Drama Treatrikal Yang Kusebut: Keluarga

‘Sepanjang yang terjadi seharian, bermain dengan Irma terasa sangat mengasikkan.
Semua memori yang terbingkai melalui foto tersebut, bangkit kembali menjadi bahan renungan ketika saya termenung sendirian di kantor.

Mengamati potret Irma waktu masih bayi hingga tumbuh berkembang menjadi balita, perlahan melalui jepretan kamera Ponsel, menggesernya slide per-slide, membuat pikiran saya langsung loncat ke belakang.’

Memiliki Keluarga kecil? semua pasti ingin. Namun seiring waktu yang ada, apakah keluarga kita sudah cukup bahagia dengan peran serta tokoh yang kita suguhkan

Perasaan sedih, agak getir, berkecamuk dengan rasa syukur di sela waktu yang terasa begitu cepat berlalu, jika mengamati begitu banyaknya pelajaraan hidup yang telah banyak diberikan-Nya, sampai detik ini.

Belum pernah terbayang, kalau ternyata sensasi haru ketika melakukan perjalanan spiritual kemanapun, dan takjub ketika bepergian seorang sendiri adalah kunci jawaban yang menyelimuti serangkaian peristiwa sosial yang berawal dari sebuah ikatan sederhana bernama keluarga.

 

Menjelang tutup tahun 2017 lalu, saya menghabiskan 1 hari penuh di Mojokerto. Meskipun saya datang seorang diri, sebuah kehormatan karena selang waktu yang tersedia, saya pergunakan menjadi tamu seorang sahabat lama ketika masih sama-sama duduk dibangku sekolah dasar.

Sejak pagi hingga siang, saya diajak bercengkrama, melangkah dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sesekali beristirahat di warung kuliner, sebuah tempat yang menjanjikan untuk kami bertemu.

Rasa asyik menikmati Mojokerto sambil meninggalkan jejak-jejak kaki langsung berubah seketika, tatkala hari telah beranjak petang.
Suasana yang tadinya riuh dengan candaan, tiba-tiba berubah hening ketika saya memberanikan diri bertanya kapan saya diizinkan berkunjung ke rumahnya. Rasa puas yang saya idamkan berkat silaturrahmi itu mendadak menjadi kekecewaan lantaran ketidaktahuan. Saya memahami bawa teman saya tersebut ternyata telah lama pisah ranjang dengaan istrinya.

Agak kikuk untuk menanyakan lebih spesifik sebab-musababnya. Takut karena hanya akan menyinggung privacy teman saya itu, saya juga agak risih jika harus mencampuri problem rumah tangga orang lain. Namun puji syukur, akhirnya teman saya terbuka atas kemauannya sendiri, memohon dicarikan solusi.


Memasuki usia pernikahan muda, bukan hal yang mudah. Jangankan teman saya tadi, kita semua bahkan pasti terkaget-kaget dengan “pelajaran baru”, yang menurut kita semua, pengetahuan itu cukup asing.
Tentu, tiap pasangan memiliki metode sendiri dalam menyikapi problematika dalam berumah tangga.

Bagi penikahan muda, Batu sandungan akan selalu ada. Umumnya sebuah perkara besar yang dimulai dari hal-hal sepele yang tidak lekas diselesaikan, yang terjadi karena lambatnya penanganan, sehingga tak jarang dewasa ini, pernikahan muda tak pernah berlangsung lama dan berakhir dengan saling menggugat cerai di pengadilan.

Misalkan, saya ambil “Analogi” umum berikut contoh yang jadi butut perkara: “Dikit-dikit menyalahkan masalah ekonomi” sebagai biang kerok perceraian. Gaji suami yang tak cukup yang telah dikisahkan teman saya tadi.

  1. Sang Istri , ikhlas membantu suaminya. Walaupun kemudian, besar kemungkinan gaji Sang istri lebih tinggi dari pendapatan suami. Selama kedua belah pihak tidak saling perhitungan dan tidak saling menunutut danĀ  tidak terlibat konflik, semua tidak jadi masalah kok.
  2. Kedua belah pihak memiliki basic yang sama. Sama-sama mencari nafkah, namun timbul keegoan dari pihak istri yang seolah-olah merasa dirinya-lah yang paling banyak berjasa dalam memenuhi anggaran kebutuhan keluarga. Walaupun disisi lain, Suaminya juga telah bekerja dan sudah berupaya.
  3. Ada lagi sebuah kasus yang dimana Seorang suami merasa dirinya tangguh. Merasa “kelaki-lakiannya terganggu” karena porsi bekerja hanya layak untuk dirinya sebagai tugas suami. ini juga salah
  4. Ada lagi sebuah kasus yang lebih membuat risau lagi. Dimana kedua belah pihak sudah fair, sementara Pihak dari mertua, atau saudara, atau sersepupu-an diantara kedua belah pihak merasa keberatan dan secara langsung menjadi “sumbu kompor”. Mengusik keharmonisan keluarga kecil mereka

Maaf, ini tentang cara berfikir arif, Orang-orang jawa zaman dulu. Kalau mengikuti aturan garis peran yang sebenarnya terdapat di literatur lama. Tanpa bawa-bawa unsur agama manapun, Idealnya yang mencari nafkah adalah suami. Dan itu memang sudah menjadi keharusan.

Seorang istri yang mengabdi pada suami dengan ridho dan keikhlasannya, tanpa mengeluh kurang, tentu tidak wajib ikut menjalankan peran seorang suami demi mencari nafkah tambahan. Kecuali, hanya pada saat tertentu jika keluarga itu perlu peran istri untuk membantu perekonomian keluarga dan tidak mempermasalahakan besar-kecilnya gaji suami, itu syah-syah saja. Dalam tanda kutip, semua sudah terkoordinasi secara terbuka demi melahirkan sebuah kebijakan saling membangun satu sama lain, dengan didahului pertimbangan dari Suami selaku pemimpin keluarga terlebih dahulu.

Namun adakalanya, Jika Suami tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga sebagaimana tanggung jawab dan peran yang ia tunaikan, yang dia ikrarkan dulu waktu Ijab-Qabul, memang baiknya ditanyakan ke Suami.
Tujuan apa sebenarnya yang mendasari seorang laki-laki menikah kalau bukan untuk menafkahi lahir dan batin?

Parahnya lagi, seorang Suami yang tak mampu menafkahi kebutuhan keluarganya dalam taraf “cukup”, malah menjadikannya sebagai sebuah trik mencari pembenaran. Berkilah seolah “egonya terganggu”, padahal Sang Istri telah dengan sukarela membantunya mencari nafkah.

Disinilah, perempuan/ istri boleh berbangga hati mengambil keputusan. Entah bahasa santun yang dipakai agar terlihat memiliki kesan manusiawi dengan sebutan “pisah ranjang”

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan