dan Pakem. Aspen menggabungkan tampilan QWERTY fisik empat baris dengan kemampuan layar sentuh.
Sedari awal memegangnya, orang pasti kepincut dengan fisik Keyboard yang menyerupai Blackberry. Sayangnya demensi layar yang begitu sempit jika dibanding dengan susunan tuts keyadnya sangat terkesan memaksa. Walhasil, saya sedikit kesulitan mengetik dengan jari saya yang sebesar onde-onde ini. Padahal porsi layar bisa lebih jumbo jika saja sudut lekukan dibawahnya bisa dioptimalkan.

keypad sony ericsson aspen

Bongsor, tapi miskin tempat. Padahal masih ada sisi dibawah lekukan body yang bisa dipakai untuk memperlebar dimensi tuts keyboard

Tubuh boleh Bongsor, tapi miskin tempat. Padahal masih ada sisi dibawah lekukan body yang masih bisa dioptimalkan untuk memperpanjang jarak Tuts Keyboard

Biarpun begitu, kalau sudah digenggam, rasa-rasanya mantap dan erat ditangan. Kesan Licin juga hampir tak ada.. Karena Desaign ponsel ini memiliki ciri khas Lebar memanjang, dan agak montok di body belakang menjadikan segala inspirasi terkuras jika berlama-lama memandangi Ponsel ini. Ibaratnya mendekap pacar pacar sendiri tanpa meronta-ronta minta jatah #HALAH 😀

aspen yang erat dalam genggaman

Pakem digenggam, meski dimensinya agak melebar. Menyisakan ruang lebar dari sisi kiri dan kanan

Perpaduan desain layar sentuh dan keyboad qwerty konvensional sangat menjadi perhatian bagi yang capek ngetik dengan sepuluh jari. Jika waktu sedang Longgar, bisa menggantikan fungsi pad konvensional tersebut dengan meraba, atau memoles ujung jari guna mengakses ke tiap navigasi menu, karenaAspen sudah dibekali layar Touchscreen.

Hanya saja, yang sedikit membuat saya kecewa adalah toucpadnya.  Sedikit tidak responsif, alias tidak Capacitive Touch, sehingga seringkali harus disentuh berulang kali.

Biarpun Plastik glossy yang membungkus ponsel terkadang dianggap sepele. Eh jangan salah kalau sudah bicara dengan ketahanannya. Saya orangnya cenderung teledor kalau bawa hp. Resiko terjatuh, dan tercelup air adalah hal yang menurut saya biasa terjadi. pun begitu, tetap tak mengubah Durabilitas Sony Aspen sebagai satu-satunya ponsel yang paling kokoh.

Mungkin vendor Sony memang patut diacungi 2 jempol. Bukti bahwa Semua ponsel sony diciptakan awet dan bandel minta ampun. Itu terlihat jelas bagaimana Sony Ericsson Aspen tetap gentar walaupun saya lalai dan sering menjatuhkannya berulang kali. Bahkan sampai casing belakang, dan baterainya sampai lepas, tetap tidak berpengaruh banyak terhadap LCD-nya. Semuanya kuat, termasuk pelindung utama bahan yang dibuat lentur dan kuat.
Kecuali jika pemirsa tak ingin celaka dan ingin membuktikannya sendiri. Jangan sekali-kali terpancing untuk menguji ketahanannya dengan membenturkannya dengan martil.

 

TRIAL DAN ERROR

Untuk jaminan mutu, sering terjadi dilema bahwa semua ponsel Sony dicap sebagai produk gagal dan kurang sempurna. Jika dilihat dari permasalahan umum yang kerap terjadi seperti hp sering restart sendiri, hang, maupun matot tanpa sebab. Itu merupakan wujud bahwa Sony Ericsson tidak memiliki wewenang penuh dalam hal software dan firmware. Mau-nggak mau, pengguna awam harus melakukan Metode Flashing Sony Ericsson Aspen Sendiri melalui sumber/konten penyedia layanan firmware.  Atau mitra ketiga.

Kalau masalah bahan dan hardware, saya yakin Vendor Sony memang terbukti nggak main-main. Justru kebalikannya, kalau ditanya siapa yang diberi kewenangan instalasi softwarenya? Mari kita tanya saja pada pabrikan asal indonesia-maupun cina.

Untuk itu, tidak ada salahnya jika membeli, kita tidak usah ragu-ragu mencobanya terlebih dahulu. Jika pengguna juga rutin memeriksa handset masing masing, atau melakukan flashing sendiri- tanpa terburu-buru membawanya ke servis resmi orang indonesia.

 

SAYA SARANKAN JANGAN LANGSUNG MEMBAWANYA KE GARANSI RESMI: KARENA MANAGEMEN RUWET,DAN PASTI ANDA HANYA DIPONTANG-PANTINGKAN DENGAN ALASAN NON TEKNIS dan CENDERUNG MENGADA_NGADA. BAHKAN TIDAK MENJAMIN KERUSAKANNYA BISA LANGSUNG DIATASI. PALING-PALING MANGKRAK BERMINGU-MINGGU DENGAN ALASAN GANTI SPAREPACT-LAH DSB.

Saya tidak memungkiri bahwa Sony Ericssson Aspen memang gagah. Selain sudah tersedianya Quickoffice, beberapa fitur konektivitas yang sengaja saya lirik kala itu adalah karena Ada Wifinya. Jarang-jarang ada ponsel murah yang dibenamkan fasilitas ini jika memang tidak dari kategori ponsel pintar. Kalau boleh diadu, Satusatunya perangkat yang pantas dijadikan kompetitor ponsel kalangan bisnis macam Aspen adalah yaitu Nokia communicator seperti E-Series.

 

STORAGE DAN PENYIMPANAN CADANGAN

Oh ya, sebagai penikmat Stick M2 yang dulunya khas sebagai media penyimpanan eksternal  milik Sony, mungkin kali ini pengguna tidak berharap banyak. Karena Sony membuang jauh kesan mahal yang sering dijumpai di M2 Stick Micro duo Pro sewaktu membelinya secara kosongan.
Beruntunglah, murahnya harga memory Micro SD sudah dapat dijangkau oleh pengguna melalui tersedianya Slot Micro SD di Ponsel Sony Ericsson Aspen.

kamera aspen beresolusi 3.5 MP

Kamera resolusi maksi di Zamannya, sayang minim Autofokus

AUDIO DAN MULTIMEDIA

Disisi audio, saya lebih menitik beratkan pada jack Audio berukuran 3,5 mm untuk keperluan Musik dan memadukannya sambil menyaksikan Bokev. Biarpun sedikit membuat saya “kecut” jika melihat kemampuan Earphone-nya yang masih terbilang mono.  Akhirnya saya menyadari juga bahwa Mungkin karena Sony Ericsson Aspen merupakan ponsel yang ditujukan untuk kepentingan bisnis dan bukan pada kemampuan Hiburan dan multimedia seperti yang seringkali kita jumpai pada Seri W dan Xperia kali ya?.

Jadi saya berkesimpulan, Biarpun Masih Mono, tapi kalau sudah terpasang di daun telinga, rasanya seperti luamyan nyaman cetar, dan sangat membahana.
Tapi bagaimanapun juga, tentu dengan alasan apapun, akan terasa lebih nyaman jika tidak menggunakannya sambil berkendara. Hal ini juga sanggup meminimalisir terjadinya mayat-mayat yang bergelimpangan di jalan kecelakaan lalu lintas.

Sebagai nilai tambah, energi positif mulai timbul melalui Slot Audio yang sanggup berfungsi ganda sebagai antena eksternal Radio.
Seingat saya, hanya 2 Ekor tipe Sony ericsson yang sudah dibekali slot jack audio + antena, yakni sony ericsson R300, dan R310 yang memang ditujukan untuk Segmen Music dan Radio Portable. Adapun kelebihan ini adalah suatu kontribusi
mahal yang harus dibayar vendor sony jika tetap mempertahankan kabel audio tipe lama yang biasanya dibundling pada waktu pembelian. Selain mudah lepas, juga sering longgar jika silih bergantian penggunaan sebagai charge baterai.

Slot Lubang untuk jack audio Aspen 3.5 mm

Lubang Slot audio untuk jack berukuran 3.5 mm

SUMBER DAYA

Nah untuk baterai, suplai yang ada baterai lithium ion berkapasitas 1500mAh ini hanya sanggup membuat aspen bertahan hidup 2 hari dengan modus hemat energi dan pemakaian normal seperti SMS dan telpon saja (tanpa bantuan viagra lho) #halah.

Padahal dengan kapasitas lebih, seharusnya daya tahan bisa lebih sampai 3 hari tergantung pemakaian. Saya juga sempat menggebernya beberapa hari disaat pertama kali pembelian, tanpa melakukan aktivitas apapun hanya mentok 2,5 hari saja.

Baterai sony ericsson Aspen

Baterai Berkapasitas 1500 mAh

Untuk sesi Review yang kedua, yakni pada segment display dan costumisasi tampilan menu, saya ulas di halaman ini:

Artikel Terkait :

2 Comments

Tinggalkan Balasan