Balada Tak Berujung demi Lahirnya Sebuah Bahtera

Seandainya Bapakmu tidak nekat merantau, seandainya waktu itu aku bisa mencegahnya….mungkin saja maut bisa ditawar.

Itulah kata yang menghias bibir Mukamah sebelum pergi dan beranjak dari posisinya melantai, menghadap layar televisi yang menyuguhinya tayangan pepesan kosong. Garis wajah jelas terlihat saat beliau tertegun, terurai air mata di sela kisahnya meratapi nasib negeri yang telah membesarkannya.
Janda Ibu dua anak yang merasa kerinduannya kepada Suami pertama, tetap memuncak. Tetap menjadi motivasi yang membekas meski rona zaman telah memudar.

mukamah

Atas nama cinta,tentang perasaan seorang wanita yang saat ini tak tahu lagi cara menambatkan hati meski harus menghadapi kenyataan tersebut dengan tetap tegar.

Firasat baik yang datang sekali seumur hidup, hanya menghampiri beberapa jenis manusia yang memiliki hati terbuka, pertunjukan drama dalam menjalani hidup. Sejatinya tokoh demi peran yang kita mainkan tidak membutuhkan skenario dalam bentuk yang mengada-ada, kecuali kesederhanaan dan rindunya kebersamaan.

Baru pertama kali ini saya menyaksikan beliau tidak setengah hati dalam bercerita meskipun statusnya menikah untuk yang kedua kali. Saya benar-benar terkesima dan larut oleh ceritanya…

 

***

Tersebutlah sebuah nama Suwito, Preman asal Jember dari desa seberang yang sudah kenyang masuk bui, meskipun bagi aparat desa, dia dianggap benalu karena seringkali cekcok dengan pemuda setempat. Hampir tewas dibakar massa hanya lantaran melakukan tindakan tak terpuji. Hingga pada suatu ketika pada tahun 2006, Suwito memutuskan hijrah ke Demak untuk mencoba peruntungan dengan beralih profesi sebagai buruh konstruksi.

Lain manusia, lain pula tabiatnya. Saat untuk pertama kali keduanya bertemu, watak keduanya ini ibarat langit dan bumi namun saling melengkapi kekurangannya satu sama lain.

Mukamah seorang wanita sederhana, mungkin ditakdirkan menderita seumur hidup. Pernikahan yang menurut sebagian tetangganya di Jawa tengah adalah kegagalan dari polemik status sosialnya saat itu sebagai janda. Stigma yang kemudian mendulang kutukan Baginya. Mukamah dihujat, dimusuhi habis-habisan tetangganya yang tak lain sodara kandung dari almarhum suami sebelumnya. Mukamah sadar hati dan tak pernah murka di depan manusia-manusia ini. Mukamah tegak berdiri dan memikul beban itu sendiri.

Sementara 2 Putra kandungnya yang kala itu mulai memasuki bangku sekolah, tak sanggup lagi berfikir realistis. Antara melanjutkan sekolah atau berkelana demi menigkatkan taraf hidup yang lebih baik. 1 dari dua anak ini, si Bungsu, bahkan pernah kecanduan menghisap lem (Red: Ngelem), beruntungnya tidak sampai terjadi kerusakan otak fatal, yang kemudian membawa perkenalannya dengan Suwito, Figur Bapak tiri rendah hati meskipun cangkang seorang tukang palak yang aura beringasnya kini telah meredup usai menikahi Mukamah.

Suwito sendiri memiliki karakter Louis  XVI sewaku melajang dulu.  Entah kenapa sejak pertemuannya dengan Mukamah, mendadak sikap yang semena-mena tiba-tiba hilang begitu saja.  Semenjak pak penghulu memberikan sangsi apabila Suwito sampai hati tidak berniat merubah diri, pantang bagi Mukamah untuk dinikahi. Yah diera ini, Naopoleon Bonaparte itu adalah pencitraan diri Suwito yang sangat mencolok. Suwito berwatak keras, namun tegas. Dan pengakuan itulah itulah yang sampai saat ini membuat penulis terkagum-kagum

 

Suwito melatih si Sulung dan si Sulung yang merupakan anak tiri untuk senantiasa bekerja dan bekerja.  Kemandirian itu harus ditanam dengan mengimprovisasi kerasnya hidup Suwito yang kerap berpindah-pindah. Mungkin modal itulah yang cocok menjadi bekal untuk diberikan.  Mengetahui bahwasanya tidak ada kelebihan sumber daya yang mampu dilirik Suwito terhadap anak putus sekolah macam ini kecuali memanfaatkan potensi fisik.

Sementara si Sulung hanya memilih diam di rumah seraya menunggu hibah jatuh dari langit. Sambil menemani masa lansia sang-Ibu dirumah, si Sulung rela sekedar membantu, termasuk modal asuransi mendiang Almarhum yang kemudian disulap sang Ibu menjadi kios kecil didepan rumah

Berbeda dengan si Sulung, si Bungsu ternyata memiliki rasa keingin tahuannya terhadap dunia luar. Ia belajar dengan sangat cepat secara otodidak. Pekerjaan kelas berat (terutama yang tidak membutuhkan banyak kecerdasan) mampu dikuasai dengan tempo yang relatif singkat. Memanggul Gergaji mesin, membelah, memotong, bahkan bercocok tanam. Aneh!.

Diawali usia yang relatif muda 13 tahun, si Bungsu diajak merantau kemanapun. Terhitung banyak kawasan negeri ini yang pernah dijelajahi. Profesi pun silih berganti mulai dari Tukang batu, Kuli panggul, bahkan Buruh konstruksi. Bahkan diusia itu, si Bungsu sudah pernah hidup di hutan sebagai penebar benih pohon Akasia di Lampung. Atau juga pekerjaan ekstrem mengecat gedung pencakar langit tanpa menggunakan safety belt, kala itu di Banjarmasin. Atau yang tidak kalah ekstrem lagi saat di Bali, adalah mengelas Baja kostruksi sebagai Jembatan beton di bawah permukaan air laut, itupun dilakukan di waktu tertentu…dengan mengandalkan pasang surut air laut. Membayangkan bagaimana kondisi tekanan udara dan minimnya oksigen saja, membuat hati siapapun jadi getir.

Pada saat usia si Bungsu menjulang 20 tahun, Suwito mulai melepasnya sendirian didunia luar, bergulat dengan waktu. Si Bungsu mulai terbiasa dengan cara hidup tidak menetap tersebut dengan status ikatan Ibu-Anak masih tetap terjalin meskipun selama 5 tahun hampir tidak pernah bertatap muka secara langsung.
Tersiar kabar yang didengar sang Ibu, si Bungsu sudah terlanjur makmur dengan gaya hidup orang Bali. Bukan berprofesi sebagai Gigolo…melainkan sebagai Supervisor Laundry di satu Kota kecil di sana.

Di Bali itulah, si Bungsu mengenang kembali kondisi terakhir almarhum bapak kandungnya menutup mata secara tragis. Kepala si Bapak pecah, tertimpa Alat kontruksi saat sedang menikmati Jam makan siang.

Si Bungsu hanya merenungi nasib naas Bapaknya di seonggok batu nisan karena kronologi berlangsung relatif cepat, dan juga terbilang dini untuk memahami arti kehilangan saat si Bungsu masih berusia 7 Tahun.

 

Negeri ini sudah sangat durhaka merenggut keutuhan hidup, dan lupa cara berterima kasih…kepada siapa lagi negeri ini harus berbudi dan memberinya makan kalau bukan pekerja-pekerja suruhan seperti almarhum bapak

Itulah yang membuat berjuta perasaan seorang wanita hancur. Alasan terpendam yang menyimpan kerinduan mendalam hingga kini belum pernah sekalipun dijawab…kenapa ketika si Bungsu bertanya perihal kondisi bapak, ibu terlihat bungkam dan selalu menuai banyak tangis.

 

Anak Bungsu tersebut tak lain-tak bukan adalah teman saya sendiri. Arif rahadian

Bersambung….

Tinggalkan Balasan