Gadis Kecil “Tak Kasat Mata”

Tak pernah tahu…dan tak akan tahu persisnya kapan dan dimana sebuah peristiwa terjadi di masa depan. Itulah manusia. Yang akan kita alami dalam perjalanan hidup kita ibarat misteri yang tak terpecahkan sebagai wadah instropeksi diri.

Kadang hidup bisa sangat menekan, pun acapkali juga mempertemukan kita dengan hal-hal mengejutkan.

 

Dulu, saya pernah keliru menafsirkan jika hidup ini monokrom. Biasa-biasa saja, namun ternyata… selalu ada kedermawanan dari Tuhan semesta alam yang senantiasa di limpahkan untuk kita.

Dan, sebuah kesimpulan yang justru membuat nikmat orang-orang yang tidak terlalu berharap banyak, akan lebih sering mengalami kejadian yang luar biasa sepanjang hidupnya.  Dan kebalikannya, orang-orang yang justru tedensi dengan harapan, malah cenderung tidak mendapatkan apa yang di rencanakan.

 

Kalau ini adalah petunjuk yang digariskan dalam Firman Tuhan, salah satu ayatnya berbunyi “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah terbongkar oleh panca indra, “Hanya akan dirasakan di dalam hati manusia”: semua yang disediakan Allah untuk menunjukkan keberadaan-Nya yang Haq  “Ahad” dan “Hayat. Kalimat ini menjadi penyemangat yang justru terjadi berulang-kali dalam hidup saya.

 

Tak pernah terencana, tak pernah berhasrat dalam hati, tak pernah dilihat dan tak pernah didengar bahwa dengan tiba-tiba saja  untuk pertama kalinya diri ini merasakan kehadiran sosok gadis kecil yang asyik bermain di kamar. Ditemani keponakan saya.

Sambil menari, gadis kecil itu menyaru.

 

Tak ada sekalipun niat mengacungkan kamera dengan maksud memotretnya. Maksud hati memotret kelucuan keponakan saya itu, gadis kecil malah menunjukkan diri. Meski bukan ihwal tertentu, saya tidak ingin membuat kehebohan dan ketakutan kepada si keponakan, maka secara diam-diam saya mengabadikan momen tersebut dan mencoba mengamininya sendiri dalam hati.

Si gadis kecil mungkin memahami tindakan siapapun yang berada di tempat itu hanya akan menyakitinya.  Ia selalu berusaha menghindar. Cenderung berlari kencang dan bersembunyi. Di balik uraian rambutnya yang hitam sebahu, agak pemalu. Dia nampak ragu menunjukkan wajahnya yang putih pucat. Tidak terdapat sedikitpun aksen horor di ruang tersebut.

Saya seolah mendengar alur cerita yang gadis ini sajikan

Memotret si gadis kecil dengan bermodal kepekaan saja,  tidak akan cukup berhasil.  Di butuhkan faktor ketidak sengajaan untuk mendapatkan momennya.  Dan yang terpenting, ketulusan hati “meminta izin” kepada Yang Maha Kuasa. Allahua’lam

Tapi akhirnya, mata kiri ini menyudahi interaksi sesudahnya dengan air mata setelah sepulang dari rumah keponakan saya itu. Setiba dari rumah, secara pelan-pelan, saya kembali membuka foto dan mengorek sesuatu ditempat terjadinya peristiwa tersebut meski waktu telah berlalu.

Demi suatu alasan, diam dan memandang fenomena itu sendiri dalam hati sebagai kepastian jawaban.

Antara rasa iba, ambigu dan takjub bahwa dunia ini diciptakan selalu bersentuhan dengan dimensi luar yang memiliki sisi Ghaib yang kompleks, luas tak berbatas.

Dalam kehati-hatian tanpa merusak tataran yang sudah jadi aturan, seakan ada “area rasa” yang tersembunyi dalam hati ini  tengah menterjemahkan  yang gadis kecil ceritakan dengan simpulnya sebuah makna.

 

“Makhluk yang ingin dihargai dengan kondisinya sekarang, tetaplah seorang anak kecil yang butuh hiburan. Dia tetap punya rasa takut juga kepada manusia. Jangankan Kita manusia, harusnya lebih takut lagi kepada Dzat yang membuat makluk astral semacam itu”.

Semoga apa yang saya harapkan, senantiasa tegak lurus berada dalam Dugaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Seperti tulusnya doa, yang kerap saya beserta istri panjatkan tiap tengah malam:’ Robbana attina Fiddunya Khasanah” :

“Tuhan, hari ini kubuat sebuah pengakuan. Perasaan yang selalu terhubung dengan mata kiriku. Demi kemuliaanmu Yaa Rob’, Semoga engkau senantiasa memberi petunjuk di tiap kecerobohanku. 
Maha berilmunya Engkau, Maha melihat setiap apa yang hambamu perbuat”

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan