Nikmatnya Secawan Bubur Srintil di Pagi hari

Nikmatnya Secawan Bubur Srintil di Pagi hari | Suasana ini nampak begitu bersahabat.

Seperti hari-hari biasa, saya melewati kesehariannya dengan tidak berdiam diri di rumah.
Menjelang kokok ayam perganti pergantian hari tiba, meringkas piranti tidur, dengan cepat saya menunaikan kewajiban kerohanian. Seperti yang sudah-sudah, selalu ada momen yang menyambut pagi ini dengan cerita seru.
Dan, cerita baru ini nyatanya telah membangunkan kerinduan yang sejak lama terlupa akan makanan lembek dan berair.

Baca Juga : Sarapan Pagi Pria Setengah Baik-baik

Bentangan jarak yang jauh, kadang membuat lutut terasa ngilu, jika ditempuh dengan berjalan kaki. Namun teringat akan pesan bu bidan untuk senantiasa mengajak istri jalan-jalan.
Tapi percayalah, Mungkin bagi suami yang baru pertama kalinya, cenderung bosan adalah hal yang belum biasa, Setelahnya akan menjadi makin terbiasa lagi. Untuk menunggui istri berbelanja, Jelasnya penyaluran Hobi jepret kamera saku digital setiap kali berpergian adalah hal yang mutlak bagi saya.

Tugas menjadi seorang bapak memang sedang terjadi saat ini. Apapun itu, dibalik segala tanggung jawab yang dipikul, selalu ada senyum melebar dan hati yang terbuka. Tentunya Semangat itu selalu ada di saat menemani istri belanja di pasar pagi.

Baca Juga :Karunia datangnya Pagi, Pasar tradisional, dan Topi baru si Imah

Hampir 15 menit saya menunggu, timbul rasa bosan. Saya bermaksud mencari perhelatan lain agar terhindar pada kejenuhan yang ada, Akhirnya terhenti sejenak setelah melihat gerobak asong penjual bubur. Bukan bubur ayam yang umum dikenal banyak orang, melainkan Bubur srintil.

Tahukah pemirsa, apa bubur srintil ini?

Bubur srintil adalah bubur tradisional yang biasanya disajikan pada acara-acara ruwat desa. Rasanya manis. Ada ketan hitam, dicampuri sagu mutiara, kacang hijau dan sedikit olahan agar-agar. ditambahkan pula dengan Gula jawa, yang telah lebih dulu disirami dengan santan matang sebagai kuah.


Dulu sekali, saya selalu menanti bubur tradisional ini hadir di depan rumah. Tapi entah kenapa sudah hampir 15 tahun lebih, saya tidak pernah berjumpa kembali dengan penjualnya.

Perkenalan saya dengan penjual bubur srintil , begitu singkat.
Sekali mengamati seorang anak kecil digendongan ibunya minta dibelikan bubur tersebut, saya merasa terkubur kembali dengan masa lama ketika merengek, adalah tabiat buruk saya yang paling parah. Dan lagi-lagi, pikiran saya bentrok jika mengamini kejadian serupa yang demikian.

“Beli berapa mas..?”… tanya penjual bubur mengagetkan.
“Oh..ngapunten pak, saya beli 2 bungkus. Oh ya 1 bungkusnya berapa ya pak..?”, tanya saya lagi
“4000” mas. Jawabnya sambil tersenyum
Yaudah pak, saya beli 2 saja…

Dengan piawainya si bapak memainkan centongnya mengisi kantong plastik. Masih tetap sama seperti dulu. Cuma ada beberapa revisi dan variasi pada pewarnaan. Kalau dulu warnanya putih susu, sekarang bisa di variasi dengan warna cuma ijo pandan. Ada pula Merah stroberi. dengan dibalut warna coklat gula aren

penjual Bubur Srintil

Usai membayar 2 bungkus bubur srintil yang dikemas dalam plastik tersebut, saya tak lantas pergi. Sambil menunggu istri belanja yang tak kunjung selesai, saya mengajak berbincang sejenak bapak penjual bubur tersebut.

Dari awal kedatangannya ke desa ini, sampai proses menjual bubur srintil itu sendiri. Beliau bersaksi bahwa selama menjual bubur, beliau hanya meneruskan profesi ini dari keluarganya. Karena yang beliau ketahui, hampir sanak familinya yang berdomisili di lamongan memang rata-rata bermata pencaharian sebagai penjual dan pedagang.

Perbincangan kami sebenarnya cukup mengasyikkan. Namun setelah teriakan nyonya membuyarkan asyiknya perbincangan, saya mohon izin berpamitan lebih dulu. Dan perbincangan tersebut diakhiri dengan bertegur sapa dan mengucap salam.

Selama perjalanan pulang, saya terus menerus menghirup uap bubur srintil tersebut. Sedikit tersisa bagi istri untuk bertanya:

“Ngobrol apa saja mas? kok seru sekali?”
Ah enggak kok dek, Cuma sepenggal kisah klasik yang tidak akan pernah diulang, namun sangat patut dikenang… Antara aku dan bubur srintil ini.

Kamu gak usah minta jatah buburku ya… awas lhoo…!!!”

Secawan Bubur Srintil
︾ BAGIKAN JIKA INI BERMANFAAT ︾

ARTIKEL YANG SERUPA :

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!