Menggapai Cita Menjadi Pengayom Wong Cilik

Sebagai Jati diri seorang Laki-laki tulen, sudah sepantasnya jiwa pengayom melekat pada diri siapa saja. Ini ada benarnya juga, tetapi isapan jempol yang sering saya dengar melalui saduran buku mata pelajaran PMP ( SMP ) tentang nilai-nilai luhur berkebangsaan, bahwasanya Pengayom hanya dimiliki bagi seseorang yang punya latar belakang pemimpin, Presiden, maupun orang-orang tajirrr…ini adalah anggapan yang sama sekali tidak benar ! .

Saya berani menyangkal hal ini selagi masih menjadi Warga negara Indonesia, khususnya pribumi yang membawa adat ketimuran, menjunjung etika kesopanan dan berpijak di tanah air indonesia, maka seiring itu pula seseorang  harus mempersiapkan mental untuk bertindak berani dalam mengayomi terhadap kaum ( Dhuafa ) dibawahnya.

Saya Yakin, baik petuah-petuah kuno maupun ajaran agama apapun, selalu mengajarkan hal yang demikian. Melindungi yang lemah dan membela yang benar

Dan, cerita dibawah ini bisa menjadi bukti bahwa untuk menjadi pengayom, seseorang tidak harus dipandang dari Title maupun jabatan yang dimiliki seseorang.

Berikut rentetan Kronologinya:…………………………

Cerita ini bermula kita aku duduk dibangku SMP. Masa SMP adalah masa transisi seseorang untuk bermetamorfosis menjadi kepribadian dewasa di masa sesudahnya. Begitupun diriku, Jikalau di cerita sebelumnya aku pernah sekali bandel, maka di SMP inilah aku menjadi anak yang sangat penurut versi majalah Forbes. Dan tentunya, label baru dan julukan baru mulai terngiang-ngiang ketika aku menginjakkan kaki di SLTPN 2 SUKODONO.

Kenapa Blogermie dikenal sebagai Sosok Pengayom Wong Cilik

Seandainya saja tidak ada SKEP ( Surat Keputusan ) untuk upacara bendera setiap hari senin pukul 07.00 – 08.00, mungkin gelar pengayom wong cilik tidak pernah tersandar di pundak blogermie. Gelar ini ( Pengayom Wong Cilik ) sudah melekat jauh-jauh hari sebelum di kumandangkannya Slogan Pilkada dan Parpol yang sangat berambisi sok-menjadi pengayom wong cilik sebagaimana yang terjadi pada diriku.

Dan jujur saja, gelar ini bukan atas kemauan pribadiku agar dikenal sok melindungi dan menjadi pahlawan kebenaran seperti SARAS 008, namun gelar yang secara sukarela diberikan sebagai bentuk murni apresiasi, karena sifat-sifat mulia pengayom cilik pada Blogermie, sejatinya sudah lebih dulu ada.

Pada waktu SMP ( Sekolah Menengah Pertama ), Bukan hal yang rumit bagiku untuk memperolah sahabat, terutama dari kalangan wong cilik.  Sosokku sangat familiar di semua sektor kelas dan kantin sekolah sebagai pengayom sejati. Dan lagi-lagi, wong cilik-lah yang benar-benar merasakan pengayomanku.

Sumpah…!!!, ini merupakan suatu tanggung jawab yang besar dan hanya dimiliki oleh pria berjiwa besar jika ingin memikul beban pengayom wong cilik. Dan, DEMI ALLAH..!!, sungguh amanat yang harus Blogermie panggul seumur hidup demi memperoleh gelar sialan ini.  Gak percaya???

Beberapa bukti, bahwa Blogermie adalah sosok Pengayom Cilik:

  1. Dengan tinggi badan kurang lebih 160cm (sewaktu SMP) Blogermie harus selalu berdiri di barisan paling depan untuk menghadiri Upacara bendera.

    Di sinilah keuntungan dan faedah bagi para wong cilik ( Farid, Wisnu, Budi, Boby, dll ) untuk selalu menempel ketat layaknya homo, di belakang Blogermie demi mendapatan pengayoman, dari teriknya sinar matahari.

  2. Selama satu tahun mengabdi sebagai pengayom di SMP, sudah melakukan ritual upacara sebanyak 4 hari senin x 12 Bulan = 48, dipotong masa liburan + 4 hari =44 Upacara bendera. Kalikan 6 Tahun ( SMK tidak ada Upacara, tetapi tinggi badanku makin menjulang menjadi 188cm ) = 264 Kali
  3. Paling sering terkena hukuman apabila lalai memakai topi.

    Parahnya jika wali-kelasku sudah terlanjur mendampratku “hee… koen seng koyok jerapah, maju !” red: hei kamu yang seperti jerapah, maju !

  4. Tidak bisa bolos untuk ngikutin upacara, karena para guru sudah apal dengan jenong jidatku yang selalu nongol lebih lebar dibandingkan jidat wong cilik yang lain.
  5. Pak Khusen “Penjaga sekolahku” selalu memperbantukanku sebagai “Galah” jika terdapat kegiatan Jumat Bersih. Lha wong berkat pengayomanku, dahan-dahan pohon, dan ranting yang menghalangi jalur instalasi kelistrikan berhasil dibersihkan.
  6. Berkat menjadi Pengayom Wong Cilik, memikat hati durjanaku ( membimbing Isnaini ) dalam mata pelajaran PENJASKES. Sewaktu Lompat Jauh, Blogermie sangat terampil demi mendapatkan rekor terbaru. Dengan panjang lompatan 4,2 M, sebuah kejutan di dunia olahraga.


  7. Menggapai Cita sang PengayomSampai sekarang pun menginjak usia yang ke 27 dan sudah menikah, aku masih saja menjadi pioner ( pasukan penjuru ) tatkala tiba upacara bendera. Tampil dengan gugusan terdepan memakai Atribut KORPRI dan Kopiah, selalu menjadi kemudi untuk membawa pasukan untuk masuk ke lapangan Upacara.

    Di sisi Positif, teman-teman di belakangku sudah merasakan pengayomanku dari sengatan sinar Ultratoilet (dan lagi-lagi, melekat seperti homo seperti: Yasir, Totok, Adi, Samsul, Sugiyarno).

    Adapun alasan yang cenderung masuk akal bagi mereka adalahlantaran tinggi badanku ini tergolong unik dalam kontribusinya sebagai penghalau podium ( Anggota upacara dibelakangku dengan bebas terkantuk-kantuk dan “sembunyi” terhindar dari penglihatan Inspektur Upacara #Kampret kan ! ).

Biarpun rada-rada menyesal. Tapi aku bersyukur berkat pengayomanku inilah, mudah bagiku untuk mengakses keberadaan teman-temanku baik dari segala gender untuk selalu mendukungku dalam hal apapun. Semakin hari, entah kenapa, mereka merasa sangat nyaman dengan Blogermie. Teriring doa untuk semua teman-temanku, baik bagi yang sudah tiada dan yang masih ada. Aku bahagia bisa menyenangkan hati kalian semua.
Terima kasih kepada Tuhan seluruh semesta alam atas yang Engkau berikan selama ini kepadaku 🙂

Artikel Terkait :

3 Comments

Tinggalkan Balasan