Tamu Suatu Malam

Melupakan” adalah hal tersusah sepanjang hidup, sementara ada sesuatu yang harus senantiasa diperjuangkan untuk selalu dikenang, tapi yang kita peroleh adalah hal yang malah-sampai-kapanpun membuat tidak bisa lupa dengan sesuatu yang ingin kita buang.

 

Sekitar seminggu ini, selain rutinitas pekerjaan yang saya tekuni, tersisih waktu sebagai pencatat mimpi yang harus saya lakukan menjelang bangun pagi. Semula saya tak yakin kalau tiap malam harus mengingat cerita yang pernah terjadi di lain hari (untuk sekadar mencatatnya kembali). Tapi, saya yakin apabila sudah saya tuangkan ke dalam blog ini, itu berarti tak ada hari yang lowong dalam catatan saya tersebut.

Baru 3 hari, Saya merasa catatan-catatan yang masih berserakan di otak saya, mungkin bisa menunjukkan apa sebenarnya yang tengah terjadi dalam kehidupan nyata yang saya alami.
Jujur, saya masih tidak bisa mengelak lagi apabila orang lain memberikan pernyataannya jika Heru prasetyo adalah tipe manusia yang susah bangun, tipe manusia yang terlampau sering hidup di masa lalu.

Dalam mimpi saya semalam, ada beberapa karakter yang selalu turut serta di beberapa antaranya. Kadang ia / mereka berperan sebagai pemeran utama, kadang hanya figuran saja, sama seperti posisi saya disitu.

 

Setting lebih sering berlokasi di rumah yang saya tinggali mulai umur 1- 28 tahun. Saya tak percaya jika malam kemarin, mimpi menjadi Tamu 2 malam secara terhormat, lebih menyukai berada di lokasi lain…(sekitar Ber-mil-mil dari rumah yang saya tempati sekarang). Jadi saat ini, naluri saya mulai ngelantur kembali. Beberapa memori memang sangat susah dihilangkan.

Saya merasa, kejadian kemarin malam menjadikan tokoh “pelengkap” begitu sempurna. Dengan ditemani Mas Akbar (yang gondrong itu), kunjungan perdana saya ke kediaman Mbak Yuniar Nukti dan Kang Yayat Sudrajat kemarin, justru membentuk satu ingatan lagi yaitu:  bagaimana mungkin saya dapat menghapus sebuah ingatan ini . Baguskah?

 

Dokumentasi Pinjaman Oleh: Facebok Kang Yayat

Ingatan-lah yang dapat membuat kita bermimpi, dan tak ada seorang-pun yang sanggup mengontrol ingatan serta mimpi.

Saya semakin tak sabar menyaksikan apa lagi yang akan terlihat menjelang pergantian hari, sementara yang saya tulis sekarang-pun, adalah sebuah ingatan baru dengan hadirnya teman-teman baru seperti mereka.

Saya tak ingin meluapkan perasaan bahagia itu di depan mereka.  Agar saya bisa terus memahami lebih dari apa yang mereka wedarkan…

Aaah.. Semoga tuhan selalu memberikan yang terbaik kepada teman saya ini. Karena wajah-wajah mereka-pun semakin hari semakin memudar dan nyaris semakin susah dikenal dan diingat lagi.

 

Semoga kapan-kapan tamu istimewa datang lagi dengan wajah yang lebih nyata, senyata sedih yang saya alami dari setiap orang yang datang bertamu ke tempat ini, lalu ia berpamitan pergi lagi.

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan