Malam Minggu di Ketika Itu – (Krapyak Adventure)

Malam Minggu di Ketika Itu – (Krapyak Adventure) | Saat ini pukul 00.13, 18 Oktober 2016, bukan Sabtu. Rasa pegal, sisa pendakian di bukit krapyak Pacet Mojokerto semalam, masih ada. Secangkir kopi hangat (memang ini yang biasa menemani saya begadang) dan sekelumit cerita tentang PAS (Pecinta Alam Surabaya) saat tulisan ini di ketikkan pada huruf pertamanya.

Ari, Arip, Yanto, Triono, Rosi dan saya sendiri, Cumi. Itulah kami. Ada apa dengan kami ?,
Apa pentingnya kami diceritakan di sini ?

Memang nggak penting-penting amat sih. Tapi taggar foto seorang teman bernama Ari akhirnya tak hanya menarik bibir saya untuk tersenyum, tapi menggoda tangan saya untuk menulis lagi. Menulis tentang suatu waktu kanak-kanak di masa dulu, “masa kurang bahagia” kami. (ckckck..bahasanya nggateli…^^).

20 tahun lalu kami pernah bersama, bukan sebagai Homo, melainkan menjadi satu grup se-permainan… Gubuk-gubukan namanya.

Sekilas memang mirip pecinta alam betulan. Menjauhkan diri dari peradaban, mencari ikan di rawa-rawa, lalu beramai-ramai memasaknya di dalam tenda. Bedanya cuma bahan tendanya saja. Tendanya bukan dari bahan parasut dan jahitannya waterproof, namun bahan alami yang diperoleh dari alam.
Tugas dan tanggung jawabnya pun masih jelas pembagiannya.
 

Pengalaman masa kecil yang menegangkan

Yah, pokoknya kami grup yang kebetulan waktu itu “dipaksa” bergabung demi sebuah pencitraan anak-anak secara tradisional. Kalau mau dibuat sedikit lebay itu semacam permainan kemandirian kali ya, hehehe ^^V.  Dan pada waktu itu memang sedang populer sekali yang namanya Mbolang di alam, didukung dengan kondisi desa ini yang memang sangat khas dengan kearifan lokalnya.

Namun yang agak dipaksakan, karena kami masih anak-anak kampung. Jangankan perabotan, kami juga tidak mengerti cara bertahan dari gigitan nyamuk kebun. Tenda seadanya yang beralaskan jerami dan daun pohon pisang sebagai pengganti pintu dan atap tak pernah berhasil memenuhi keinginan kami untuk bisa puas menginap semalaman. Boro-boro jika acara itu sampai bocor di telinga kedua orang tua kami yangg selalu memperingatkan untuk tidak sekali-kali bermain diluar kalau sudah malam hari.

Bahkan jika sampai berani melalaikan kewajiban kami untuk mengaji, Keesokan harinya sudah pasti konsekuensi kami harus rela apabila betis memar kena sambaran cemeti. Korban KDRT era 90-an 😀

Itu dulu sekali….

 

Bukit Krapyak adalah tonggak pencarian Jati diri

Sekarang, cerita itu telah menghimpun batasan pengalaman kami sebagiannya. Berhubung sekarang semua pelakunya telah dewasa dan sudah bisa pipis sendiri tanpa perlu di pegangi, hanya konotasi positif yang di ambil untuk dibawa di tengah-tengah perjalanan kami menuju desa Padusan kecamatan Pacet-Mojokerto.

Begitu tahu, ada hajat yang digelar Oleh PAS (Pecinta Alam Surabaya) untuk memperingati hari jadi yang pertama, di sponsori oleh Malkavian Outdoor, Ari yang kebetulan dapat undangan perdana, memilih mengajak kami ber-enam. Tentunya dengan membawa semangat nasionalis dengan tema cinta tanah air, kami semua yang terlalu bersemangatnya, langsung saling membagi tugas dan tanggung jawab. Menentukan siapa pemikul barang saja sudah seperti sidang pembunuhan, rame dan masing-masing menyatakan keberatan dan “pembelaannya”.

 

Entah berapa lama waktu itu acara saling lempar canda berlangsung. Sampai akhirnya Tas Carrier terberat tidak berpindah tangan dan Ari bersedia memanggulnya. Dengan kesepakatan membeli beberapa kebutuhan logistik secara patungan, dan beberapa benda yang sifatnya urgent harus dipersiapkan sendiri-sendiri. Diskusi panjang berakhir seusai pulang ngopi. Setibanya dirumah, saya langsung mempersiapkan diri.
 

Toleransi yang menghargai

Kembali ke kami, sekelompok pemuda biasa dengan kelakuan jayus tak biasa ( apa ini coba ????  🙁   ).

Alhamdulillah, Maghrib itu seingat saya, cuaca sangat cerah. Terhitung cuma sekali kami berhenti, itupun pada saat memasuki wisata Pacet demi mencari mushola/masjid terdekat, bertepatan Isya untuk sekedar menunaikan kewajiban kerohanian.

Antara harap-harap cemas, Semoga kami bisa lekas menuju puncak krapyak sebelum dini hari.

lumayan bisa selfie, syukur-2 kedepannya bisa masuk tipi..Amiin

Di tiap perjalanan yang dilalui, akan ada letih, kami terhenti kembali seraya meneguk air mineral. Baik Ari dan Rosi tak henti-hentinya saling mengingatkan untuk senantiasa mengakali kejenuhan itu dengan dzikir.

Di setiap pijakan kaki, dan 1 tarikan napas, kami diam-diam saling mengamini.

 

Sunan Krapyak atau Sunan Pangkat. Dibalik cerita, sebuah etika kebatinan

Saat perjalanan baru ditempuh seperempatnya dengan berjalan kaki, saya mencoba “Ngaweruh” untuk belajar mengenali diri. Sebuah metode menuju satu titik agar tahu letak sisi ter-lemah kebimbangan manusia dan ketakutan apabila terus dipaksa belajar di bawah keadaan tertekan. Di bawah medan terjal tanpa naungan cahaya yang sanggup membuat mental dan fisik sangat terkuras.

 

Di samping kiri-kanan jalur pendakian, banyak berdiri tegak semak belukar dan rindangnya pohon bambu jawa malam itu makin menambah suasana mencekam.
Sang ketua_ari mengambil inisiatif berjalan paling depan memikul beban sebagai navigator jalan diikuti deretan sahabat yang lain secara berurutan sebagai “penumpang”. Sedangkan saya dan Rosi secara bergantian berada di paling belakang rombongan yang terkadang bertukar peran.

Sadar maupun tidak, kami sempat pula merasakan sesak nafas, dan kepala saya pening. Namun itu hanya berlangsung sementara pada waktu kali pertama naik undak-undakan cor di checkpoint 1. Medan Gaibnya begitu kuat.

Baper: naik tangga sepanjang 500 meter bikin nafas tersengal-sengal

Namun syukur Alhamdulillah, situasi tersebut tidak terlalu “memprihatinkan”

Perisitiwa gaib seringkali kami temui, namun alangkah lebih baik kami memilih diam daripada membuyarkan semangat teman-teman yang lainnya.  Ulasan singkat, tapi pemaknaannya begitu sangat mendalam…selanjutnya peristiwa tersebut akan saya tulis di lain kesempatan
 

Yang Ganjil dari Bukit Krapayak Mojokerto

Karena medannya curam dan tidak memungkinkan kendaraan untuk melintas. 500 meter dari bukit, kami harus turun memarkir kendaraan. Selanjutnya melangkah lagi  melewati jalan dua arah (yang sekarang jalan tersebut sudah tertata Apik, lengkap dengan besi penyangga) untuk sampai di Pos  2 yang kami jadikan sebagai tempat berisitirahat, tepatnya di Makam Ki Danurejo atau biasa disebut Sunan Krapyak atau Sunan Pangkat.

Makam Mbah Pangkat

Disini kami mampir minum dan “Izin”, bercengkrama sejenak dengan Juru Kunci tentang nilai Filosofi yang disuguhkan Petilasan ini.

Karena menurut cerita yang sudah-sudah, Makam ki Danurejo ini tidak pernah sepi pengunjung, apalagi di hari-hari yang diyakini sakral menurut primbon jawa, Pak Katon sanggup menerima tamu hingga 5-10 rombongan sekaligus, untuk sekali hunting.

Hawa mistis memang terasa kental begitu kami masuk ke pintu depan Mbah Pangkat. Aroma dupa terhirup sangat kuat, membuat nyeri kepala yang saya dera, makin bertambah hebat.

Alih-alih menurut cerita, ditempat sunyi seperti ini, ada saja kejadian ganjil yang menimpa setiap pengunjung yang kurang bisa menjaga sikapnya jika merunut cerita yang disampaikan Pakde Juru kunci……Pak Katon
Allahuallam, semua atas Dugaan-Nya.
 

Teman spiritual dari bukit krapyak yang diundang

Jam 21.12, masih dipos yang sama, Kedatangan kami rupanya sudah disambut oleh Cak Andik, dan salah seorang Punggawa PA ,. Kalau tidak salah namanya Mas firman. Saya rasa para pendaki Jawa timur sepertinya sudah tidak asing lagi dengan 2 nama diatas.

 

Sejenak bercerita tentang Cak Andik yang selalu tak lepas dari pandangan dan rasa keinginintahuan saya tentang Jawa. Maksud hati ingin bertanya lebih..tapi kapan-kapan wae lah.

Toh saya juga masih berkeinginan untuk mendaki lagi, barangkali berjodoh hingga sanggup entah kapan, berharap Tuhan mengizinkan untukberjumpa lagi dengan beliau. Beliau tidak datang sendirian. Ditemani Istri tercinta dan anak laki-lakinya , Angger.

Mbak murti, Istri beliau ternyata juga masih teman sekantor dengan Ari. Orangnya santai dan sangat menyenangkan. Sama-sama memiliki bakat alamiah tentang Alam dan Kebatinan..

Sebenarnya profil mbak Murti hendak saya abadikan sebagai inti cerita, namun karena sesi wawancara terhalang kesibukan beliau untuk mengurusi kepanitiaan, Saya hanya berkomunikasi singkat…kapan kapan saja di tulisan saya selanjutnya, apabila beliau berkenan

Kalau mas Firman, seakan tak mau kalah dari sumber informasi yang saya dengar, diperkuat dengan Curriculum vitae dan ketajaman nalurinya tentang gunung yang terbeber luas di sosial media. Pendaki kelas kakap yang sempat menaklukkan merbabu, sekaligus pendiri PAS dan kesibukannya mengelola usaha wiralaba, alat-alat kekinian untuk kepentingan camping, dan hunting outdor…dowo iki, pembahasannya kapan kapan wae jum:D

Oh ya 1 lagi, Namanya Arip. Sayang, saya lupa bagaimana menceritakan sahabat saya ini dalam bentuk tulisan. Meski namanya belum pernah terdaftar dalam white list nama-nama pecinta alam level elite. Pokoknya kalau diingat ingat lagi ada beberapa side perjalanan yang “maksa”. Lucu bikin terpingkal-pingkal, dan agak “wagu”.

***

 

Bukit Krapyak Mojokerto, Esensi Alam dengan teduhnya pemandangan Arguporo

Akhirnya setelah tersisa 100 meter lagi dari petilasan tersebut, kami tiba dipuncak setelah melewati area hutan kecil di puncak bukit. Hutan kecil tersebut agak licin dan terjal, meskipun bukan bebatuan, tanjakannya nyaris membuat kami tergelincir. Tanpa lampu penerangan dan hanya berbekal 1 buah senter kepala yang dipakai ketua, Alhamdulillah bisa kami lalui. Para pendaki menamai tempat ini sebagai Bukit Kamping atau Camping Ground.

Camping Ground mengambil lokasi paling pucak Kecamatan Pacet.  Tempatnya luas yang terdiri dari sedikit semak. Didominasi rumput liar dan ilalang.

 

Bukit tersebut mendapat perhatian penuh oleh pemerintah setempat sehingga kami sering menjumpai tunas-tunas baru pohon cemara yang sengaja ditanam. Lokasinya memang sangat cocok dipakai sebagai rekreasi camping. Struktur tanahnya gembur dan tidak terlalu menjorok tepat berada di bawah lereng Gunung Welirang sangat tepat untuk mendirikan tenda yang banyak jumlahnya.

Tepat dibelakang tenda kami berdiri , panorama gunung welirang sedikit terganggu oleh kehadiran kami semua 😀

Pemandangan yang eksotis dengan background pegunungan Argupuro di sebelah barat sehingga saat mentari belum naik dan belum diselimuti kabut, sangat cocok untuk bergaya dan selfie. Pesona alamnya masih terlihat alami dan segar.

Dari atas puncak bukit krapyak yang hijau, pemandangan kecamatan Pacet terhampar luas jika dilihat dari sudut yang lebih tinggi

 

Tenda kami merupakan spesial.  Lebih awal sebelum kami tiba di lokasi, memang telah dipersiapkan oleh mbak Murti Selaku Panitia.  Sengaja beliau memilihkan lokasi pendirian tenda kami agar bisa sepuasnya menikmati panorama welirang dengan mata terbuka.
 

Keakraban di heningnya malam itu

Tenda kami  berada di paling pojok kiri tenda panitia dan berkapasitas empat orang. Setidaknya 2 orang yang tersisa bisa tidur secara bergantian atau dijadikan penjaga pintu tenda jika sewaktu-waktu terdapat binatang buas atau demit yang melintas.

Dari Kiri ke Kanan: Gus Ari, dan Gus Rosi melanjutkan Sesi pemotretan film : “Hokage Beginning

Grogi, itulah yang saya rasakan. Meski tak banyak keringat mengalir, tapi hati saya melompat-lompat tak karuan. Jantung pun berdetak dengan irama tak jelas.

Ya karena Gubug-gubugan di gunung menjadi kesenangan yang tak tergantikan sampai sekarang.  Apalagi kalau tiba saat-saat yang mendebarkan harus makan beramai ramai dalam 1 nampan seperti ini.

heh, Aku Umanono Rek! 😀

Naik 3 jam setelahnya pukul 02.00, Aktifitas mulai samar terlihat diantara tenda- tenda pendaki yang lain. dan beberapa pemilik tenda terlihat larut oleh dinginnya malam. Lampu-lampu penerangan yang berangsur-angsur meredup adalah sebuah isyarat untuk waktunya beristirahat. Kecuali tenda lain yang masih kuat berdiri sambil menikmtai kesunyian malam… termasuk tenda kami.
 

Yang memukau

3 orang diantara sahabat, dipersilahkan tidur lebih dulu, meski ada teman kami yang terpaksa pura-pura tidur sambil menahan kentut dengan kondisi perutnya yang akan lebih baik dikeluarkan saja muntahan laharnya.

Sayangnya, dia menolak untuk kami antar ke bawah.

 

Seperti kebiasaan saya , Ari, dan Rosi di kala bermalam di beberapa tempat sambil mencicipi hangatnya kopi , keduanya lebih memilih bersandar dan berbaring seadanya.

Terjaga dengan berbincang bincang mengenai hal yang menyenangkan ditemani Mbak Murti. Suasana segan itu tercipta tanpa batasan apa-apa sampai kami benar benar hanyut dalam obrolan dan tidak terlalu peduli dengan makhluk-makluk astral yang ikut hadir membelakangi kami dari balik tenda.

Itulah Aksen perdana grup kami. Yang juga menjadi kesenangan tersendiri Malam Minggu di Ketika Itu – (Krapyak Adventure)¹, sekaligus cikal bakal penampilan kami dibukit tak bertuan selanjutnya.

Ucapan banyak-banyak terima kasih kepada:

 

  1. PAS(pecinta Alam Surabaya) untuk undangannya, meski kepulangan kami agak tergesa-gesa dikarenakan ada sebuah perihal. HAPPY ANNIVERSARY YA..Semoga kedepannya bisa lebih menginspirasi menemukan hal-hal baru. Semoga juga merekrut banyak keangotaan dari golongan hawa agar jomblo bisa sedikit dikurangi + ajang silaturrahmi
  2. Malkavian Outdoor untuk games, sponsor, dan kelapangan waktu yang disediakan
  3. Mbak Murti,dan Cak Andik selaku jajaran panitia melalui pinjaman Kompor dan tendanya. Maaf kalau kami selalu merepotkan
  4. Seluruh komunitas Pecinta ALam seluruh jawa timur yang kebetulan saat itu hadir dan tercantum beberapa banyak nama top yang tidak bisa saya sebut satu persatu, semoga kehadiran kami sedikit banyak, bisa mengapresiasi
Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan