Karena Memotret 1 Frame, Lebih Berkesan

Tegar, Seolah buru-buru banget

Setiap orang, pasti memiliki kriteria sendiri dengan hal apa saja yang mereka gemari. Melakukan apa saja harus didahului dengan konsep, teliti dan sangat sistematis.

Tapi jika pertimbangan tersebut hanya dijadikan alasan untuk tidak memotret, maka kita akan melewatkan banyak hal manis yang jarang terjadi seumur hidup. Kita hanya membiarkannya melintas di depan mata tanpa sanggup mengenangnya…kita difasilitasi karunia, namun tidak menggunakannya…untuk apa? ya untuk menikmati hal yang bagus…ini baru 1 jenis panca indra, sementara masih banyak lagi karunia dari Allah swt yang lain, yang sering lupa untuk kita syukuri.

Bukan hanya dalam melakukan aktivitas menulis, Saya adalah orang yang terlalu pemikir jika hendak memotret. Dulu sekali ketika saya masih rada genteng dan banyak pacar :D,  Saya beranggapan kalau moment memotret harus disejajarkan dengan posisi objek dan jenis panorama apa yang hendak di potret. Sehingga seringkali jika saya betul-betul berniat memotret bagus, saya harus berburu ke-beberapa tempat unik seperti kebun binatang, konser, karnaval, pesisir pantai, maupun keramaian hanya untuk mendapatkan jepretan yang pualiing indah.

Semenjak saat itu, dimanapun berada, saya selalu selalu berusaha membawa kamera saku ketika bepergian. Jika nasib tidak beruntung, saya menggunakan kamera ponsel yang umum saya bawa. Dan hasilnya terbilang lumayan..Jelek!.

 

Sampai dirumah, saya duduk dan membuka kembali hasil jepretan saya. Bahkan benar-benar berpikir akan menghapus file dari kamera atau membuang beberapa frame foto ke Recycle Bin. Sayang, akhirnya saya  teledor dan berhenti menghapusi sebagian frame-frame yang menurut saya kurang bagus.
Saya merasa tertipu. Biarpun jelek, foto-foto tersebut mewakili sebuah keadaan yang telah terbingkai menjadi sebuah kejadian. Saya merasa foto-foto itu juga bernilai.

 

Mungkin frame-frame tersebut hanya berisi orang yang sedang duduk, ibu yang menggendong bayi, gerombolan orang yang sedang mengantri cimo, atau seorang nenek yang sedang mengasong jajanannya.

Sepintas tampak biasa namun ternyata cukup memiliki arti dan cerita.

Cimol: penggagas jajanan baso semua kalangan. Cakue juga dijadikan selingan jika pentolnya bapak mulai habis

 

Karena Memotret 1 frame, lebih berkesan

 

laris manis

1 kripiknya sudah laku terjual pagi ini

Foto candid adalah yang paling saya gemari, Setiap potret Human Interest seperti foto candid memiliki banyak nilai .
Yang murni menjadi penilaian adalah ekspresinya. Wajahnya yang manis, bisa juga kegiatan dan interaksi yang sedang dilakukan di lingkungan sekitar obyek. Yang tidak bisa, belum tentu tidak sempurna. Yang tidak biasa, dengan perpaduan aspek tersebut, pembaca bisa melihatnya tanpa mengada-ada. Kalau mengambil moment yang demikian, Resikonya cuma satu. Jika enggak diolok edan, paling diteriaki maling lantaran dicurigai mencuri ekspresi seseorang secara diam-diam.

 

Hayo mau tak gendong kemana-mana 😀

Memotret yang demikian bisa dikatakan tidak perlu berpikir realistis. Apalagi sampai njelimet. Disaat hati tidak mood, Orang yang malas pun bisa memotret objek apapun yang tersaji di depan mata. Sering kali jika saya sudah tambang ide memotret, saya mengamati apa saja yang melintas tanpa berfikir panjang.

Nilai tambah yang saya dapat dengan memotret dengan cara seperti ini adalah melatih kesabaran, dan juga belajar percaya diri jika berhadapan dengan orang yang mengamati secara tiba-tiba. Orang didekat kita mungkin memiliki pengamatan yang mencerminkan jika si tukang potret adalah orang gila. Tapi sekali lagi demi tercipta sebuah moment, siapa yang peduli.

Ketika momen didapatkan dengan tepat, bukan berarti shutter harus ditekan saat itu juga. Ada jeda sabar untuk memutuskan kapan momen puncaknya. Namun yang perlu dicatat, Human Interesting membuat orang tidak akan kehilangan selera untuk memotret. Bahkan jika memotret itu memerlukan ide, maka memotret Human Interest adalah keputusan yang menarik.

Di manapun kita hijrah, kita tidak pernah tahu peristiwa apa yang akan kita temui. Kita tidak bisa memilih kejadian apa yang akan tersaji. Tapi itulah yang selama ini saya lakoni untuk menghiasi hidup agar tidak jenuh. Karena dengan memotret, selalu menghadirkan sebuah cerita segar dan syarat makna.

Tinggalkan Balasan