Fotografi yang Indah Dalam Kesederhanaan Kantong Celana

Akhirnya Blogermie Nulis lagi…heeee@.

Ya . Ini adalah postingan pertama saya di bulan Februari yang merujuk ke kategori Fotografi.

Beberapa bulan lalu saya memang sedang terlalu asyik membuka tulisan perdana bertema tutorial maupun anekdot , sampai-sampai, beberapa kategori tertentu sempat kosong tak terisi.

Berbicara mengenai anekdot. Sebagus apapun alur ceritanya, tidak berkesan rasanya apabila momen-momen tertentu tidak diabadikan dengan segera. Nah, kalau sudah berbicara momen, hal yang lebih uzur terdengar umum adalah bagaimana mengabadikan cerita dalam sebuah bingkai agar nampak lebih manis. Baik itu yang Berbentuk tulisan yang diperkuat dengan objek berupa gambar maupun foto.

Ketika menulis, saya sadar hal tersebut dapat dijadikan inspirasi, sehingga tiap kali menulis, saya selalu mencari korelasinya dengan fotografi. Meskipun tidak mahir memotret, diharapkan cerita yang tersampaikan, mendapatkan konflik cerita yang menonjol.

Karena baru belajar meode memotret yang baik, Sebenarnya tidak ada ungkapan “jelek”, kurang presisi” atau “kurang fokus” dalam dunia fotografi, namun bergantung bagaimana menyelaraskan hati dalam meng-‘capture’ sebuah panorama. Ini merupakan ilmu baru yang mudah dicerna. Memotret itu juga butuh perasaan dan kepekaan lho. Untuk menambah kesan yang dilematis di tiap momen yang kita peroleh, harus ada jeda “sabar” untuk tidak sekadar trrburu-buru memencet tombol Shutter.

Jadi intinya, biarpun terlalu bagus atau kurang jelek hasil bidikan tersebut, apabila seseorang sedang sungguh-sungguh, dalam hati yang lapang dan tidak dalam keadaan psikologi sedang tertekan (tedensi dan emosian), siapa saja pasti bisa belajar memotret. Memotret juga tak harus ditunjang dengan kamera mahal. Asal berniat, itu saja.

Bagaimana dengan Fotografi Kamera Digital LSR Sebagai satu-satunya alat potret yang baik…?

Tatkala seseorang sudah belajar fotografi, orang akan mudah terpicu. Demi memperoleh hasil foto yang bagus, perangkat canggih terpaksa dibeli demi menunjang motivasinya memotret, terutama kamera digital canggih dengan sejumlah fitur didalamnya. Padahal bukan itu syarat utama untuk belajar memotret bagi pemula. Memotret itu lebih ke arah pengembangan diri dan kreativitas, bukan ke arah Eksistensi diri.

Ya begitulah analisa saya…Meskipun bukan aturan baku. Dalam pengecualian mereka yang memiliki taraf ekonomi yang mencukupi, seandainya terdapat rezeki lebih untuk membeli kamera DSLR dengan kemampuan yang terbaik, pendapat saya boleh dikecualikan

JANGAN BERGANTUNG PADA ALAT MAHAL, SEBAGAI MOTIVASI UNTUK TIDAK MEMOTRET

Anggap saja ini terucap dari sisi buruk kepribadian saya: “Bukankah kalau membeli kemera mahal, ini hanya akan menguntungkan penjual. Dari ketidak-tahuan pembeli yang di komersil-an oleh mereka. kekurangan ini yang kemudian mendulang dana segar. Dimanfaatkan penjualnya untuk meraup untung.

Saya yakin sekali, sejak zaman bahula, tidak ada satupun kamera secanggih sekarang ini (kamera yang menggunakan film) dengan kemampuan otomatis. Tak menutup kemungkinan makin banyak kompetitor penjualan alat fotografi yang semakin membuat konsumennya dibuat bingung. Maka dengan mudahnya pembeli-pembeli pemula terjaring jebakan betmen. Dengan mempelajari fitur-fitur canggih didalam sebuah kamera, tanpa ada kemauan untuk mengasah ketrampilan memotret, Sulit untuk menemui apakah yang dimaksud kreativitas itu. Semua itu bermula dan butuh banyak proses kawan. Tidak ada yang Instan dalam belajar memotret.

Kalau flashback lagi ke tahun dimana Leonardo Davinci dilahirkan. Mungkin bagi yang fasih dalam dunia seni akan hafal siapa dibalik mahakarya lukisan Monalisa?

Beliau memang pekerja seni lukis, sangat impulsif dan pandai memfrasekan sendiri alunan nalurinya mengayun kuas demi menorehkannya ke bingkai kanvas. Dan bukan hanya itu saja, didalam beberapa bidang tertentu davinci cukup telaten membuat kanal, sains dan bahkan kontribusinya dalam bidang forensik.
Ini bukan masalah beliau piawai, tapi lebih mudahnya mengetahui bahwa proyeksi hati seseorang itu menggambarkan pencerminan dirinya sendiri. Saat sedang diam, maupun sedang dalam keadaan mengerjakan sesuatu.

Kalau suasana hati seseorang tersebut tenang, ia akan cenderung bersikap riang. Demikian sebaliknya, ketika ia sedang badmood, ia akan memperlihatkan kecenderungan dalam bertindak secara menyimpang.
Masih bingung ya?.

Arsitektur yang baik dalam bidang seni, bukan terdapat pada alat yang dipakai, namun  mengikuti naluri dan alur imajinasi yang terus berkembang.

Seorang manusia yang Hampir sempurna, itulah pencitraan davinci

 

Sama halnya ketika kita bicara perihal Fotografi.  Bisa dibilang Fotografi itu melukis dengan cahaya. Sebisa mungkin pengguna harus bermain-main dengan pengaturan Contras dan Brightness. dan yang terpenting adalah letak objek sebisa mungkin ternaungi cahaya yang cukup. Itu saja sih menurut saya

Ahhhh… diksinya gak mutu. Paling kamu juga memakai Kamera SLR Her…!

Tidak kisana… Sumpeh disamber gledek

Percaya atau enggak sejak pertama kali kamera dengan merek fuji film sangat familiar, maka itulah kamera pertama keluarga saya. Kamera jadul tersebut diperoleh kakak sebagai bentuk beasiswa waktu duduk di bangku SMP. Bisa di bilang kakak saya memang mahir menggunakan kamera tersebut

Kelas pemula untuk belajar memotret bagi saya adalah kamera tersebut, sering terbakar itu biasa, tapi tak akan pernah mengubah kata menyesal dalam belajar. Dan terbukti kesekian kalinya saya sudah cukup mempuni dalam hal memotret.

Selama saya memotret. sampai suatu ketika memotret menggunakan Sony Ericsson K660i, bahkan untuk saat ini menggunakan Kamera saku Cybershoot DSC W620.

Berikut ini adalah hal dan syarat terpenting bagi siapapun untuk belajar memotret :

  1. Objek gambar yang paling sederhana.
  2. Tidak perlu mengasingkan diri mencari panorama, kalau ada momen bagus, biarpun tidak sedang melakukan rekreasi. Tempatnya asyik dengan banyak spot, Maka tinggal potret saja.

    Seperti halnya Shutter kamera pada saat meng-lock, kepekaan dan reflek mata kita harusnya lebih responsif dalam menangkap momen yang dirasa cukup pas. Mengkombinasikan background, objek, dan pencahayaan yang tepat demi mendapatkan hasil foto yang menurut kalian paling mirip.

    Nah, Kalau menurut pembaca hasilnya bisa lebih dari mirip,alias bagus dengan objek aslinya.. ok-lah, itu bisa dimulai berimajinasi dari sekarang.

  3. Spontanitas
  4. Ini yang sering terjadi. Kalau ada bahan bagus, maaf-maaf kata nih seperti pernyataan bos romlah’) trik ini yang paling banyak dimanfaatkan Citizen journalis (jurnalis warta) seperti memotret kecelakaan, Foto-foto kejadian tak wajar seperti foto supranatural dan foto koplak. Atau bagi yang pemula seperti saya dapat Memotret sebuah objek yang tidak biasa sepertinya sangat cocok. Contoh foto candid

    Ini adalah beberapa jepretan sederhana sewaktu menggunakan kamera ponsel Sony Ericsson K660i beresolusi 2 MP, tanpa fitur otomatis. Foto ini saya ambil beberapa tahun lalu:

    Lafadz Allah di Langit Surabaya | Lokasi: Cito-Surabaya

    Lafadz Allah di Langit Surabaya | Lokasi: Cito-Surabaya Kisahnya dapat di lihat di »
    halaman Ini

    Cloud in Beauty | Lokasi: di samping rumah

    Penciptaan yang maha kuasa menganugerahi langit dengan warna Biru. Ini adalah warna teduh dan terkesan kalem bagi mereka yang memiliki Jiwa yang sepi. Mungkin bagi yang mencintai seni, foto diatas bisa saja mengundang teka-teki dan wujud rasa bersyukur

    Neon Glow dibawah teriknya matahari | Lokasi : Kolam pancing RSAL dr.Ramelan jam 4 sore

    Efek pantulan cahaya itu anggun. Meskipun mataharinya terik. terkadang saya mencari pengganti untuk menutupi kekurangan overpreasure…yah gampangannya cari objek lain sebagai efek pantul tanpa menghilangkan objek utama.

    Sunset Beach | Lokasi: Pesisir – Probolinggo

    Kurang lebih, deskripsi foto ini sama dengan yang diatas. Hanya saja saya lebih maksimal modus-potrait tanpa menggunakan auto fokus. Panorama jadi lebih berkesan “tinggi”

    Geladak | Lokasi: Taman kenjeran Surabaya

    Spektrum cahaya dan distorsi adalah yang paling saya suka. Agar lebih terasa efek simetrisnya, kadang saya meletakkan kamera tepat  pada garis horison

    Hari-Sudoki | Lokasi: Omah dhewe

    Mendapatkan presisi, untuk Memotret anak kecil sedapat mungkin sejajar dengan tinggi badan si-anak. Itu sebabnya saya lebih suka “jongkok” demi mendapatkan momen
    (“diki if parents are not there, then I am the spiderman“)

    Saya juga jarang menggunakan Fitur otomatis. Selain membuat linglung, Menggunakan fitur-fitur otomatis hanya membuat saya makin terjebak dengan teori.

IMAJINASI DAN KREATIVITAS ADALAH GURU TERBAIK

Intinya adalah bagaimana kita memaksimalkan kemampuan memotret. Masalah itu bagus apa tidak, Fitur pasti akan mengikuti dari belakang. Maka sedari awal saya tulis: jika hendak belajar fotografi.. hindari betul dengan apa yang namanya “Fitur Otomatis” dan “pemborosan”.

Ibaratkan seorang anak kecil yang belajar menaiki sepeda. bukan tidak mungkin si-anak akan terus terjatuh dan selalu terjatuh. Bukan masalah sepedanya jelek maupun keren, mahal. Toh sepeda tersebut pasti akan tersungkur juga… Tapi hikmah bagi sianak agar terus belajar dan akhirnya dapat menaiki sepedanya dengan baik

Latihlah secara kontinyu. Belajar fotografi tidak harus membekali diri dengan kamera super canggih. Kamera itu hanya alat, sedangkan alat merupakan media yang disederhanakan oleh pembuatnya, bisa rusak kapan saja. Toh tetap tidak mengubahnya sebagai ciptaan manusia yang rentan ketinggalan jaman. 1 tahun, bakal keluar produk baru lagi. Ini mutlak.

Terkadang kita sudah sangat teledor memaksimalkan panca indra seperti mata untuk menangkap sesuatu yang bagus. Kita sudah terbujuk dengan alat, tanpa peduli bahwa kita memiliki potensi. Kuncinya adalah Kreativitas dan Imajinasi kita sendiri.
Penuh imajinasi..hmmm ya betul…Pergunakan 2 karunia ini sebaik mungkin dalam memadukannya dengan “ALAT POTRET” yang kalian bawa.

Alat potret gak harus mahal bray… Ada kamera ponsel, bahkan ada pula kamera saku digital. Sepertinya harga kamera tersebut makin hari juga makin kompetitif dan ramah di kantong celana. Itu sebabnya mengapa saya mengambil judul Fotografi yang Indah Dalam kesederhanaan kantong Celana.

Kalau ada yang alat potret yang bisa ditenteng dan dijejalkan kedalam saku celana, kenapa harus meng-kalungkan benda berat dileher? Jauhkah kesan Simple Itu?.

Kecuali pembaca berkantong tebal, dan tengah fokus mengambil jurusan digital printing maupun jasa pre-wedding…beehhhh.. saya gak mau jawab deh… 😀

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan