Reuni dalam Potret jingga Masa Lalu (Catatan yang tidak pernah terhapus)

Reuni dalam Potret jingga Masa Lalu (Catatan yang tidak pernah terhapus) | Sekelebat bayangan masa lalu kembali membingkai naluri. Setelah menerima Undangan tak resmi dari salah seorang teman SMP berupa sepotong sms, untuk ke-3 kalinya, saya harus kembali membaur dengan masa-masa saat masih hitam putih. Lebih tepatnya hitam putih sebuah era ketika saya masih berusia belasan tahun.

 

Dengan tinggi pupus jagung, namun hanya memiliki sejengkal impian konyol ingin menaklukkan impian orang dewasa, walaupun tengah menyadari bahwa tingginya usia tidak akan mampu mengusik kenangan sepanjang masa tersebut.

Bicara perihal kenangan sepanjang masa. Baik saya maupun siapa saja, pasti pernah mengalami masa- indah semasa hidupnya.

Jujur dalam hati, satu diantara ritual kehidupan ini, langkah seseorang ditentukan dengan apa yang mereka peroleh ketika masih muda. Dan hal yang paling berkesan itu terdapat ketika kita mengalami proses belajar di bangku SMP. Bekal itulah yang cukup untuk mendewasakan anak cucu kami agar terus berburu dan berguru kepada pengalaman.

SMP. Sebuah nama, banyak cerita

Ketika masih SMP, Saya dan teman-teman lain berkumpul menjadi satu disebuah area kelas, menimba ilmu. Banyak cerita lucu, ada pula sepenggal cerita jenaka. Mulai dari cerita Warkop DKI, hingga asmara cinta monyet, semuanya nampak begitu indah.

Biarpun kehidupan para penghuninya berlatar belakang masyarakat petani, namun dalam mempelajari hidup, kami sangat menghormati sebuah toleransi, apalagi jika ada penggalang dana untuk teman satu kelas yang sedang jatuh sakit. Alasannya juga masuk akal, agar kami bisa pulang lebih dini. $#@—0_o

 

Saya pernah Ingat Hal yang menggelikan di-mana 1 kelas 2E hampir tidak lulus ujian Cawu 1. Bukan karena kelas kami yang paling bodoh jika dibandingkan dengan kelas yang lain, namun karena sudah ada niat bersama agar selalu mencontek dalam suka maupun duka. Yang pintar harus segan berbagi dengan mereka yang telat mikir. Yang telat mikir-pun harus legawa jika dipakai tenaganya secara kasar sebagai buruh.

Bagi kami, Kuantitatif lebih dominan. Percuma jika kualitas hanya dimiliki satu orang saja, sementara potensi yang ada tidak dipergunakan untuk berbagi, tetap saja bagi kami,  dia lebih bodoh bagi yang lain.

Tidak ada yang sok-sokan pintar, tidak ada pula yang ingin menjadi benalu. Namun kesederhanaan dan keterbatasan hidup yang kami alami tak menjadikan kehilangan senyum dan enggan berbagi. Ini semata-mata dikorbankan dengan satu tujuan. Kami ingin lulus bersama, itu saja..

Reuni dalam Potret jingga Masa Lalu

Seperti sedia kala: Ada waktu di mana kami harus berdebat secara ideologi. Namun kali ini masih tersisih waktu untuk bercanda

Menjelang lulus, kami menyadari satu sama lain saling kehilangan. Satu diantara kami bersumpah bahwasanya kita akan bertemu lagi, berkumpul kembali meskipun kodrat kami nantinya berbeda dan wujud yang berbeda pula guna membina persahabatan ini hingga akhir.

Reuni SMP Hari ini

Hari ini, Janji tersebut terpenuhi. Menyatukan semua perbedaan dalam 1 korelasi.
Biarpun dahulu, predikat kami hanyalah sekumpulan anak kampung yang menentang angin, Alhamdulillah kebersamaan itu terwujud.

Sungguh, banyak perubahan yang terjadi di sana-sini

 

Dalam hal ini, kami sejengkal lebih maju dibanding orang kota berpendidikan yang piawai dengan banyak teori, kerap menjadikan toleransi sebagai kata-kata beragam alasan. Sementara kami telah lebih dahulu menjalankan toleransi melalui cara aneh namun sangat bermakna.

Reuni dalam Potret jingga Masa Lalu

aku hanya sekumpulan Energi yang tidak beraturan. Tanpa kalian, aku hanyalah debu yang bisa musnah kapan saja

Kami memang telah tumbuh dewasa, Tapi tatkala sudah bertemu dan berkumpul lagi melalui reuni, sejenak segala keluh-kesah, lenyap begitu cepat. Seolah kami datang dengan membawa satu tujuan, melupakan prinsip dan rasa ego masing-masing

Di rumah inilah kebersamaan itu bersemi kembali. Tak terkecuali hari itu.

 

Sidoarjo, 08 September 2013
Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan