Dia yang Ragu, Pertanda tak Serius Mencintaimu

Sumber gambar :tutorialaplikasi[dot]com

Di Zaman yang serba preketeg seperti sekarang ini, kata-kata mutiara tak se-eksotis kenyataannya. Menghinoptis dari sudut yang humanis, segala sesuatunya terlihat dinamis. Lebih manis sampai kerap meyakinkan banyak orang, namun buntut-buntutnya berakhir dengan Zonk. Alias tercyduk.

Berulang kali tahu dengan merunut perisitiwa beberapa tahun kebelakang, kita pernah di hebohkan satirnya seorang motivator terkenal di negeri ini, berujung angkat koper karena gagal mengeksekusi beberapa kalimat santun yang ditebar secara nyata di kehidupan pribadinya.

Suara-suara sumbang oleh mulut yang banyak mencibir, namun hati tetap mengamini. Respon warganet yang bergejolak kala itu dan gimmick bermunculan seiring problematika yang mendera kehidupan pribadi beliau.  Ada yang mulai meragukan ketenaran kata-katanya, namun ada pula sebagian warganet yang mensyukurinya sebagai renungan hidup.

 

Pun begitu, saya pribadi menampik jika semua Quote-quote beliau ternyata tidak sepenuhnya salah.

Ada beberapa quote yang penting untuk diurai, terinspirasi dari pengalaman beliau sendiri sehingga berulang-ulang kejadiannya mungkin pernah dirasakan manfaatnya oleh orang lain pula. Bahkan ketika bocah SD mulai terjangkit kegalauan perasaan yang diakibatkan oleh rumitnya status hubungan pertemanan mereka, Quote inilah yang begitu mujarab menjadi jawaban.

Dari beberapa quote yang banyak beliau buat untuk hubungan asmara dan sosial, Quote inilah yang paling mewakili:

“Dia yang Ragu, Pertanda tak Serius mencintaimu.

Lalu bagaimana mengurai makna Dia yang Ragu, Pertanda tak Serius Mencintaimu ?

 

Itu artinya, Jika ingin jawaban paten dari pasangan anda demi memastikan apakah si-Dia serius dan puas dengan hubungan yang terjalin selama ini, jangan hanya cukup dengan buaian kata-kata. Namun coba dekati dia se-intens mungkin dengan kedermawanan. Baik berupa materi, harta dan uang lebih yang anda miliki sekarang.

Untuk membuat seseorang yang kita cintai merasa nyaman, Nyaman itu hanya urusan waktu, sedangkan kejujuran adalah hal mutlak yang dimiliki agar terjadi keselarasan sikap dan fikiran. Sedangkan lisan tidak ikut serta turut campur.  Kek ditanya sampek air liur anda habis tentang seberapa jujurkah pasangan anda, lisan akan menjawab secara angin-anginan dan tidak akan pernah jujur sampai kapanpun.

Dan… sekali tempo coba untuk menahan diri untuk tidak memberi. Jika dalam 2 posisi tersebut, hubungan anda tetap baik-baik saja (tidak seret) secara nyata tanpa perlu berpura-pura saling menerima. Selamat, anda beruntung dan siap membina (bukan membawa)  hubungan tersebut ke arah yang lebih serius!

Namun bila sudah besar pasak daripada tiang, itu merupakan kebijakan anda sendiri untuk berkewajiban memilih. Antara terus melangkah atau memilih suatu hubungan berhenti. Bila anda tetap saja “ngeyel” untuk senantiasa bertahan dengan Dia yang anda cintai, memaksakan diri dalam ketidak seimbangan keadaan yang demikian, baiknya cari konsultasi ke bencong. Daripada menjadi beban batin lantaran curhatan asmara dan solusi yang anda harapkan ke teman terlalu berlebihan.

Karena saya selaku penulis Blogermie, sering mendapati keadaan dimana terlampau sering dijadikan teman curhat, namun setelah berulang kali disampaikan dengan alur sosial dan solusi yang sama, rupa-rupanya mereka tak mendengar. Setelah kecewa dengan menyesali hubungan yang telah terlanjur pergi, mereka baru sadar untuk bilang begini….“bener katamu Her”.

“Aku sudah berulang kali bilang kepadamu, Memiliki perasaan cinta itu intrik. Intrik melawan keinginan hati, rasa memiliki, dan tanggung jawab menafkahi apa yang dia butuhkan. Bila dia sudah tidak beres dalam menghargai apa-apa yang telah menjadi upaya dan pengorbananmu, baiknya pergi saja. Kenapa kamu masih bersikeras untuk bertahan dengannya”?

Sekian tulisan saya, semoga bisa menghimbau untuk diri saya sendiri dan selamat berinstrospeksi

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan