Demi Kejantanan, Jangan Panggil Galih dengan Sebutan “Om”

Jangan Panggil om untuk galih | Hai, Nama Saya Galih Samujud. Sebagai seorang Public Speaking, sekaligus penikmat kopi.

Saya agak risih jka teman-teman memanggil  “Om”. Di sertai suara yang agak-agak kenes, yang dimana efek “keterlaluan” ini cenderung di buat-buat.

Demi Kejantanan, Jangan Panggil om, untuk seorang Galih samujud

Semata-mata murni karena pembawaan genetik, atau-pun penjiwaan karakter yang dibangun agar dipandang lebih kekinian, seseorang dengan mudah “memaksa diri” menggunakan gerak badan berupa goyangan dan lambaian tangan dirinya sendiri sebagai perwakilan dalam berkomunikasi. Lebai, dan saya kurang begitu suka.

Paradoksalnya begini:

Jika datang seorang B4nci menghampiri dengan kepentingan ngamen, kenalan atau sekedar bertujuan mencubit mesra, dan parahnya menyapa dengan sebutan: “Hai, Om ganteng”, maka Saya lebih baik mengambil langkah kabur sejauh mungkin”

Mungkin karena saya orang udik, datang dari kampung, dan menetap di perkotaan demi sebuah tuntutan hidup.
Jadi di sini, hampir menjadi kebiasaan setiap hari harus rela di panggil “Om: Red “Om Galih”…, baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Sungguh Saya tidak faham mengenai hal ini. Apa ini sebuah Obsesi yang tak kesampaian, dari pemuda Abnormal yang sedari kecil merasakan begitu getirnya bercita-cita ingin menjadi tim Gegana Polda Metro Jaya.

Saya terlalu peka terhadap status sosial, Terutama untuk berita fiktif dan informasi penyalahgunaan wewenang Hak Asasi Manusia (HAM). Seolah-olah ingin sekali saya hentikan hulu ledaknya, jangan sampai meletus menjadi sebuah berita hoax dan menelan korban jiwa.

Kepekaan itu seringkali muncul ketika membaca beberapa informasi yang mengungkap isi sebuah berita di Sosial media. Saya kritis menanggapi polemik kemanusiaan, terutama yang sedang viral seperti berita penistaan hk asasi manusia di Palestina yang hampir-hampir tidak satupun kunjung reda beritanya. Agak memilukannya adalah, Ketika PBB sudah tidak dianggap mampu memberikan solusi di antara kedua bilah pihak guna mengakhiri konflik perang.

Sehingga siapa-siapa yang memberikan feedback positif dalam bentuk komentar ini, merasa sangat berhasil merebut nurani iba dengan menjalin ikatan batin. Alhasil pujian dan Aplouse sering saya terima dari teman-teman sesama kritikus dalam bentuk panggilan “Om”.

Saya Galiih Samujud

jangan panggil om ya, teman-teman – Kata Galih

Kembali ketopik utama. Dan lagi yang membuat saya agak-agak risih karena terdapat ketersinggungan tata bahasa yang kurang baik sesuai KBBI, yakni: kebanyakan fakta dijaman serba Now seperti sekarang, kisah-kisah sukses yang bermula dengan sebutan “Om”, selalui dinodai konotasi negatif di dalamnya. Misalnya:

  • Astaga, Inilah yang dilakukan kebanyakan “Om-Om” tajir dan sekertarisnya usai Gajian
  • Mengaku sebagai Pengusaha kaya, “Om” ini Berhasil memperdaya wanita lansia untuk beli produk Palsu
  • Histeris pengakuan Korban pemerkosaan, “Om” yang mengaku Pengusaha garmen itu ternyata Tukang Tambal Ban Tubles

Jangan panggil om lagi ya teman-teman. Saya minta tolong – Kata Galih

Lagi-lagi di sebutkan sebagaimana judul-judul menghebohkan diatas, yang kebanyakan pemicunya di pakai jagat maya sebagai istilah yang kerap memicu kekhawatiran.

Sudah pasti ikhwalnya, kejantanan pria yang menyebut dirinya “Om”, harus bersedia di kambing-hitamkan. Tak peduli “Om” baik, “Om” setengah baik-baik pun harus turut mengenyam status yang terlanjur berpredikat buruk di mata umum.

Sampai Alan Shakespeare, dalam catatan novel terlarisnya-nya “Romeo & Juliet” membuat sebuah statemen “Haram”.

Bahwa Tidak satupun Nama khas yang paling mahsyur bagi Romeo, selain “My-Darling” terhadap kekasih pujaan hatinya, Setelah kepergian mendiang, Juliet.
Cara bermesraannya-pun tidak pernah membawa keterlibatan frasa “Om” didalamnya kan…
Berpacaran dengan nama panggilan “Om” adalah tidak mencerminkan kecintaan yang mendalam..

Jangan panggil om, telah mendikte beberapa pencitraan miring untuk ikut terjebak menjadi sasaran pr0stitusi.

Seringkali saya dipertemukan “Om” menjadi Headline surat kabar karena daya pikatnya dibilang tergolong tinggi demi mendongkrak dunia ke-artisan.

Saya juga seringkali mengalami trauma pseukeptis bila ada teman atau kolega yang dengan senang hati memanfaatkan kata itu untuk hal jorok, walaupun sifatnya sebagai gurauan maupun hanya sekedar menjadikannya Argumen. Ya meskipun saya orangnya jenaka, tapi ya itu tadi. Saya gak suka dipanggil om.

  • “Om galih, udah Makan belum”….
  • “Om galih, Telolet dong”…
  • “Om galih, Brondong euy”….

” Saya mohon, jangan panggil om lagi ya teman-teman. Kalian tuli ya!!! “ – Kata Galih dengan nada agak tinggi

Kalau dipanggil Om sesuai dialeg diatas, entah kenapa derajat saya turun drastis dari yang awalnya mangkat menjadi penjinak Bom, malah terjun bebas menjadi Penjinak lubang Buaya.

Dan tentunya analisa ini sesuai dengan ekspetasi saya selama 26 tahun hidup membujang. Tentunya makna persuasif yang saya alami ini, masih harus disaring lagi kaidahnya oleh Mas Heru selaku Penulis blog ini.

Jadi kalau dipanggil om, atau saya agak kurang berkenan dengan jangan panggil om, karena saya berasa mirip manusia primitif gitu…

Parahnya lagi, Ketika orang lain berjabat tangan dengan saya, lantas mengucapkan “makasih ya om” dengan mengerlingkan sebelah mata, sambil menjulurkan lidahnya… Tiba-tiba perut ini mendadak mual dan mengalami berak berkepanjangan. 😀

Tapi kalau terlanjur dipanggil BANG… Saya sedikit khawatir menyinggung ke-arifan lokal yang telah ada. Meskipun ini bukan acuan tak menentu, masih bisa saya tolerir karena obrolan menggunakan kata “Bang”, terdapat sisi humor yang menyisakan kesan lucu.

Anomalinya, Orang disini cenderung pemarah dengan sebutan “Bang” itu.”Emangnya abang beca…. walah… Becak kan sudah hampir gak ada di Sidoarjo…..”,

Hal demikian yang kerap saya takutkan

 

Ditulis dengan sepenuh hati. Disebuah batu, di tepian Kali
TTd, Galih Samujud
Artikel Terkait :

2 Comments

Tinggalkan Balasan