Tak Ada Deskriminasi dalam Menulis, Namun hindarilah Miss Komunikasi

Sudah Hampir genap 3 tahun ini saya ngeblog, berkelakar bahwasanya ngeblog adalah sebuah proses untuk lebih mengenal watak diri sendiri, sekaligus menyesuaikan karakter kita dalam bergaul dengan sesama ” penghuni ” dunia maya.

Dulu, sewaktu ganteng, pertama kali posting tulisan ditahun 2009 (waktu masih menggunakan subdomain Blogger), saya belum berfikir sejauh mana tujuan utama menulis, kedepannya. Terlepas apakah nantinya Blog ini hanya menjadi sampah satelit, atau sekedar transitnya para promotor meramaikan kolom komentar dengan cukup mengucap kata ” nicepost gan!, membantu sekali gan, jangan lupa Kunbalnya ya !” , dan beberapa kalimat preketeg lainnya. Saya hanya bergeming dan membiarkan semuanya terjadi. Tanpa feecback, hening dan tidak peduli kecolongan pengunjung.

Tapi seiring berjalannya waktu, sikap yang demikian inilah yang ternyata membuat diri saya terdidik menjadi apatis, Atau lebih kecenya menjadi sosok blgger berjiwa pandir. Mungkin dari sedikit pengunjung yang hadir disini, sudah mengetahui apakah yang di maksud Blogger pandir itu bukan?

Blogger Pandir, Apa itu
Blogger pandir adalah Blogger yang cenderung diam dalam dunianya sendiri, enggan bergaul dan tentunya pemilik blog suka menjadikan sesuatu hal yang sepele sebagai bahan mendiskriminasi hal yang tidak penting.

Ironisnya, Jika diskriminasi tersebut sampai menyinggung hajat hidup orang lain, Jelas dimata publik, itu merupakan dilema. Bisa berkemungkinan berujung prahara, lantaran diskomunikasi yang disampaikan syarat akan masalah. Bulan tidak mungkin objek percontohan seperti pak Jonru kembali terulang, sehingga menyeret banyak penulis untuk berurusan dengan hukum / jeruji penjara.

Secara teknis saja, Saya yakin, bagi siapapun yang baru terjun ke dunia tulis menulis maya, singkat kata blogger, apapun platformnya, demikian adalah hal yang lumrah. Tapi akan lain ceritanya jika aktivitas tersebut sudah berjalan beberapa bulan kedepan dan seterusnya. Niscaya, inilah yang nantinya membuat kita sendiri akan merugi.

Tahun 2011, Alhamdulillah, Selain bertambah genteng dan sedap, pemikiran saya ikut bergeser dalam menemukan jati diri, Walaupun sedikit berbeda korelasi dengan guru besar menulis saya waktu itu.

Nah, Jika pembaca mengenal siapa Itu Blogger Kontemporer Erianto Anas, Ya Blogernas.
Itulah guru saya menulis secara online. Jangan heran jika nama Blog ini adalah buah inspirasi dari beliau juga. Beliau yang mengajarkan untuk tidak canggung menulis apapun itu metodenya.

Hitam Putihnya Saat Menulis Melawan Arus

Beliau mengajarkan juga tips mencari ide menulis. Bahkan jika diharuskan kencing berlari di lapangan sepakbola,ย  di saat genting dalam kondisi perang, buang hajat, ketahuan selingkuh maupun dalam situasi kepepet hendak bunuh diri dengan jalan terjun bebas dari gedung pencakar langit. inshaallah bagi saya, tips dari beliau ada benarnya juga. Mencari ide, dapat dilakukan kapan saja dan “ada-ada saja”.

Dan beliau-lah yang mengajarkan menulis dengan 2 frasa. tentang bagaimana membangun sebuah tulisan yang sehat cukup dengan menggunakan 2-3 frasa untuk bisa dibentuk menjadi satu tulisan utuh tanpa melebarkan topik utama.

Dan ada beberapa Quote yang menurut saya menarik, dan yang paling mahsyur saat itu:

Tulislah sesuatu yang menurutmu bagus. Tulislah sesuatu berdasarkan otak kiri, jangan otak kanan. Otak kanan hanya memfilter sebagian hasil akhirnya nanti. Jangan biarkan otak kiri bercampur dengan otak kanan apabila otak kiri belum selesai bekerja. (saya bingung, ini quote pak jonru, apa blogernas sih ๐Ÿ™



Inilah hal yang saya suka, walaupun jujur di dalam hati, keyakinan kami berseberangan lantaran beliau seorang atheis murni. Sedangkan saya, cuma islam KTP yang ingin bertransformasi menjadi lelaki setengah baik-baik.
Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Menghujat beliau, belum tentu membuat pribadi saya menjadi makin suci. Alangkah senangnya, karena kami bersahabat. Takkan terlupa jasa-jasa Om anas.

Tanpa sadar, tanpa perlu menyebar-kan kebencian, melalui petunjuk Allah-lah dengan meyakini di pertemukannya Blogermie dan Blogernas secara live di Platform Blogger, saya belajar untuk makin mengenal Islam yang Kaffah itu menurut versi saya sendiri.
(Terima kasih Om anas. Ter-iring doa untuk anak dan istri beserta keluarga om dirumah. Ayo om semangat lagi bersama Mbak esther, bersama Om Traktor juga ๐Ÿ™‚ )

Makin berganti tahun, tulisan Blogernas sedikit-demi sedikit hilang di peredaran. selain Atheisnya makin kuat dan deskriminasi menulis yang tersaji makin menyudutkan suatu agama. mengajarkan suatu hal yang menurut saya tidak lazim, Blognya makin tidak terkontrol dengan unsur spamming dan Iklan.
Sungguh saya menyayangkan peristiwa yang terjadi tersebut. Namun tidak lantas membenci beliau. Karena bagi saya, yang saya dapat dari beliau sudah sangat bermanfaat sekali dalam dunia Jurnalistik. Tentunya, terdapat nilai tambah berupa makin terdorongnya Blogermie yang tambah ganteng ini untuk mengenal Budaya tauhid untuk terus saya gali kajiannya di ranah Offline.

Semendiang Blogernas punah dibasmi Google, saya seperti kehilangan sosok “alat Bantu baca”. Puji syukurnya, saya malah berkenalan dengan mas Traktor lubis di Kompasiana. Disinilah benih cinta tumbuh… Seperti bunga tulip di Belanda

Saya sering berdiskusi melalui PM perihal gaya kepenulisan beliau yang kocak, kasar, namun mengena. Sampai-sampai Admin Kompasiana “menganak-emaskan Om traktir dengan menjargorkan beberapa artikelnya sebagai headline.

Masih satu kerabat dengan Blogernas. Biarpun bagi saya, keduanya memiliki insting menulis yang “wah” dari bakat ilmiah yang tergolong tak biasa. Cuma bedanya, Om traktor lebih Guanteng..teng. Religius dengan kepenulisan riwayat kebudhisannya (paling tidak, Mm traktor punya keyakinan), dan tidak cenderung se-Tendensius Blogernas. Nilai 100+ untuk Traktor. ( ” OM anas gak boleh Manyun lho ya, ntar tak kesih permen deh ๐Ÿ™‚ ‘ )

Entah kenapa beberapa bulan kemudian, saya tidak menjumpai tulisan om Traktor terbit di Kompasiana dan blog pribadinya.
Konon isu berkembang bahwasanya tulisan Traktor Lubis dibredel Admin kompasiana karena ketahuan mencontek. Dan buruknya, artikel yang kebanyakan beredar, terlalu mendiskrimanasi umat budha. Lagi-lagi hal yang membuat saya agak sedih juga. Nama agama dibawa-bawa. Namun saya percaya, kematangan seseorang dalam menganalogikan seni berfikir ditengah beranjaknya usia membuat saya tertarik menjadi penganalisa dan pendoa.

Menulis dengan memojokkan isu SARA di Suatu negara yang majemuk = Deskriminasi ?

Pertemanan dengan Om traktor sebagai fans, membuat saya mengenal istilah-istilah baru. Terutama Ajaran Tauhid :TRI DARMA. Subhanallah.

Terima kasih pula kepada Om traktor, saya memahami bahwa anda orang baik. Tanpa berkelit dari keadaan itu, saya ingin anda mengetahui kalau ketulusan anda sudah membuktikan bagi saya bahwa anda tidak se-munafik itu. Anda benar-benar religius. Sumpah demi Allah Blogermie bakal disamber Gledek. Anda hanya (sepertinya) kurang percaya diri saja ๐Ÿ™

Dan lagi-lagi saya harus kehilangan teman, karena dirinya lebih memilih gulung tikar, menumbangkan diri menjadi florist. Namun timbul inisiasi untuk menghubungi beliau lewat Email. Saking penasarannya dengan alasan apa yang memotivasi beliau untuk berhenti menulis, yang menurut saya agak kurang adil. Dan dibalik motif beliau terlalu memaksa mendiskriminasi agamanya sendiri, saya memiliki ribuan pertanyaan untuk itu.

Hanya kalimat terakhir yang lupa-lupa ingat sewaktu email-emailan, Namun kurang lebihnya beliau seperti ini (dengan sedikit sentuhan konspirasi hati).

“Tak ada deskriminasi dalam menulis Mas Heru, yang ada hanya kita yang cendurung kaku miss komunikasi, kurang pemahaman, Egois pula.
Entah dengan media narasi, referensi maupun kurangnya interaksi, kurangnya diskusi yang kuat untuk kepentingan argumentasi.

Menjustifikasi sebuah informasi tanpa mau memfilteresasi terlebih dahulu sama saja menunjukkan stupitisasi sendiri. Mas heru kan tahu, cara menulis seseorang sudah menunjukkan karakternya. Dan saya sangat menyukai apa yang telah terjadi dalam diri saya,”

Letak kesalahan tulisan Deskriminatif, terdapat pada penyajiannya atau cara kita menangkapnya ?

Jadi bisa dibaratkan begini. Jika konsumen menyukai hidangan soto ayam, dan ingin mendemostarisikan kenikmatan kuliner ayam, maka topik yang dibawa harus soto ayam, jangan malah kemudian si konsumen di beri pembahasan Soto babat.
Om traktor sudah lebih dulu tahu, apa yang bisa membuatnya nyaman dengan dirinya. Dengan gaya kepenulisannya, tahun ketika masih eksis ngeblog, banyak yang mengalami krisis iman. Yang dituliskan Om traktor, mungkin lebih dikaji menurut versi yang lebih dalam lagi, tanpa ada keniatan mensyirikkan siapapun.

Tanpa menjustifikasi agama manapun, tapi yang ada, para pembacanya saja yang terkurung dan tergiring dengan pola pikirnya sendiri. terpancing untuk membenci, heboh dsb. Bagi yang tertawa keras setelah mengunjungi blog beliau, berarti bisa jadi, dialah yang mengalami krisis takwa yang paling parah. Itulah makna yang saya tangkap dari tulisan-tulisan beliau.

Di luar konteks dan kemampuannya menganalogi sesuatu, mungkin benarnya traktor adalah versi “bajakan” yang tidak orang lain ketahui sebagai sebuah kebaikan. Karena beliau telah meriset apa yang dia tulis sebelumnya, merangkumnya. Namun jeli yang demikian, yang kemudian membuat om traktor ( mungkin ) malah terjebak. Kerap mengabaikan sebuah etika menulis itu sendiri.

Tapi bagaimanapun juga, pengalaman beliau telah mengajarkan: Selama apa yang kita sampaikan itu tersalurkan dengan benar, tinggal mencari celah keharmonisannya menempatkan diri saja dengan pembaca. Jangan sampai timbul Miss Kommunikasi.
Andaikata-pun terjadi kekeliruan, melakukan Revisi adalah mutlak.

Kalau Om traktor terbukti bukan orang baik dan cacat iman, tidak mungkin beliau malah dengan rendah hati mengingatkan saya dengan kata bijak yang panjangnya kelewat melar seperti gerbong kereta api jurusan Surabaya-Jogjakarta, seperti yang sudah tertulis di atas bukan?

Sumber gambar : Pemanis Gambar pribadi

“Kalau salah argumen, salah referensi ya celakanya penulis”. Imbuhnya

Jangan pernah memblame tulisan, Tulisan adalah mahakarya dan buah yang masak dari pemikiran penulis atas apa yang menimpa dan yang dikajinya sendiri. Sebab pengalaman seseorang, ibarat guru. tidak selalu bisa dinggap benar dan ditiru.


Kesimpulan

Nah. Jika dikembalikan ke topik judul ini, sebenar-benarnya konsep menulis itu, Kurang lebihnya sama dengan yang sudah digagas oleh 2 Blogger Legendaris diatas. Entah menulis di buku, maupun menulis secara online.

Kita dituntut lebih proaktif dengan menguasai situasi, menguasai bahan, entah dalam bentuk pengalaman, lisan,yang kemudian digabung berwujud tulisan. Jika nantinya menangkap interaksi positif, giliran penulis untuk menjalin hubungan tanpa statusiasi yang demikian rumit. Entah untuk tujuan Blogwalking, Berkawan , pedekate, menikah dan berkembang biak. ๐Ÿ˜€

Saya menulis ini bukan menjembatani agar pembaca senantiasa menulis secara sistematis. Karena tidak ada aliran sekte menulis dengan konsep yang demikian, kecuali menulis dengan tujuan resmi, atau demi sebuah kepentingan dinas, proposal, pemerintahan, instansi dsb.
Sekali lagi, Kembali ke basic dan karakter anda sendiri. Kembali kepada tujuan anda menulis. Penyegaran atau istilah ventilasi yang diutarakan Pakde-Silsilah ( Sisi Hidupku WordPress [dot] com ). Itu benar adanya.



Menulis melawan arus memang unik, tapi kadang kala jika lalai menguasai pembahasan sendiri secara kontekstual dan kaidah bertata bahasa yang baik secara emosional dan tingkatan spiritual yang cukup, bisa celaka akibatnya. Sehingga jangan salahkan tulisannya jika di kemudian hari tulisan itu kemudian balik menyerang penulisnya, bak sebuah Bumerang.

Penulis Bijaksini pun, mungkin tahu bagaimana etika memanjakan para pengunjungnya. Dalam hal ini pembaca dan pengikutnya. Karena bagi penulis, Pembaca adalah pembeli setia, dan pembeli, tahu betul apa bacaan yang cocok dengan jiwa mereka.

Sebagusnya-pun kalau bisa, Tulisan juga tak boleh mengenyampingkan arti kesederhanaan yang kita perdalam menurut versi kita sendiri. Menulis untuk reward dan mencari uang memang menyenangkan. Namun jangan di jadikan satu-satunya alasan bahwa detik ini juga, anda tak mau menulis lantaran tidak ada pemasukan.

Ketika menulis, secara pribadi dan nyata, ada harapan membuncah bagi saya untuk merindukan seseorang. Saya senantiasa beranda-andai bahwa Kanjeng nabi Muhammad SAW-lah satu-satunya orang yang ( semoga saja ), berkenan membaca tulisan saya. Semoga engkau selalu dalam RahmatNya ..Amiin

Jika dikembangkan lagi dalam skala besar, dalam hal ini Indonesia. Kalau mau, sebenarnya deskiriminasi menulis, apapun bidangnya, itu hampir tidak ada. Dan kecil peluangnya menjadi sebuah permasalahan besar.

Hanya saja, yang menjadi trending topik sekarang ini ialah deskriminasi kecil yang dihiasi cara komunikasi masyarakat yang suka latah dan salah kaprah. Dibumbui berita Hoax lagi. Lalu disebarkan dan dibesar-besarkan hingga meleduk seperti gas LPG 3 kilo.

Gaya deskriminasi ini yang sebenarnya patut dihindari. kalau gak suka, selagi tidak mengganggu privacy, dan tidak mengganggu ketentraman dapur mama. Biarin sajah.

SO sobat blogger, saya memang manusiwa tidak sempurna 10000 % , tapi jika 1 artikel di manapun yang pernah saya kunjungi (meskipun Silent), dan terbukti mampu membuat pembacanya tak berhenti berkedip di paragaraf yang terakhir, hingga tuntas. Inshaallah, itu tandanya tulisan tersebut layak rekomendasi kerana tidak mengandung unsur miss komunikasi didalamnya….

Salam Rukunisasi ๐Ÿ˜€

Artikel Terkait :

1 Comment

Tinggalkan Balasan