Antara Aku dan Lontong Mie

Melihat bentuknya yang melengkung-melengkung tidak beraturan seperti cacing kremi, sejenak orang berfikir bahwa hanya inilah olahan karbo menjijikkan yang pernah ada. Terkadang jika terlalu matang merebusnya, teksturnya makin tak sedap lagi untuk dipandang. Lembek seperti bubur sagu.
Jangankan untuk dimakan, memandangnya saja pasti membuatnya eneg, Walhasil muntaber jika sampai sahabat nekat mengkonsumsinya.

Pun begitu, sebagai makananf avorit kesukaan Saya sejak kecil. Saya kerap meracik Mie mentah (bukan mie instan) tersebut dengan penyajian yang berbeda-beda, baik digoreng maupun dijadikan Mie Kuah.

Terkadang mengkombinasikannya dengan aneka sayuran seperti Tauge, Kubis, bunga kol, maupun wortel.
Tak kunjung lain halnya memasukkan bumbu-bumbu aneh yang kadang membuat istri saya kewalahan menyiapkan kotak P3K. Menerka-nerka sendiri bumbu-bumbu apa yang cocok di lidah tanpa buru-buru sakit perut…

Terlalu seringnya publik membuat iklan Mie, khususnya Mie Instan, membuat apriori miring bahwa mie instan seperti masakan cepat saji yang harus dihindari, Walaupun saya sendiri menilai Asumsi tersebut terlalu berlebihan. Justru dari “berlebihan” itulah seharusnya kita lebih waspada, apakah prosedur mengolah Mie-nya yang selama ini kita lakukan sudah benar ?

Jujur saja, Mungkin orang lain tak menyangka bahwa hidangan ini sangat menarik dari penyajiaannya. Ketika di Platting bersama Lontong, Indra pengecap pasti tak kan bisa membohongi.
Diolah seperti apapun juga, Mie tetap memiliki peringkat tersendiri bagi penikmat kuliner seperti saya.

Hanya untuk kali ini saja, saya kehabisan Stock Mie mentah dan dengan terpaksa membeli Bakmie di penjualnya langsung.
Di samping karena tidak menyukai jeroan, terdapat banyak MSG dan Saus kemerahan itu, saya takut ada campuran bahan-bahan lain yang dapat merusak ketampanan saya :p. Termasuk jika sampai nantinya mempengaruhi pertumbuhan Uban

Bakmie Vs Lontong Mie

Mie Pangsit , Bukan Lontong Mie

Leave a Comment