Sejatipun Mencintai, tak Serius Memiliki

Sejatipun Mencintai, tak Serius Memiliki | Entah, ada yang aneh hari ini.

Baru beberapa hari memegang ponsel layar sentuh yang di idam-diamkan, kali pertama membelinya dengan jerih payah menabung dan memainkan aplikasi game yang ada, kali ini juga saya merasakan betul arti sebuah kehilangan.

 

Rasa manusiawi yang ada pada diri manusia, memang kontradiksi. Antara merelakan dan menahan.  Merelakan karena setelah ditelusuri, peristiwa baik maupun buruk, pasti memiliki maksud.

Sedangkan menahan yang memiliki arti: menyayangkan karena masih terbelenggu rasa tidak ikhlas yang diakibatkan keadaan. Sehingga timbul perasaan ingin menyalahkan.

 

Saat benar-benar melepasnya dalam kondisi sudah tidak ada lagi dalam genggaman akibat peristiwa dicuri, dijarah, maupun jatuh, timbul psikologi yang berbeda apabila dibandingkan jika diakibatkan kondisi manusianya yang “pelupa”.

 

 

Seperti kehilangan-kehilangan sebelumnya, namun kehilangan kali ini sangat berbeda. Tak satupun perasaan grusa-grusu yang menyertai, atau putus asa. Perasaan saya malaj justru biasa saja.

 

Bukan berarti sampai menulis postingan ini-pun, HP tersebut masih kelihatan bernilai buat saya, bahkan sebaliknya. Saya bahkan tak terbesit keinginan demi melibatkan anggaran tabungan keluarga agar mudah mencari pengganti ponsel serupa.

 

Mencintai secara berlebihan adalah tidak baik

 

Itu mungkin sebuah bisikan yang membut kesadaran saya terjaga. Kalau di pikir-pikir mungkin…

1 minggu sebelumnya adalah gejala penunjuk awal yang di ujarkan Allah kepada saya agar tak terlalu mencintai sesuatu secara berlebihan terhadap sebuah benda.

Kehilangan kali ini yang membuat saya malah beruntung untuk tidak lagi bersikap ceroboh, menghamburkan uang hanya demi membeli kuota internet 2 kartu.

 

 

Jika di flashback ulang, sebelum perisstiwa itu terjadi, tak habis fikir kenapa jari ini begitu “Ghaib” dengan lebih dahulu mencabut memory eksternalnya.

Atau, kekhawatiran yang tak seperti biasanya. Sebelum celaka itu terjadi, Ponsel tersebut terasa licin ketika dipegang. Seolah sudah digariskan, riskan untuk jatuh.

 

Puji syukur tak terlalu mengkhawatirkan. Kartu UIMnya bisa diselamatkan, karena masih bisa mengurus kembali yang baru.

Tidak ada satupun video “3gp” bertema erotis yang tersimpan disana, sehingga saya tidak mencemaskan bagi siapapun penemu yang ingin berfikir asusila.

 

Sejak peristiwa itu, saya kembali merunut apa yang diperoleh melalui pelajaran yang sudah-sudah.

Yang pertama:

Saat aku yakin memiliki apapun di dunia ini, seolah-olah menggengamnya, maka…saat itu pula diriku harus siap merelakan apabila sudah uzur waktu baginya berpamitan tuk’ pergi.

Kehilangan adalah hal yang paling ditakuti. Apalagi buah dari kehilangan benda-benda yang sifatnya pribadi (bukan materi), bisa membuat diriku cepat mengalami depresi.

Kenyataaan pahit memang, tapi mau bagaimana lagi? lazimnya cara paling rasional agar tidak didera depresi adalah mengkhilaskannya. Karena bagaimanapun itu, statusnya hanya dipinjamkan, lantas “berpindah tangan”.

 

Yang kedua:

Saat aku tengah belajar dari besarnya hati atas kehilangan hakku (yang sebenar-benarnya hak sang Illahi), yang tak kalah pentingnya adalah: Bisakah aku ikhlas mengembalikannya ketika menemukan benda yang bukan hakku?

Jawabannya ada di kalimat ini—-> “Orang bisa, karena terbiasa“.

 

Sambil menunggu sholat malam dan ucapan selamat malam, semoga jadi renungan.

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan