Menunggu Memang Membosankan, Mediasinya Yang Justru Bikin Nyaman

menunggu antrian di RS bakti rahayu

Waktu telah menunjukkan pukul 01:00, dinihari.
Sambil mengisi heningnya malam, diikuti draft tulisan yang  masih kosong, saya jadi teringat peristiwa tempo hari yang lalu, ketika harus mengantar istri ke pasar tradisional.
Sejauh pengamatan saya saat itu, saya ingat Irma yang ditemani ibunya berbelanja kebutuhan dapur. Sementara, saya sebagai pria tak waras, merasa sebagai manusia tak berguna, tak memiliki tugas apa-apa selain menunggu.

Baca lanjutan cerita sebelumnya di : › Karunia Pagi, Pasar, dan Topi baru si Irma

Mungkin saja sekarang ini,  hemagonial suami khususnya kaum pria, makin terlihat jarang (enggan) menemani istrinya ke pasar, apalagi bergantian mengasuh anak. Saya jadi semakin yakin bahwa, perhatian suami manapun pasti menurun motivasinya jika bertatap muka dengan aktititas yang disebut Menunggu:red (Ngenteni).

Bukan untuk kali itu saja mengalami yang namanya ‘mengekor’, mbuntuti, dan mengarahkan. MENUNGGU adalah Suatu hal yang dinilai biasa, cenderung tak memiliki mutu, pekerjaan sunyi,

Namun berkat hal yang demikianlah, saya banyak bertemu dengan studi unik, paling menakjubkan dari sumber sederhana sekalipun, yang menjelaskan bahwa, aktivitas itu bukan merupakan satu-satunya  pekerjaan terberat. Bukan juga menunjukkan kalau menunggu itu adalah sesuatu yang amat sangat membosankan.

Saya tak hendak menjelaskan bahwa disaat jenuh dengan kebiasaan itu, semuanya momen dapat berakhir segera. Saya merasa rileks mengisi waktu tersisa dengan menyaksikan betapa piawainya para kaki lima yang menjajakan makanan khas berselera. 

Disaat menunggu, saya lebih tersanjung melihat 3 manusia yang mengenakan kostum Badut, menyambut dan melambaikan tangannya kepada tiap anak kecil yang hadir disana.

Disaat menunggu, saya lebih menikmati kebersamaan dengan Irma, berinteraksi dengan kerumunan orang beserta detail demi-detail permasalahannya.

Saya tidak terlalu mengeluhkan makna menunggu tersebut sebagai suatu peristiwa yang paling menyebalkan, Lagipula… jika aktivitas tersebut begitu dipaksakan,bisa-bisa saya kehilangan kegembiraan.
Waktu justru semakin terasa begitu singkat, atau bahkan parahnya, bisa sampai saling mempertahankan keegoisan diri, dengan selalu menyalahkan satu sama lain.


Sampai disini, saya berkesimpulan, menunggu telah membuat jiwa saya semakin empati dengan keadaan, dan terlatih menjadi diri sendiri seutuhnya. Bagi istri dan Anak saya,

Baca Juga : Menjadi Diri Sendiri Seutuhnya…Yang Seperti Apa ?

Dengan menunggu, itu tandanya saya semakin terpacu menjadi kamera konvensional, sekaligus alat perekam yang mampu melihat kenyataan dari beragam sisi analisa. Berkat dia pulalah, saya menemukan kebahagiaan.

Saya semakin menyadari bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa banyak mengkaruniakan peristiwa yang menyenangkan hati. Puji syukur pula, tidak ada yang terlewat, dengan berbuah pengalaman manis.

︾ BAGIKAN JIKA INI BERMANFAAT ︾

ARTIKEL YANG SERUPA :

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!