Indahnya Fajar di Ujung Desa

Di pintu depan pintu rumah ini, seberkas cahaya jingga berusaha menerobos masuk. Polos, punya khas, dan seringkali mengundang rasa takjub.

Dalam keheningan yang bercampur dengan semerbak aroma khas bunga rumput, saya bergegas masuk kamar, menyalakan lampu, meraih sesuatu yang terbungkus dalam tas mini…mengambil isinya dan bergegas kembali ke tempat semula.

Di halaman rumah, sembari menghidupkan kamera saku, tanpa mesti berisik mengganggu aktivitas alam setempat, saya melemparkan pandangan jauh, lurus ke depan. Membetulkan posisi saya yang setengah badan, mengumpulkan cahaya…dengan mengakhirinya dengan sikap sempurna. Mengarahkan moncong kamera untuk beberapa saat kemudian,

Satu…dua…tiga….jepret!!!.

Sejenak saya menyudahi aktivitas memotret. Hasilnya lumayan hancur jika melihat tampilan foto di LCDnya yang buram dan terdapat hamparan noise.
memang beginilah hasil jepretan kamera saku. Ibarat skor judi bola, hasilnya tak sebanding meskipun berselisih 20 : 1.

Spektrum cahaya, antara biru muda…menimpa jingga dan merah. Semuanya tampil tak beraturan namun sangat terlihat jelas. Bertumpuk dibawahnya, ada warna kuning tegas berkolaborasi dengan warna putih dan gelap…cenderung siluet.

Semua warna itu berada tepat di atas langit sidodadi pagi ini. Dibawahnya mulai berserakan manusia-manusia aktif penggerak roda kehidupan. Rumah-rumah, pepohononan dan sejumlah bangunan lainnya seketika gelap membentuk sebuah komposisi yang cukup menarik.

Untuk beberapa saat, mata berhenti dari banyak vokal. Berhenti berkedip, terpana telanjang menatap hamparan mega di depan. Agak menengadahkan kepala ke atas, saya melempar senyum untuk fajar. Subhan’Allah, indahnya.

Tinggalkan Balasan