Wasiat Bijak Paman Gober: “Nol Rupiah lebih baik dari Minus”

Ketika Berangkat Shift sore. Sekitar pukul 13.32 tadi saya bertemu dengan seorang kakek berusia kurang lebih 59 tahun. Didampingi 2 cucu laki-lakinya yang berusia kisaran 5 dan 7 tahun, kakek tua tersebut tampak kewalahan melihat tingkah kedua cucunya tersebut.

Diawali cekcok segelas susu kemasan bermerek, mereka berebut recehan yang diberikan kakeknya itu. Dilemparkannya uang receh 500 oleh 2 bocah itu kemuka kakek. Memang belum sempat mencederai wajah si kakek, namun kehebohan yang ada malah menarik perhatian pasien di sebelahnya, hingga koin receh itu berakhir menghantam lantai dengan cukup keras.

Terhening sejenak, saya berusaha memunguti uang receh yang berhamburan tersebut dan mengembalikannya ke kakek. Terlihat keluhbeliau  menyaksikan kejadian itu, sementara  kakek berulang kali mengusap dada mengelukan perangai 2 cucunya yang bercita-cita menjadi tentara.

Sambil menyodorkan bantuan seadanya, saya berbincang sejenak dengan beliau:

Saya: “Ada apa kek, ada yang bisa saya bantu?”
Kakek: “Oh, terima kasih mas, mohon maaf sudah merepoti”

Saya: “ndak papa kok kek, saya juga pernah sableng seperti mereka, kakek mau berobat ya”

Kakek: “ya, saya mau ke nebus resep dari poli diabet, mas tahu dimana letaknya apotik purnaanggota?”

Saya:“mari saya antar kek”

Disebuah bangku panjang ruang tunggu, kami meneruskan perbincangan yang sempat terputus cukup lama. Jari telunjuknya mengarah ke cucu tertuanya.

Kakek: “Yang itu namanya raihan mas, yang kecil namanya dimas’.
Beginilah mas, putu-ku ora iso di ajak kompromi. Bertengkar beli susu, uangnya kurang. Liat apa saja pasti dibanting”

“Kalau sudah bermain, Memang sufatnya sama-sama keras, kadang tidak pernah akur.
Cuma terkadang jika sudah membahas uang, merasa kurang, sukanya membuang. Itu yang tidak saya suka. Masih kecil saja sudah begini, bagaimana kelak mau jadi dewasa dan bermimpi menjadi pengusaha”

Tak sanggup berkata apa-apa, saya cuma tertunduk pertanda malu. Karena pada suatu masa, saya pernah mengalami nakalnya menjadi seorang bocah.

Dalam hati yang terdalam, saya cuma bisa mengeluh.  Alangkah beruntungnya anak jaman sekarang. Segala macam kebutuhan masih tercukupi, bahkan merasa tetap kurang. Kalau sudah mubazir, baru merasa perlu.

***

Terlepas apakah cerita yang dibagikan oleh kakek itu “benar” atau tidak, saya berusaha memetik hikmah. Hikmah bahwa seharusnya kita bisa belajar untuk lebih menghargai uang, seberapapun nominalnya.

 

Dan memang,  Indonesia sendiri adalah negara yang menghormati apa itu konsep sederhana, boleh jadi kakek ini pernah mengalami masa-masa sulit di zamannya. Masa imana antara makan atau tidak besok hari, di saat kebanyakan orang di luar sana tengah angkuh dengan apa yang mereka lahap demi eksistensi Instagram. Disini, saya malah kembali teringat Komik Paman Gober yang menjadi 1 diantara komik lama yang pernah sewaktu kecil saya baca.

Melihat perangai paman gober yang memang notabennya orang kikir sudah pasti matanya berubah hijau tatkala melihat uang. Uang receh saja langung dipungut. Melihat gudang uangnya semakin lama, semakin bertumpuk dengan uang. Bahkan dengan merasa yang paling kaya dengan hasil kerja kerasnya sendiri, mandi sauna saja perlu ditimbun uang. wkwkwkwkwkw….

Paman Gober: sumber gambar Sukague(dot)com

Sejenak melihat kemakmuran yang dialami paman gober dengan upayanya, jika mau ambil sisi positifnya,  siapapun  pasti berkeinginan memiliki jiwa pengusaha seperti Paman Gober. Namun yang tak kalah penting untuk di garis bawahi, akan lebih baik jika kita juga mempelajari etika berharga dalam menghormati uang, berapapun nominalnya.

Dengan cara memanfaatkan dengan benar setiap rupiah yang kita dapatkan dari berbisnis, kita akan mengetahui bagaimana menghadapi badai krisis tanpa harus berkelit dari keadaan itu.

Roda perputaran zaman selalu berubah, kadang bisa naik, kadang bisa rendah.  Ada usaha yang boleh dikata ramai, tapi yang paling sering dialami adalah mengeluh dengan masa-masa paceklik yang bisa setiap saat datang mendera.

Orang bisa saja berubah bangga seketika. Mengatas namakan Strata dan ingin memaksa diri agar terlihat kaya raya. Dengan terjerat hutang yang sangat besar, Maka sebenarnya hidup ini lebih terhina dari seorang pengemis.

Namun apabila pengemis memiliki saldo walaupun bersilisih nol rupiah, sementara saldo kita minus. Di saat itulah kita menyadari arti bersyukur dengan 500 perak dikantong celana.

Salam rukun (waktunya pulang)

Tinggalkan Balasan