Hutang Online ? Jangan Harap Mengejar Pencitraan

Kompleksnya kebutuhan dan keinginan agar terus menjaga keselarasan hidup, membuat cara berfikir seseorang terus berkembang untuk maju dan selektif. Tata cara melalui seni berfikir yang rasional maupun yang irasional dan upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu semua, masih kerap meninggalkan polemik yang dilematis. Berhutang misalnya.

Banyak pendapat yang mengatakan, “Berhutang hanya akan menjamin kehidupan kita makin kere”.. Benarkah?

 

Sekilas, pernyataan tersebut manusiawi dan boleh dikatakan nyaris benar. Namun ada sedikit ketimpangan yang membuat pernyataan tersebut sarat akan masalah jika melihat pada konteks psikologi dan managerial.
Dan lagi, Orang yang mengatakan demikian, gagal membaca kepiluan yang dihadapi masyarakat yang sangat…sangat sangat…membutuhkan dana segar.

Hutang Online, Jangan di Kejar Pencitraannya

Untuk konteks Managerial saja, hutang skala besar seperti membeli rumah dan sepeda motor bisa menjadi objek percontohan yang paling sederhana dalam lingkungan kita.

Tentunya kita tidak mungkin begitu saja mengajukan permintaan hutang konvensional ke sesama dengan alasan yang demikian. Misalnya dengan gaya dialog macam ini:

“Permisi pak Jono, saya mau pinjam uang 180 jt ke anda untuk biaya beli rumah, apa boleh?

“Maaf nih bu desi, Saya boleh dong dikasih pinjaman duit. rencana mau buat beli motor?

Kecenderungan berhutang kepada rekan maupun sodara, apalagi tetangga, malah hanya menjadi pemicu pencitraan buruk dari sebuah “toleransi yang tidak menghargai”, karena kita akan di curigai dan di anggap sok kaya

Padahal di sisi managerial, bisa saja rumah dan sepeda motor tersebut merupakan kebutuhan primer yang wajib dimiliki saat itu juga demi menunjang dan memfasilitasi keberlangsungan hidup seseorang dalam bermasyarakat.

Belum tentu juga orang lain mau menyadari. Seolah peduli posisi kita yang saat itu memang diketahui dalam keadaan sulit, terhimpit keadaan. Betul-betul butuh pinjaman uang.  Sudah barang tentu, yang lain pasti enggan membantu, celakanya lagi malah kita yang nantinya dianggap sebagai benalu.

Fenomena yang sangat manusiawi ini bisa saja berujung petaka. Pihak sodara atau tetangga pemberi piutang terkena stroke, kejang dan akhirnya meninggal saking dengkinya, antara takjub dan dengki karena melihat kita mampu beli Rumah..(ini umpama saja).

Begitupun status sosial di kemudian hari lantaran kita dianggap pamer karena sudah dianggap mampu membeli barang mewah. Ataupun kesenjangan parah yang lain, sehingga menimbulkan rasa iri berlebihan antar sesama. (Dikit-dikit tetangga nyiyir karena kita dinilai keluarga mampu beli ini beli itu, dsb)
Bukan malah mendapat pinjaman, pihak yang berhutang malah di buat konflik karenanya. Sehingga, secara tidak langsung konteks psikologis telah berlaku disini.

***

Meninggalkan stigma miring perihal hutang diatas memang susah. Karena kita manusia yang cenderung berpraduga diatas kecerdasan logika, tanpa pikir panjang, sehingga rasa kemanusiaan dikhawatirkan rentan ambrol. Untuk memperoleh pinjaman-pun, kita tidak harus bertahan dengan cara konvensional dalam mengais simpati orang.

Sehingga, untuk meminimalisir semua konsekuensi tersebut, dengan diam tanpa perlu bersua menggunakan corong mesjid demi menutup ketidaktahuan banyak orang apabila kita tengah berhutang. Harus ada upaya keren yang dilakukan. Yakni Hutang diam-diam secara Online.

Pinjaman uang secara online menjadi pilihan sebagian besar orang karena memberikan kemudahan dan waktu pencairan yang cepat. Hal ini agaknya menjadi alasan yang berdasar mengingat harga properti, rumah, maupun kendaraan semakin naik setiap saat dengan pesatnya.

Untuk mendapatkan properti terbaik dengan harga yang lebih ringan, maka harus dilakukan dengan proses down payment yang lebih cepat pula. Oleh karena itu, tak heran jika banyak orang memilih untuk meminjam uang secara online agar bisa mendapatkan hunian idamannya dengan tempo yang relatif singkat.

 

Pinjaman online langsung cair merupakan metode baru yang mujarab agar kita tidak dicurigai sok kaya, menutupi identitas, dan yang penting menyembunyikan krisis sosial yang ada. Menggunakan hasil jerih payah berhutang bukan sebagai dasar kepentingan pencitraan, namun dapatnya melengkapi sesuatu yang kita butuhkan, bukan sekedar melengkapi sesuatu yang kita inginkan. Tuhan Maha lebih tahu dari apa yang kita mau.

Ingat ya. Setelah kata “terakhir”, terdapat frasa yang lebih menarik untuk melengkapi kata “terakhir” itu menjadi “paling akhir”.  Demikian juga tujuan utama kita berhutang.  Mantapkan misi paling akhir bahwa fungsionalitas hutang itu sebaiknya terencana, tepat sasaran sesuai faktanya secara teknis di lapangan.

Syukur-syukur kalau hutang itu di tujukan untuk hal baik dan memiliki mutu bernilai dimata sosial. Misalnya mendonasi blog Blogermie ini agar kemakmuran ekonomi kerakyatan yang digalang pak Jokowi tercapai . Inshaalah pembaca semua saya doakan masuk surga 😀

Di samping itu, berhutang banyak mengajarkan kita untuk lebih menghargai uang, seberapapun nominalnya.

Baca JugaWasiat Bijak Paman Gober, Nol Rupiah lebih baik dari Minus

 

Hidup di zaman seperti sekarang ini, kita diberi kesempatan seluas mungkin untuk menilai. Menilai lebih, menjadi seperti apakah pribadi kita ke depannya dengan segala resiko yang menyertai upaya dari hasil hutang.

  1. Ingin jadi pribadi yang landai-landai saja.  Namun tetap mengutamakan kehati-hatian dalam berhutang seperlunya dengan status pencitraan yang Preventif, Boleh saja karena itu hak anda.
  2. Ingin memperoleh pencitraan diri yang obsesif dengan mengorbankan banyak hal demi sebuah kepentingan tertentu, agar dipandang tidak sebelah mata. Boleh saja karena itu tujuan anda.
  3. Atau, malah tenggelam dengan gaya hidup eksklusif,  penuh kepalsuan yang seolah-olah diri ini kaya raya, Boleh juga karena ini gaya hidup yang mencerminkan anda.

Dari beragam alasan berhutang yang mendasari motivasi ketiganya, kita semua-mua bebas memilih yang disuka, sesuai kuota gengsi dan kebutuhan yang kita punya seharusnya.

Jangan alih alih hutang, malah melarat karena menuruti keinginan yang sebenarnya tak perlu. Bergaya parlente, kaya raya namun hasil ngutang?..wadadadada….hancurlah dunia persilatan

Semoga tulisan ini makin membuat kita berwawasan dalam menilai. Hutang tak selamanya meninggalkan kenangan buruk. Selama fungsionalitas dan tujuan kita mengajukan permohonan hutang tersebut benar-benar tepat guna. Rencanakan dengan matang. Hutanglah sesuai kebutuhan. Jangan dilandasi  keinginan semu yang kita saja tak mampu menggapainya. Karena yang mana dketahui bersama, menjadi “Gaya” dengan pura-pura kaya dengan gemar menumpuk hutang, menunjukkan kondisi finansial orang tersebut rawan jebol.

 

Salam rukun

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan