Jelang Tutup Tahun dan Gurame Pertama

Selain terlahir ganteng dan menjadi manusia pribumi Indonesia sejak lama, selama ini saya berusaha menjaga darah sebagai keturunan orang jawa. Terutama untuk urusan kuliner.

Meski selamanya hidup berpasangan dengan budaya lain daerah (mungkin karena istri saya juga seorang madura) sebisa mungkin menikmati hidangan suku sendiri. Tak pernah terbesit satu keinginan-pun untuk mencicipi kuliner luar negeri.

Oleh sebabnya, saya sering “muntah berak” apabila disuruh mencicipi ayam Kentucky yang konon kata orang, krispinya luar biasa. Lidah saya pasti keluh apabila disuruh mengunyah Potato MCdonald meski katanya gurih dan “numero unos”.

Jangankan untuk Fastfood seperti Burger, mutlak bagi saya untuk melemparnya keluar jendela. Sayapun tak pernah tahu rasa khas Rujak madura meski sering mengunjungi Cafe daerah Pasar kembang Kayoon Surabaya yang menyajikan hidangan beraneka rupa.

 

Namun sesuatu yang ganjil terjadi di sore ini. Di sebuah cafe yang sengaja dipilih salah seorang teman untuk janjian kongkow-kongkow, saya menghabiskan setidaknya setengah hari untuk itu. Bukan untuk mencari ide menulis, atau melakukan jumpa pers karena terlanjur ganteng, ini karena ada deadline yang harus kami selesaikan sebelum pukul 17.00.  Sehingga pada saat jam istirahat dimana ribuan orang berduyun-duyun pulang dari tempat kerja dan berkumpul dengan keluarganya dirumah, saya beserta 3 orang bergelagat agak homo, duduk tepekur menghadap puluhan lembar kertas dan foto yang harus dicocokkan.

Sepanjang itu pula, kami disuguhi sejumlah hidangan ala bistro. Sayangnya di tempat itu tidak terdapat menu favorit yang saya kagum-kagumi. Untuk siapa lagi rasa terima kasih ini saya sampaikan kepada Lontong mie, namun sayangnya hidangan tersebut hanya di khayalan pria setengah gak waras ..asu banget kan.

Sehingga dengan terpaksa, Saya memesan paket makan siang yang terdiri dari Gurame goreng asam manis, sambal,lalapan. Juga nasi dan beberapa gelas jus buah dingin dan sebotol air mineral. Teman-teman yang lain juga mengikuti.

Bau amis dan agak “basi” tercium dari hidangan gurame ini

Sekian lama di dalam cafe membuat saya bergidik, bentuknya memang sangat menggugah selera. Namun siapa sangka jika mencium aroma gurame yang digoreng tadi sepeti ikan basah yang sudah lama mati beberapa hari lamanya. Ditambah lagi dengan sekerumunan lalat yang terbang mengelilingi, menjadikan kami saling tuduh siapa yang terakhir kali belum mandi. Subhanallah…baunya busuk sekali.

Dengan jujung garpu saya mencicipi sambalnya yang terdapat di cawan kecil, rasanya lumayan manis dan pedas di lidah.

Secara perlahan, saya menguliti kulit luar Gurame tersebut dan mulai mengoyaknya dengan sendok. Kesan pertama, saya tak menemukan keistimewaan sebuah hidangan ikan yang sering saya jumpai untuk ukuran kafe mewah. Pada tatapan yang kedua, saya bahkan ingin muntah lantaran lalat sudah pada berkerumun dimana-mana. Jadilah Gurame goreng tersebut tak pernah saya jamah.

Apess

Tinggalkan Balasan