Kangen Pertunjukan Topeng Monyet

Cukup keras bunyi Gendang itu. Berhasil membuat saya serta sejumlah orang yang kebanyakan anak kecil, tertawa lepas untuk beberapa waktu. Penabuhnya yang relatif muda menambah sorak gembira bagi siapapun untuk lebih bersemangat menyaksikan pertunjukan Topeng Monyet.

Beberapa menit awal bunyi yang dihasilkan memang monoton, agak telat, mungkin juga tanda persiapan. Semakin intens iramanya seiring lenggak-lenggok si Monyet sebagai aktor utama.

 

Barulah sekitar 20 menit kemudian, tempo yang dimainkan mulai “rancak”, disesuaikan dengan lakon yang hendak diperankan

 

Wajah iba , raut penuh keletihan, semoga ada  uluran tangan para dermawan demi 1 jam lamanya, si Monyet sudah beradu peran demi bermacam-macam gaya. Ini merupakan saat  bagi pertunjukan topeng monyet untuk berpisah.

***

Membaca waktu bergerak, bergerak di Kontemplasi. Terkadang, saya merasa kagum dengan apa-apa yang sudah menjadi sistem sebuah masa lalu diciptakan.  Demikian pula untuk sebuah pertunjukan Topeng monyet atau Tandak bedes, rasa-rasanya akan mulai jarang saya temui, apalagi menemukan tukang tandak bedes yang hidupnya menetap.

Terbesit keinginan, semoga ada sebagian orang maupun komunitas yang masih melestarikan kesenian ini untuk anak dan cucu saya kita kelak :'(

 

Kalau seumpama dulu saya tidak dipertemukan dengan kesenian topeng monyet ini, mungkin keseruan ini juga tidak begitu saja bangkit dan menjadi deskrit menulis. Tanpa pikir panjang, menulis dengan tajuk topeng monyet-pun, menulis terasa mengalir begitu saja.

Meskipun Tradisional dan mungkin saya cenderung dianggap udik sebagai orang ndeso, ketika beranjak dewasa seperti sekarang, kerinduan dan sorakan bocah masih bersisa di ingatan.
Saya benar-benar masih menikmati hidup segan dengan membaur kembali menjadi anak kecil,  merasakan sensasinya begitu mengetahui ada pertunjukan tandak bedes di depan gang perempatan rumah.

Tinggalkan Balasan