CUMI-CUMI CULUN #Perjalanan Penuh Lendir Menuju Warung Blogger

cumi-cumi culun

Fiuhhhh…. Akhirnya kelar juga membuat Cerpen ini. sungguh sulit mendiskripsikan sebuah karakter cumi. Sungguh pula tak sampai hati menyesatkan alam sadar pembaca untuk senantiasa tidak terlalu berimajinasi berlebihan dengan apa itu yang disebut “Isi dibalik Warna”.

Tapi puji syukur, sebagai hidangan pencuci mulut paling “maknyus” diawal bulan Februari ini, Blogermie punya cerita koplak dan lucu, versi Ludruk “Mustika Jaya

Monggo dibaca….

Siapa yang tidak kenal Cumi-cumi, Binatang yang di kategorikan sebagai binatang leluhur molusca ini hanya dikenal orang awam sebagai hidangan santap kuliner seafod. Biarpun begitu, Secara biologi, si cumi akan sangat anggun dengan beberapa tebaran pesona yang membuat penulis kesensem.

Apa saja itu:

  1. Otot radial terletak di antara lapisan otot sirkular, dalam posisi tegak lurus. itu yang menyebabkan hewan ini sangat agresif dalam hal kecepatan dan meluncur.
  2. Sifat cumi bisa dianggap sebagai suka “kamuflase” terhadap hewan laut lain, itu kenapa Cumi pada spesies tertentu bisa ber-mimikri dan berubah warnanya seperti bunglon. Disaat cahaya laut telihat redup, si cumi akan dengan mudah berpendar dengan sendirinya.
  3. Sebagai bentuk pertahanan diri, si cumi tidak punya banyak taji dalam menghadapi predator, dan lagi-lagi, gaya khas cumi-cumi yang cenderung angin-anginan “hitam-putih” seringkali meng-kadali penghuni laut didalamnya dengan cairan tintanya yang sangat pekat.

Wow Semua penciptaan menakjubkan ini tak lain adalah perwujudan ilmu Allah yang tak terbatas.

Tapi bukan itu yang ingin diceritakan penulis untuk saat ini. (Maaf, kalo sobat maunya dengar itu, di bagian berikut aja, ya.)

Penulis jadi bersemangat lagi dengan sebuah cerita yang lagi happening. Persoalan cinta, intrik dan parodi. Mungkin lebih tepatnya sebuah sisi lain dari cumi yang hijrah dari biota laut menjadi biota daratan paling dekil.

Adapun kelebihan Tinta hitam yang di milikinya akan lebih berguna ke dunia filsafat dan tulis-menulis, bukan lagi sebagai alat melindungi diri, tapi ke konsep yang lebih matang lagi. Yaitu meng-kadali orang lain, demi merubah Aranggement baru: “Tinta Emas”

Sinopsis cerita ini mengambil prolog seorang cowok kece berkebangsaan Jawa, berbakti pada orang tua, jujur, swadesi, kutu buku, tidak bergaya hidup mewah, dan selalu mengamalkan UUD 1945. Tidak lain dan tidak bukan adalah cowok gak sopan dan sempurna bernama Rangga.

Sebagaimana ditulis dengan tagline Cumi-cumi Culun, pokoknya yang berhubungan dengan cumi pasti akan lengket-dengan kepribadian si Rangga ini.

Karakter cumi sendiri, berlendir, dan syarat akan kepicikan. Penjiwaan “Calm” pada diri Rangga seperti mindset unik agar selalu di-cap beda, bandel, licin, koplak, dan cenderung meng-kadali orang orang lain.

Kisah ini diawali oleh kehidupan ekonomi Rangga yang masuk golongan Dhuafa golongan C.
Status Rangga sebagai pengannguran tingkat kronis turut mendongkrak pemborosan anggaran rumah tangga belanja.
Dalam versi BPS, (badan Pusat Statistik) sekaligus menjadi benalu bagi keluarga pak Wagiman dan Samirah yang mencapai 5.77% atau 10.55jt orang, sebagai bentuk ledakan penduduk.
Belum lagi hutang orang tua Rangga kepada renternir, sehingga keluarga Rangga menjadi keluarga fakir miskin sejati namun tetep harmonis.

Rasa frustrasi akibat tekanan kebutuhan ekonomi, Rangga, anak tergadaikan dari 3 bersaudara harus terpaksa merantau ke kota demi mengadu nasib. Rangga berharap dengan merantau ke surabaya, dia bisa bekerja sekaligus mewujudkan impiannya membeli laptop, mencoba gaya hidup terbaru sebagai pria paling metroseksual yang confident.

Dalam bentuk sederhana pria paling favorit, mencari gebetan cewek cantik sekelas Pretty Shinta yang kearab-araban, batang hidungnya (mancung). Itu merupakan sebuah tantangan tersulit sepanjang hidup Rangga. Mungkin ini terdengar aneh, karena bekal Rangga ke ibukota hanya tampangnya yang Madesu (masa depan suram) dipadu dengan setelan Gimo (gigi moncongnya) yang hampir menyerupai pagar kabupaten. Disamping itu, kebiasaan yang paling ia sukai semenjak duduk di bangku sekolah adalah mengupil.

Baca Juga : › Upil Assasins, Jika Upil Terlanjur Asin

Biarpun begitu, Rangga alias (Ra_ngganteng_blas) tetap memenuhi sumpah serapahnya agar tetap PD, dan tidak lekas mengeluh demi kesejahteraan keluarganya dikampung.
Keberangkatan Rangga meminta izin terlebih dahulu kepada bapak dan ibunda yang tertinja. Tidak lupa kepada teman-teman yang turut serta melepas kepergian konco plek dengan merayakan “membuka botol” di warkop paling terkenal di desanya.

Singkat cerita, sampailah Si-Rangga ini di kota surabaya. Kehidupan di kota besar ini sangat berbeda dengan keadaan di desa asal Rangga.
Iklim cuaca yang relatif semrawut panas-dingin, terlebih yang dikonsumsi masyarakat perkotaan selalu identik dengan makanan mewah dan sangat rentan cabe sempet membuat Rangga cekcok dengan sistem pencernaannya, Bahkan sampai berak-berak dan harus keluar masuk puskesmas minta obat diare gratisan pasien Askes.

Di Surabaya, Rangga disambut bak artis comberan, banyak orang yang mudah kenal dengan tampang maut si rangga. Cukup bilang saja “Si Jontor”, maka banyak navigasi yang akan diperoleh dan sangat mudah menemukan keberadaan si-Rangga.

Dilain pihak, si- Rangga terkenal dengan jiwanya yang penolong dan “teduh” terhadap orang di sekelilingnya.
Pernah suatu ketika Rangga memberikan pertolongan kepada Mbak Mirna, Ibu yang melahirkan 4 anak kembar hasil hubungan diluar nikah dengan Mas Bambang.

Kasihan sekali Mirna, lantaran diketahui tengah berbadan dua. Ke empat anaknya terlahir sungsang dengan posisi kepala terbelit tali pusar.

By the way, Baik Mirna maupun bambang, Keduanya adalah Nama-nama Kucing

——————————————To Be Continued————————————–

︾ BAGIKAN JIKA INI BERMANFAAT ︾

ARTIKEL YANG SERUPA :

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!