Dengan Cinta, Menuju Cahaya (habis)

Dengan Cinta Menuju Cahaya (habis)

Ini merupakan tulisan lanjutan dari halaman pertama :
Dengan Cinta, Menuju Cahaya

Suntuk apabila melihat kenyataan ini hanyalah sebuah perjalanan yang kadang terhenti di lampu merah. Acapkali jika sudah ada sinyal lampu hijau, tetap saja, orang saling berebut posisi untuk saling mendahului. Di situ, Blogermie makin merasa sunyi.
Di dunia maya-pun, Blogermie seperti mengalami krisis identitas. Semua orang bergerak dengan ritme yang aneh. Individualistis dan monoton.

Sejatinya, apapun sesuatu yang tersaji fiktif, disanjung dengan gembira. Padahal bagi Blogermie, itu hanya upaya media untuk memancing emosi masyarakat lugu seperti indonesia. Semua terlena, ada pula semacam tak berdaya, senang apabila negara ini terpecah belah.

Di dunia nyata, Blogermie telah belajar. Belajar satu hal penting tentang bagaimana beradaptasi serta selalu menyerap hikmah yang sejatinya tersaji di mana saja. Bahkan ketika berjalan di kerumunan banyak orang, melihat raut muka mereka, Blogermie mengamini realita dan mendengar suara-suara bising bahwa banyak diantara mereka yang sebenarnya amat sangat rapuh. Adapula yang terpaksa menutupi kekurangannya dengan pura-pura bahagia, yang bersembunyi dibalik kebenaran.

Ah… seandainya kita semua hidup di dunia yang sempurna. Bukan didunia seperti ini.

Andai di dunia nyata, banyak orang yang menyadari hal itu. Dunia nyata seperti air yang mengalir. Untuk beradaptasi agar tetap hidup, kita harus memiliki prinsip: mengalir seperti air. Bukan Rusa yang merindukan air
Tak ada yang perlu dikeluhkan, apalagi sampai menawar sebuah suratan.

Blogermie berharap nantinya, ada banyak orang seperti itu. Diam apabila tidak dibutuhkan, bisa saling tersenyum memperhatikan tingkah mereka yang hendak bertahan hidup dengan nalurinya. Cukup mengandalkan selembar uang receh ketimbang hidup berfoya lantas kemudian menyesal seumur hidup.

Dengan Cinta Menuju Cahaya (habis)

Namun Blogermie yakin, kalau ada banyak orang sepertinya di dunia maya. Yang paham betul pengetahuan laduni seperti apa. Hanya saja sepertinya mereka tengah bersembunyi saat ini. Menunggu kiamat tiba.

Blogermie meyakini, bahwa ada banyak pola dan pagar diri saat menemani keluarganya seraya menikmati secangkir teh saat bercerita tentang betapa spektakulernya rutinitas masyarakat desa

Yang pasti, Blogermie merasakan betul bagaimana getirnya hidup itu seperti apa. Blogermie tak ingin berhenti belajar untuk menemukan banyak lentera bagi jiwa.

Barangkali, 5 bulan yang lalu, blogermie sudah menemukan banyak hal positif untuk bisa mengiyakan pengalaman dan memperkuat langkah-langkah kaki di masa depan.

Blogermie mengacuhkan kalimat bijak yang pernah terlontar suatu malam, entah itu saduran atau tidak…sehari sebelum temannya meninggal dunia.

Laki-laki yg baik untuk wanita yang baik, begitupun sebaliknya.

Begitu lama sekali aku ingin menyanjung kata bijak ini. Sampai akhirnya yang membuat terkagum saat aku beranjak baligkh tatkala menikah. Sampai tuhan pada akhirnya memberiku jawaban tentang pertanyaan yang belum pernah aku pecahkan saat sendirian. Sampai tuhan menunjukkan jalan bahwa sebenarnya…. hidup adalah permasalahan sepele antara keputus-asaan dan rasa pantang mengeluh

Di dalam rumah ini sekarang, ada 1 tangkai muda yang masih kuncup dan sebentar lagi akan mekar bulan Juni nanti. Ketika cahaya dalam raga ini akhirnya padam dimakan lansia, setidaknya hidupku saat ini, dengan cinta yang aku punya…Engkau akan mewarisi mata kiri dan pengetahuan laduni ini nak….Irma.

Irma Herliana Makibau Saat berumur 1 tahun

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan