Dibalik Nama @dhahana_adi Untuk 1 #SurabayaPunyaCerita

Buku itu adalah Artefak sepanjang masa. Jika kalian merasa biografi itu penting diabadikan sebagai kenangan sebelum meninggal, Berpetualang, berkarya,kemudian Eksplor-lah ke dalam 1 bentuk buku.

Quote legendaris inilah yang kemarin sempat terucap Oleh Mas Dhahana Adi.

 

Pekan terakhir bulan November (30 november 2013), Acara lanjutan telah di agendakan secara khusus bagi teman dan seluruh warga surabaya yang belum sempat hadir pada peluncuran buku perdana SPC (SurabayaPunyaCerita). Digawangi sendiri oleh Mas Adi, Acara launcing buku pertamanya berlangsung cukup sukses.

Sebagai satu diantara penggemar cerita jadoel Surabaya, Saya merasa terpanggil dengan undangan itu. Yang mendapat kesempatan istimewa  dengan mendatangi “Sharing and Booksigning” yang dialokasikan di Perpustakaan C20, bertempat di Jl.Dr.Cipto 20 Surabaya (jalan kecil seberang Eks Konjen AS-Jl.Dr Sutomo) menjadi sebuah kepuasan yang tak terkira bagi saya.

Perpustakaan C20

[Tak sering] Perpustakaan C2o yang saya jadikan nongkrong di tahun 2013

Melalui mediasi cangkrukan apa adanya malam itu, banyak penuturan dan suka duka yang disampaikan mas Ipung . Mungkin itulah kali pertama pertemuan saya, disertai pengakuannya dalam membangun sebuah Blog melalui platform gratisan worpress, untuk kemudian beliau realisasikan menjadi sebuah buku.

 

 @dhahana_adiPada kesempatan itu, Saya dan teman-teman yang lain, banyak mendapat pencerahan perihal tantangan terberat beliau tatkala memulai proses riset sampai penerbitannya dengan beraneka bentuk.

Secara teknis dan managerial saja, ketika masih riang-rinagnya mendraft tulisan-tulisannya dalam bentuk mentah, beliau pernah menghabiskan 2 hardisk internal/eksternal lantaran sejumlah Foto-foto yang dijadikannya pelengkap tulisan, banyak yang rusak. Belum lagi kerugian secara mental dan sosial jika menghadapi beberapa kalangan yang (Mungkin) menyanggah argumentasi beliau bahwa buku #SurabayaPunyaCerita adalah Buku Sejarah yang tidak layak terbit.

Sebagai manusia yang terpanggil jiwanya melestarikan tradisi Nenek Moyang, beragam asumsi pernah diterima mas ipung melalui bentuk kritis. Banyak orang awam yang memvonis buku ini hanya berisi kisah kolonial yang tak lebihnya sebuah buku dongeng biasa. Padahal menurut beliau, Cerita surabaya ini banyak memiliki sisi lain yang masih belum terungkap. Menjadi jeda bagi para penulis sepuh yang telah banyak berkontribusi, memperkenalkan khasanah Surabaya  sehingga lebih dikenal luas oleh warga yang bukan dari tanah pribumi sekalipun.

Unik, itulah kata kuncinya. Yang menjadikan konsep terbentuknya Buku SurabayaPunyacerita dimuat untuk memenuhi kebutuhan warganya yang tak ingin melupakan Sejarah.

 

Saya sendiri mengakui hal tersebut. Banyak anak muda asli surabaya yang lebih menekuni diri menjadi petulang pembawa ransel/bacpacker maupun traveller. Tak takut lagi kulitnya legam terbakar sengatan matahari, namun fokusnya berubah menjadi pertanda, bahwa mereka yang muda-muda mulai melupakan sistem darimana dirinya dibesarkan. Hingga saatnya tiba, tak banyak lagi anak muda yang mau dan mampu menuliskan filosofi tentang kota kelahirannya sendiri secara konsisten. Akibatnya, moderenitas menjadi simbol keegooan masa lampau dibiarkan tumbuh secara global.

Sebenarnya dalam pemikiran beliau, tahun ini adalah tahun yang bisa dikatakan sedikit terlambat bagi dirinya untuk berkarya. Yang membuat beliau sedikit canggung bahwa sebenarnya tugas meresensi Estetika Surabaya dan membingkainya kembali menjadi sebuah cerita adalah tanggung jawab Pemkot Surabaya, Dinas Pariwisata, budaya dan instansi terkait.

Seolah tak memperdulikan hal sepele seperti itu sebagai kendala,  akhirnya tercetus sebuah pemikiran yang malah membuatnya intens untuk terus menulis:  “Tidak ada kata tua dalam berkarya, kecuali meninggal dunia”

 

Dukungan untuk segera melaunching buku telah banyak diperolehnya dari para-penulis senior, Professor, budayawan, dan tak lupa kontribusi para bonek-bonek surabaya. Untuk itulah apresiasi akan kekagumannya akan kota surabaya, beliau tuangkan dalam sebuah buku.

Dasarnya mas ipunk ini orangnya pemikir, mungkin belum pernah tercetus 1 ide sekalipun untuk menerbitkan buku. Namun takdir Tuhan berkata lain tatkala ayahanda beliau meninggal dunia pada tanggal 21 Juni 2013 silam dengan meninggalkan pesan:

“Berbuatlah dan berkarya yang sanggup membuat kota kelahiranmu bangga.
“Sebaik-baik sebuah karya, adalah kenangan yang bisa bermanfaat bagi orang lain”

Terlihat paradoksal, namun begitulah adanya beliau. Mungkin suatu saat nanti, Generasi penerus surabaya akan terus menikmati kesyahduan Histori Surabaya tanpa ikut tergredasi zaman

Beliau juga menuturkan dalam proses menerbitkan buku tersebut, telah menjalin kerjasama dengan Publishing Indie Nulisbuku.com.

Sebelumnya, belum ada target khusus harus terjual berapa eksemplar,  karena selama ini beliau masih kurang percaya diri dengan bukunya. Namun seiring banyaknya permintaan dari Toko buku uranus, toga mas, dan beberapa buku yang beliau titipkan mellaui pameran secara offline, telah terjual dengan total 300 buku.
Seiring banyaknya permintaan, Toko buku Uranus yang paling mendominasi penjualan buku tersebut dengan total 50 buku hanya dalam waktu beberapa minggu setelah launching.

Yang menarik dalam acara kemarin adalah, sebelum kedatangan saya, C20 telah lebih dahulu didatangi para fans surabaya dari luar kota. Ada salah seorang penggagas kaos dari bandung yang menyempatkan waktu untuk berkunjung dengan beliau. Tujuannya tak lain tak bukan adalah Merebranding kaos dengan merek/logo yang dibuat fans- tersebut, dengan didahului mencontekmengambil identitas surabaya yang lebih dulu terkenal dengan istilah bahasa jawa yang terkenal gaul : Kaos Gae Koen Tok.

Saya faham kalau tujuannya memang baik dalam melambungkan nama surabaya/ atau memang semata-mata ada motif lain.
Namun sungguh ironis jika saya menggaris bawahi, hal-hal yang berbau surabaya yang pada kenyataannya, banyak diklaim, banyak disukai dari Anak muda yang berasal dari luar Surabaya, tanpa di ikuti  kemauan dari warga Surabaya sendiri untuk melestarikan cerita-cerita urban milik mereka.
Kalau sudah begini adanya, Budaya “Jancok…koen Yoo.!!!” memang perlu digagas agar jangan sampai tradisi Copy Paste terjadi seperti kunjungan orang asing tadi.

Untuk kedepannya, saya hanya berharap Surabaya yang memiliki banyak nilai Historis dan potensi, jangan sampai kehilangan kultur dan kebudayaan sebagai simbol jati diri. Oleh siapa, dan untuk siapa lagi kita membesarkan kota tercinta ini kalau bukan diri kita sendiri.

BTW, Saya bukan orang Surabaya. Tapi saya adalah anak dari Ayah berdarah Sidoarjo, lahir dari rahim Ibu asli Surabaya. Dan saya tahu bagaimana mengapresiasi kota Surabaya walau hanya dengan tulisan singkat sederhana-tak berguna ini, seperti halnya Ibu Risma yang tak gemar bersolek, namun piawai mendandani kotanya dengan taman nan indah.

Salut buat Mas Ipunk 🙂

Surabaya. 30 november 2013
Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan