Imunisasi dibalik sebuah Tanggung Jawab Besar [Part-2]

30 September 2013, (mode Ketua RT:ON)
Terima kasih terhaturkan pada semua pembaca Blogermie[dot]com yang selalu setia mengekor blog ini meskipun pemiliknya sekarang sudah mulai enggan menulis tutorial baru.

Ucapan terima kasih yang kedua tertuju kepada kekasih tertinja. Elly the Gembel, karena sudah mau “Gembel” (gemar belajar) mendorong, memotivasi, menyemangati saya untuk tetap menulis semua aib yang telah saya lakukan.

Yang ketiga, ucapan terima kasih juga kepada sanak saudara dan handai tolan yang terbentuk dalam 1 komunitas forum WebE dengan sangat tulus, turut serta membentuk kepribadian saya menjadi manusia baik hati guna mengamalkan nilai-nilai luhur pancasila dan undang-undang 1945#halah

Berikut dialog kisah di blog ini yang menceritakan sisi lain kehidupan dengan berbagai cara. Ada gelap, ada terang. Ada suram, Ada pula hutang yang harus dibayar. Semua Tergantung bagaimana sikap kita meneladani situasi yang ada dengan tidak terburu-buru.
Beruntung, saya dikarunia sang maha pencipta, berupa selera humor yang tinggi, sehingga apa yang telah saya alami selama membina rumah tangga ini hampir kesemuanya terselesaikan dengan cara yang jenaka.

Beberapa hari yang lalu, telah diceritakan kalau blogermie ini dihadapkan dengan istilah baru setelah waktu dekat mengantar apa itu istilah “Imunisasi“. Saya banyak berubah (kata istri saya seh itu manusiawi).
Maklumlah, kalau membujang dulu, dengan gaya gombalan abunawas, Para kaum laki-laki pinter menaklukkan asmara.
Sangat dekat, Sampai acuh masalah perhatian, cuma manis diawal-awal saja. Begitu sampai ditengah-tengah,,prettt. Mirip lagunya doel sumbang -Kalao bulan bisa ngomong, lambat laun kafilah (perempuan) menggonggong, anjingnya(si-pria) berlalu.

Imunisasi dibalik Tanggung Jawab dan harapan orang tua yang sangat berpengaruh

Bila pada masa menikah dini sudah diberi yang maha kuasa rizki melalui momongan, ini adalah syarat bagi kedua pihak untuk saling lebih mendekatkan diri. Kekompakan yang beriringan dari rasa tanggung jawab masing-masing, menjadikan keduanya lebih peka dengan tujuan awal mereka menikah.

Kalau belum dikarunia anak dalam kurun waktu 2 tahun, kekompakan hanya berlangsung paling banter 1 tahun. Karena ke egoan masing-masing muncul. Yang dikorbankan cintanya, merasa bahwa apa dilakukan selama ini, hanya demi kepentingan biologis semata ( menurut beberapa kisah teman ).

Sementara dari pihak yang berkeluh kesah: “aku hidup untuk siapa sih? hidup kok garing sekali”. Perasaan sayang itupun, kadang masih bisa runtuh [Hanya] jika tidak diniati sebagai suatu keinginan membahagiakan pasangannya. Dalah bentuk yang lebih religi, seperti bentuk ibadah.
Atau bahkan keduanya bisa dikatakan : Kurang bisa saling melengkapi, kurang utuh, kurang gimana gitu dan lain sebagainya.

Berbeda kalau sudah memiliki momongan. Kedua pasangan hidup dengan membawa 1 tujuan. Meski beda prinsip, namun tanggung jawab memaksa keduanya harus seirama, dalam hal mengasuh dan membesarkan anak.

Mencari nafkah akan berasa punya nilai dan tujuan. Demi 1 benih yang bisa mengharumkan nama keluarga, makin termotivasi untuk kerja lembur.
Meskipun di setiap pekerjaan yang terselesaikan, terlihat sangat melelahkan, namun seiring kepulangan, kita akan disambut orang yang kita sayang. Seolah-olah perjuangan kita, tidaklah sia-sia untuk mereka. Rela berkorban untuk 1 tujuan jangka panjang yang disebut keluarga Sakinnah Mawaddah Warohmah.

Nah, tugas baru yang saya pelajari sebagai seorang Ayah, disini adalah: Menyeimbangkannya.

Alhamdulillah si Irma sudah besar diusianya yang mau 4 bulan, 06 Oktober nanti. Menjaga si-imah ini tetap nyaman, Namun disisi yang lain menjaga perasaan si istri agar jangan lekas uring-uringan.
Dan satu hal yang mengikat tersebut tak lain dan tak bukan adalah kekompakan. Karena dengan kekompakan inilah, Si bayi akan turut merasakan terangnya hidup meskipun badannya agak meriang.

Contoh kasus serupa terjadi beberapa minggu bulan lalu. Si-imah berhasil mendapatkan imunisasi DPT season kedua meskipun rada meronta-meronta. Karena tak seperti Vaksinasi pertamanya yang berjalan khidmat, Immah semakin hiperaktif saja di kenaikan usia pertamanya. Walhasil, kondisi imma langsung down disertai demam

Dengan sangat teliti, saya mengamati perkembangannya sepulang kerumah dengan terlebih dahulu membeli plester penurun demam, sirup paracetamol, kapas/kassa dan tak lupa sebilah Golok

Heran ya..ada serangkaian kata ganjil disana?
ok.ok… begini. Demi keperluan, ada detail alasan kenapa anda harus membeli beberapa peralatan seperti ini. Dan ini penjelasan

Hal yang perlu disiapkan dan di waspadai terkait Imunisasi

  1. Termometer digital : untuk mendeteksi Suhu bayi dengan akurat. Terkadang saya lebih menyukai termometer digital karena keakuratannya dibanding termometer biasa. Disamping segi harga yang relatif ekonomis
  2. Termometer biasa dan termometer digital
  3. Plester penurun demam, : ini wajib ada di kotak obat jika sewaktu-waktu muncul demam tanpa disadari oleh sebagian kaum hawa tanpa didampingi mertua
  4. Plester penurun demam. Jika dahinya kecil, plester sebaiknya di potong menjadi dua bagian
  5. Sirup Paracetamol : Sirup cair dengan campuran paracetamol guna menurunkan demam. Dosisnya diusahan sesuai dengan ajuran dokter per-mgnya. Kalau anda kurang yakin, diapotek obat juga disediakan sirup ini dengan bermacam takaran
  6. Sirup Paracetamol
  7. Kapas : Menghilangkan kerak putih di-lidah bayi Jika anak anda sering menyusui, kerak lemak susu sering menempel di-lidah. Membersihkannya cukup di lap dengan kasa steril. Kalau demam, lidahnya bisa keluh karena air liurnya bercampur dengan kuman. Usahakan, cukup dengan mengelap 1 kali, jangan dikerok!
  8. Alhohol : untuk membersihkan luka, baik juga untuk mesterilkan kasa
  9. Golok : Belilah golok yang tajam sehingga terlihat mengkilat usai diasah. Hanya dianjurkan jika anda merupakan keluarga depresi yang kesusahan dalam menghadapi pasangan yang geram. Cara agresif dalam mempersiapkan diri menghadapi istri yang kesetanan – Namun jika anda adalah orang tua yang memiliki selera humor tinggi dan sangat optimis, buat pemanis kata-kata saja. Jangan dipraktekkan!

Bagaimana cara mengatasi masa-masa menegangkan, jika imunisasi terbukti dapat mengakibatkan gejala demam?

Alhamdulillah, berikut ini adalah tips yang saya dan Istri lakukan dengan lebih dulu bertanya pada kerabat terdekat.

  1. Memasuki ruangan imunisasi. Usahakan 1 jam sebelumnya, anak anda menegak sirup paracetamol sesuai takaran. Hal demikian juga berlaku 1 jam sesudahnya.
  2. Setiba dirumah, lepas pakaiannya. Jika pada saat posisi anak tidur terlentang, lepas sarung tangan/ jangan digedong. Untuk kaus kaki sebaiknya tetap dipakai. Tapi jika pada saat tertentu kakinya terasa lembab, baru boleh di-pakaikan kembali dengan catatan telah diolesi dulu dengan minyak kayu putih.
  3. Pijit bekas suntikan vaksinasi dengan melapisinya terlebih dahulu dengan kapas yang telah dibasahi air hangat. lakukan secara berkala dalam 2,3 jam sekali
  4. Pantau terus suhu badan si bayi paling tidak 2 jam sekali. jika berada di atas angka 36.5 derajat, sebaiknya segera ambil plester kompres penurun demam
  5. Kalau posisi tidur terasa gusar/ gak mau tidur. Coba di gendong. Kalau tidak mau berhenti juga rewelnya, coba diayun. Kalau tidak mau tenang juga, panggil pasangan anda untuk menghibur. Entah itu beratraksi hula-hula menjadi badut, atau pasang mimik muka anda semirip mungkin dengan seekor makowa.

Ketika irma sudah mulai terlihat sehat dan berangsur-angsur turun demamnya. Rasa puas itu muncul ketika sudah berkumpul dalam dengan keheningan, meski agak lain.
Sambil merenung, Saya cuma tersenyum kecut jika melihat anak, saya dan Istri tertidur kecapaken. Ada rasa puas, tapi ada juga rasa bersalah.  Hanya pada saat tertentu bisa bijaksana, tapi disaat masa kritis tiba, sama-sama gak berdaya,,

Sumpah, menjadi bijaksana itu sulit,,,!

Yang muda boleh bangga menjadi pandai, Tapi untuk menjadi bijaksana dalam memikul sebuah tanggung jawab, itu butuh proses yang cukup lama.  Bijaksana tidak terhubung dengan seberapa tinggi nilai IP dan raport akademis. Tapi lebih ke “mind”,

Celakanya, saya baru menyadari bahwasanya pembelajaran seperti ini telah diterapkan oleh mereka yang hidup lebih dulu, lebih sederhana lagi cara berfikirnya seumur hidup. Lebih bersyukurnya lagi, selain mendapat wejangan dari orang tua, Support dari teman-teman dunia maya juga tak kalah menarik. Kalau dikaji lebih dalam, mungkin tulisan ini bisa anda share ke teman-keluarga-saudara anda yang lain..

Memang ada banyak rasa yang menuntut saya untuk terus termotivasi belajar.  Tapi harus saya akui, menjadi orang yang bijaksana sungguhan – bukan Bijaksini karbitan seperti di tweetkan netizer di sosial media itu butuh waktu, dan butuh kesabaran. Imunisasi dan peranan orang tua, adalah semacam Tanggung Jawab yang secara tidak sadar menyelimuti harapan orang tua. ketika anak kita , didera sakit.

Selain harus didampingi oleh mereka yang lebih tua, bertanggung jawab dengan tidak sekedar menjawab secara lesan, tapi harus berani mengangguk, melaksanakan sebuah tugas tanpa harus banyak protes. Itulah Titik penyempurnaannya

Salam rukun

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan