Si “Endel”, Anggota Jayus Keluarga kami

Umurnya belum genap 5 bulan, tapi kehadiran bayi mungil ini berhasil membuat orang–orang di sekelilingnya menjadi Hansip semalaman. Dengan terpaksa dan memaksa, membuat kedua orang tuanya terjaga hanya demi mendapatkan simpatinya.

“Aktivitasnya” yang terkadang tidak menentu namun pasti, membuat orang di sekitarnya kalap.

Merengek, rewel, minta susu, ganti popoknya yang basah hingga meneriaki kami seperti maling. Seakan tiada harap kesendiriannya terbuang tanpa harus keasyikan ngobrol.

Subhanallah… Astagfirullah, padahal dia sendiri belum fasih gaya bicaranya. Semua permintaan diungkap melalui naluri universalnya yang spektakuler dan spontan mengagetkan kami. Yakni tangisan.

Si Endel, mengabadikan julukan yang demikian. Biarpun asal-asalan, nama panggilan ini menjadi kotribusi eyangnya untuk ikut-ikutan panik jika moment-mement kadang sangat tidak pas.

Si Endel, semalaman berhasil membuat saya beserta istri terjaga. Dalam beberapa jam, saya harus merelakan netbook menyala hingga pagi hari. Dan itu artinya, Si-endel juga sukses membuat mata ini berbuih dan pedas sampai sekarang.

Bayangkan saja, dari kedatangan saya kemarin hingga pagi menjelang, si kecil itu tak jua memejamkan matanya. Bahkan tengah malam hingga dini hari, bukannya tenang, si endel malah semakin aktif. Dan sepanjang itu pula ada-ada saja “tingkah polahnya”.

Entah berapa kali dalam ingatan, saya merebus air demi sebotol susu untuknya. Entah berapa kali popoknya diganti, entah berapa kali pula Ibunya si-endel terus “meracau” seperti orang gila tengah malam, seolah berusaha mengajaknya berbincang agar di tenang. Selama itu pula saya baru menyaksikan bagaimana tanggung jawab seorang ibu itu menyediakan kebutuhan si endel ini, Anak pertama kami.

Demi masa, Saya dibuat terpingkal dengan tingkahnya. Bahkan ketika menangis pun dia tetap LUCU. Si Endel itu sungguh lugu. Jauh lebih lucu ketimbang pengalaman bapaknya dulu ketika menggombali ekspresi sang ibu.

Gayanya yang cenderung ekstrem waktu menguap, sampai yang terakhir saya lihat si Endel balapan liar dengan air ludahnya yang berleleran. Berusaha juga ketika kain selimut yang membalut tubuhnya, dia lepaskan sendiri. Tubuhnya yang kecil meliuk-liuk, diiringi rengekan seolah berkata :


Emaaaakk, diapakno ae aqhuwwww iki !!!!”.

Belum lagi kalau dia sedang rewel minta susu. Karena terlalu seringnya minta susu, ada kalanya ibu tak langsung memberinya susu. Namun kalau sudah begini, aksinya pun kembali mengundang tawa. Si Endel itu mengenyot tangannya sendiri dan memperlakukannya seolah itu dot susu miliknya. Bukan hanya tangannya saja, jari kelingking saya pun sempat disangkanya botol susu.

Saat saya menulis ini, saya cuma bisa tertegun dan sangat-sangat letih. Saya bersyukur bisa posting tulisan, sementara dipihak lain, Beruntung neneknya, masih sudi memandikan si Endel. Dia sekarang diramut oleh wanita terampil memijat bayi dan membuat ramuan-ramuan tradisional Jawa untuk dioleskan ke tubuh. Alhasil tubuh Si Endel pagi ini beraroma jamu.

Si Endel, bayi perempuan, anggota baru keluarga kami yang menurut saya paling jayus. Disamping si Endel ini menjadi maskot ibu saya, keberadaannya mengesahkan status saya sebagai seorang bapak, dicelah yang lain seolah bertelepati dan memberikan saya tanggung jawab baru sebagai seorang……………Jooooongos!

Si Endel. Irma Herliana. Anggota Jayus Keluarga kami

Leave a Comment