Mentari Berufuk di Langit Nganjuk

Gelapnya langit mulai memudar menjadi biru muda, bercampur atmosfer Kertosono yang dingin sangat terasa disekujur tubuh. Reunian semalam hampir tak berhasil membuat mata terpejam meskipun rasa kantuk terus menyerang. Saya beserta 3 teman lainnya berhasil melalui sepertiga malam ini dengan cara yang paling asyik.

Terpekur di keheningan malam sekaligus menyeruput kopi tanda mengusir bosan.

Ibu si pemilik rumah yang masih orang tua kandung teman saya juga tidak merasa keberatan, menjamu kami dengan nasi dan beberapa cangkir kopi. Meskipun ada beberapa momen yang terlewat. Jam 00.30 pagi, satu diantara teman kami memilih berpamitan lebih dulu untuk tidur.

Sesudah Turun Shubuh, Pandangan saya mendadak terpaku di ufuk Timur, tepat di atas tanggul Sungai Brantas. Sedikit kata yang mampu melukiskan:

Matahari yang sama  Diujung timur, dia mengambil masa mudanya sebagai Fajar. Yang selalu sama di ujung barat apabila dia berpamitan untuk pergi, menjejak masa rentanya sebagai senja.  Demikian adanya sebuah janji setia yang senantiasa ditepati. Allahuakbar

Mentari berufuk di Langit Nganjuk

 

Arsip Nganjuk: 11 September 2016

Tinggalkan Balasan