Kucing, Sahabat Imut Yang Terpelihara

Pergantian hari selama bulan Puasa menuju waktu berbuka, sepertinya sudah menjadi tradisi umum. Ditunggu hampir semua umat muslim di Indonesia. Dengan mengejawantahkan “Ngabuburit” ibarat prasarana melewati bulan ramadhan sebagai momentum yang asyik untuk bisa menikmati hobi. Mungkin alasan itu pula yang membuat orang tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk mengambil cuti.

Kali ini seorang ibu bernama Sania Ulfa, istri dari seorang pegawai negeri, sekaligus merupakan istri dari salah seorang sohib deket saya yang menceritakan pengalaman tentang berkah yang ia peroleh setelah rutin berpuasa dan menyalurkan hobinya memelihara kucing sembari mengisi kebanyakan waktu luangnya menunggu jam berbuka. Katanya, merawat dan memelihara kucing itu memiliki nilai kepuasaan tersendiri.

 

Awal perkenalan dengan Abdul Muin (teman saya yang kini menjadi suaminya), Bu Nia, tak menyangka kalu dirinya akan menjadi penyayang binatang. Ia berusaha menelateni kegemaran suaminya tersebut sejak 4 tahun lalu, anehnya keluarga mertua malah mendukung. Merekapun tidak memerlukan kwantitas sehingga mudah saja bagi Bu Sania yang kebetulan kala itu masih belum dikaruniai momongan untuk tidak terbesit ngeri maupun tidak merasa jijik apabila harus memelihara kucing dari bermacam ras.

Pengalaman pertama Bu Nia mengadopsi kucing-pun, itu tak disengaja. Kalau kebanyakan orang memelihara kucing karena proses perawatan dimulai dari kucing kecil yang imut hingga tumbuh menjadi kucing dewasa, in malah kebalikannya. Seperti rijeki jatuh dari langit, Tau-tau dapat babonnya / red: Induknya’ dan siap beranak. Kata beliau.

Kejadiannya bermula saat musim penghujan, Seekor kucing betina yang tengah basah kuyup tiba-tiba melompat tinggi ke langit-langit rumah untuk berteduh. Kedatangan kucing betina liar yang tak diduga sebelumnya, menunjukkan wajah gusar tentunya disertai erangan yang jelas.

Saking lantangnya, erangan tersebut terdengar seolah menyampaikan pesan sebuah kalau si kucing tadi ternyata hendak mencari tempat untuk melahirkan.
Itu merupakan kali pertama  kepekaan Bu Sania bangkit lantaran iba melihat kondisi si Induk.

Karena kebetulan kondisi rumah Bu Nia kala itu setengah jadi dan belum kesemua ubinnya dikeramik, kucing kampung jantan disekitaran lingkungan rumah lebih sering keluar masuk seenaknya. Sementara dari pihak mertua Bu Sania enggan mengusir kucing-kucng tersebut sebagai pembasmi hama lantaran banyak tikus. Disamping memang suasana rumah yang agak kumuh dan dekat dengan bekas lumbung padi menjadi sarang untuk kucing betina tadi beranak pinak.

 

Hari pertama Induk betina ini melahirkan 3 anak kucing, sempat suatu ketika timbul kekhawatiran di benak bu Sania jika induk kucing itu pergi atas kemaunnya sendiri. Mau tidak mau, yang merawat anak-anak kucing tersbut adalah dirinya beserta suaminya. Dan tentunya yang paling merepotkan ialah kelak anak-anak kucing-kucing tersebut akan buang hajat sembarangan.
Dan… apa dinyanah, kehebohan yang disangkah bu nia terbukti benar.

Anak kucing yang ditelantarkan begitu saja oleh induknya memang belum dibiasakan untuk dilatih mandiri dan bersikap sopan. Jangankan cara melatih kucing persia, tiap hari Bu Sania selalu disibukkan upaya menimbun kotoran kotoran tersebut dengan pasir. Kesan jijik masih sangat terasa jika kucing kucing tersebut pub seenaknya didapur, kata beliau. Jadi setiap sehabis makan atau setelah bangun tidur, bu nia yang rutin membersihkan kotoran kucing kucing ini.

***

Sewaktu saya berkunjung kerumah Bu Nia, setidaknya kini, telah tersisa 3 ekor yang semula berjumlah 5 ekor. 2 diantaranya sudah berpisah. Hidup berkoloni dari jenis kucing musiman yang tidak memiliki KTP permanen karena kerap berpindah pindah tempat. Kadang hanya datang sekali jika sedang dilanda kelaparan dan hanya mampir pada saat hasrat berkembang biaknya sudah tinggi. 1 sisanya  sudah meninggal dunia karena diracun. Tersisa 3 ekor yang hingga saat ini bertahan dan menemani keseharian bu sania saat suaminya tidak berada dirumah.

Kini 3 ekor kucing berbeda sodara tersebut sudah beranjak gede. Genre kucing lokal, dan uniknya oleh sang pemiliknya saat in diberi nama panggilan yang agak nyeleneh. Nyaris dikloning dengan ejaan huruf vokal khas orang jawa. 1 ekor jantan diberi nama Aryo, 2 betina lainnya diberi nama Mirnah dan Lusi

Aryo Kucing Sahabat imut Yang Terpelihara
Aryo Lagi Bobo’

Lusi, seekor kucing betina yang baru berumur sekitar 4 bulan-an. Lahir dari perkawinan Hybrid. Tidak jelas siapa bapaknya. Di adopsi saat masih berusia 2 minggu, dia agak pemalas namun lucu.

Induknya yang betina adalah Mirnah, sedangkan induknya yang jantan adalah mr-X alias tidak jelas (mungkin saja kucing ras yang berbulu tebal)  karena menurut saya pribadi masih terlihat samar apakah dari jenis persia atau ras anggora), cara membedakan anak kucing jantan dan betina dari jenis ras ini masih perlu dipertanyakan. Untuk penampakannya bisa dilihat melalui foto di bawah

Kucing, Sahabat imut Yang Terpelihara
Mirnah

Untuk makanan, tidak ada yang dikhususkan untuk ketiga-tiganya. Sejak kecil, jenis makanannya lebih ke olahan organik. Kadang untuk skala prioritas, diberi makan nasi pulen dicampur dengan serpihan ikan asin. Terkadang juga untuk makan sore diberi makanan selingan yang bu sania beli dari supermarket, seperti biskuit dan susu. Terlalu sering dikasih ikan asin membuat bulu-bulu si kucing cepat sekali rontok waktu dimandikan. Itu sebabnya frekuensi ikan asin hanya diberikan Bu Sania hanya pada saat kondisi ekonomi keluarganya sedang merosot. Ini tentunya agar si kucing terbiasa makan apa adanya dulu, mumpung masa pertumbuhan, tutur ibu sania sambil tertawa.

 

Terkait masalah kesehatan, pernah suatu ketika saat berumur 2 bulan, Lusi  pub di teras rumah. Alangkah kagetnya bu Sania melihat struktur dan bentuk kotoran lusi yang tidak lazim agak encer (karena terdapat cacing kreminya) sehingga timbul kewaspadaan tersendiri bagi sang Suami Bu Sania untuk memberikan obat cacing.

Kucing persia dan kucing Anggora
Lusi

Perawatan kandang juga tak luput dari perhatian. Dalam sehari, wajib hukumnya untuk di cuci lalu dijemur. Karena kucing yang notabennya masih anak anak akan rawan terserang kutu.

Sempat takjub begitu melihat Lusi ketika ada tamu datang. Tiba-tiba dia meloncat dan duduk di pangkuan pemiliknya, dalam hal ini bu Sania. Sambil tersenyum, Ibu Sania menjelaskan kalau Lusi adalah kucing tipe manja. Pengennya selalu diberikan perhatian lebih dan ingin selalu nampak nyaman

Yaaa, dasar Kucing.

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan