Belajar sehati menjadi Ayah

Bingung dan gugup. Mungkin kalimat ini yng sesuai untuk membuka awal tulisan ini. Entah sudah berapa minggu blogermie [dot]com terpaksa saya anggurin.

Beberapa minggu berselang, Sepertinya saya sudah tidak hafal lagi skill menulis anekdot. Belum lagi beberapa kepentingan yang berskala prioritas banyak
Menyita perhatian seperti mengasuh anak sekaligus memanjakan ibunya. Semuanya harus disikapi dengan lapang dada diselingi canda tawa.

Ada sebuah cerita menarik kawan!, cerita ini juga masih berkaitan dengan cara pandang masyarakat etnik jawa kolonial dimana ada bbeberapa ritual tua yang mengharuskan tiap orang tua lebih mawas diri dalan membesarkan bayi yang baru lahir. Satu diantara dari sekian banyak asumsi yang seringkali mengganggu konsentrasi saya yakni : BERHATI-HATILAH DALAM BERTUTUR KATA, Karena konon katanya sih, dari tiap kalimat yang terucap adalah doa yang sewaktu-waktu bisa menjadi duri bagi empunya.
 ………
Beberapa hari yang lalu, istri saya mendapatkan sebuah sms dari ayah kandungnya yang berisi hal yang menurut saya adalah sebuah teka-teki dan pembelajaran. Intinya isi dari sms tersebut adalah agar senantiasa mengucap kalimat-kalimat thoyibah(baik). 
Bukan karena saya sendiri takut kepada beliau, tapi memiliki mertua yang notabenenya seorang priyayi dan memang patut dihormati terkadang memang sangat sulit ditegakkan kebenarannya. Tetapi syukurlah berkat beliau,  saya banyak belajar dalam menyelesaikan sebuah perkara baru dalam menggapai anak tangga kehidupan menuju anak tangga yang lebih tinggi. Dan satu hal yang tengah saya abdi pada diri sendiri ialah belajar sehati dengan 1 anggota keluarga baru yang sedapat mungkin memotivasi ayahnya agar terus lebih baik lagi
Sekian dan salam rukun
Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan