Selamat Jalan Guruku, Selamat Tinggal Masa Lalu

Hari berputar begitu cepat. Seolah kemarin, di pagi hari…bahagia itu datang bersama keluarga kami setelah lama tak bertamasya ke Taman kota.

Berselang beberapa jam selanjutnya, kebahagiaan itu sirna menjadi kesedihan tatkala sebuah pesan singkat masuk ke Hp dengan bunyi:

Pesan bergidik dalam hati. Antara duka, tanda tanya, dan segenap rasa tak percaya

 

Dengan membaca pesan elektronik itu, sama halnya membuka raport merah yang pernah dialami ketika duduk di bangku sekolah sejak saya dinyatakan resmi menjadi warga SLTPN 2 Sukodono.

 

Mimbar Bahauddin, Guru mata pelajaran Sejarah yang pernah membuat si-cupu ini berdiri di lorong kelas 1 jam penuh lantaran tak hafal Sumpah Gajahmada. Guru yang pernah membuat saya ditertawakan teman-teman hanya karena gaduh dikelas, dan Guru satu-satunya yang hampir tidak pernah memberikan hukuman fisik biarpun terlampau seringnya si murid lupa mengerjakan PR.

 

Kerinduan kepada beliau kembali teringat ketika saya bertandang ke rumah duka. Melalui salah seorang teman yang kebetulan juga masih satu tetangga dengan almarhum, Ari Firdiyanti bercerita kronologi beliau wafat. Tanpa menderita sakit apapun, tanpa racun rokok, dan tanpa mengeluh.

Yah, Beliau menghembuskan nafas terakhirnya tepat jam 4.30 pagi, usai sholat shubuh. Almarhum kembali ke kamar dengan tujuan melanjutkan tidurnya. Ini juga diperkuat oleh pengakuan Istri yang tak seperti kebiasaan almarhum usai Sholat. Almarhum langsung beres-beres rumah maupun menyiapkan perlengkapannya sendiri untuk berangkat kerja(Maklum, profesi guru yang harus dituntut berangkat lebih pagi)..Tapi sebelum almarhum pergi untuk selamanya, Almarhum hanya berpesan:

Buk!..Aku capek..tolong nanti gak usah dibangunin.

Di luar dugaan, Si-istri tak menyangka itulah kata-kata terakhir sang suami kepada dirinya.

Ibu paruh baya itu dan teman saya Ari, kian kuat berpelukan. Sesenggukan berlinang kesedihan. Walaupun dalam hati ingin menangis pula, tapi saya tak ingin air mata itu tumpah. Hanya sedikit kekecewaan saya terhadap Ari yang sampai saat ini belum terjawab.

Kenapa baru SMSnya saya terima sore itu?.
Apa karena sifat wanita yang demikian tertutup, atau Hp saya yang soak layanan SMSnya?

Dunia ini sungguh penuh keraguan dan teka-teki….

***
Pak mimbar meninggal di usia 45 tahun, terpaut lebih muda 2 tahun dari usia sang istri. Namun itu bukan menjadi batu sandungan bahwasanya almarhum meninggal dengan keadaan Khusnul Khotimah. Dalam keadaan genting malaikat maut datang, almarhum tidak ingin merepotkan orang di sekelilingnya, walaupun sang istri tengah mengakui bahwa almarhum memang seorang perokok berat seperti saya.

Dibalik takdir tuhan, manusia tidak akan tahu pastinya kapan ajal itu menjemput. Tapi saya yakin semendiang kepergiannya, beliau telah banyak berbuat baik kepada negeri ini. Sebagai seorang tokoh pahlawan tanda jasa dengan diliputi Sosok penyabar yang menghias hidupnya.

Melalui kedatanganku yang terlambat kemarin, tersisip surat Al-fatihah dan harapan besar kepadamu. Semoga Amal ibadah yang telah engkau berikan kepada kami…dengan segala tulus-ikhlasmu mengajar semasa hidup, akan diganjar kebaikan oleh Allah SWT serta memperoleh syafa’at Rasulullah SAW…Amiiin

 

Guru dengan gelarnya pahlawan tanpa tanda jasa, memang layak disandang. Guru selalu menjadi tauladan bagi para alumni muridnya yang bandel, khususnya saya.

Selamat jalan Pak Mimbar. Sang guru Sejarah

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan