Mengungkap Motif Terselubung Peer to Peer Micro Lending untuk UMKM

Seiring bertambahnya pengguna perangkat mobile seperti smartphone dan tablet dari waktu ke waktu, rupanya sejalan dengan perilaku para pelaku e-commerce lokal dan pelaku e-commerce luar negeri. Dengan alasan memajukan taraf perekonomian, bisa menjadi acuan pakem untuk memantau kapasitas pasar, menentukan target, dan batasan harga produk yang akan mereka jual, sehingga strategi promosi yang dipergunakan akan lebih tepat sasaran.

Entah bertujuan untuk serius atau fiktif, melalui sebuah percakap tertutup di aplikasi chatting. 3 Bulan yang lalu, salah seorang sahabat karib menunjukkan terdapat ketertarikan pengusaha luar negeri akan UMKM yang tengah ditekuni teman saya saat ini.  Singkat kata, prolog sahabat karib sekaligus saudara angkat saya ini adalah orang sukses yang lahir dari keluarga otodidak. Selain menjalankan usaha warnet, sekarang juga tengah bergelut kecil-kecilan di bidang UMKM Dompet fashion berlapis kulit ular.

Penawaran Ekspor Produk Ecommerce

Diceritakan dalam isi percakapan singkat tersebut, seorang warga kenegaraan Rusia mengajukan penawaran untuk membeli produk dompet wanita kulit ular yang dijual oleh teman saya. Belum terjadi titik temu karena teman saya masih ragu dengan adanya investasi fiktif setelah mengetahui quota yang begitu banyak yang secara tiba-tiba diajukan dengan mudah.
Meskipun asumsi tersebut masih sebatas praduga, teman saya melampirkan screenshoot ini kepada heruxumi yang ganteng sepanjang massa, sepanjang dunia akhirat, tak tertandingi sepanjang segala abad amiiin… dengan harapan agar teman saya ini memperoleh sebuah saran dan analisa:

Setelah saya berpusing-pusing ria dan berdiskusi panjang menggunakan google translator dengan sahabat saya ini, seumpama menerima tawaran tersebut, Dia mencetuskan sebuah ide berhutang lagi ke bank agar dia lebih mampu menginvesitasi usaha yang ditekuni. Meluas dan berkembang sebagai supllier.

“Bentar-bentar..untuk yang satu ini, mari kita godok bersama dulu say”..saya menimpalinya.

 

Bukan untuk membuatnya patah arang meskipun SDM yang teman saya miliki sekarang jauh lebih berkembang di bidang Investasi dan Usahanya ber UMKM , namun saya memiliki temuan objektif yang sedikit kurang berkenan di hati berkenaan dengan gagasan yang dia utarakan… yang diantaranya:

Percakapan 2 pria gendeng

Keterbatasan jangkauan pemasarannya secara letak geografis karena melihat posisi costumer yang jauh antar benua. Teman saya di Indonesia, sedangkan costumer di Rusia, perlu dipikirkan biaya operasional yang keluar untuk pengiriman karena produk yang dijual sudah masuk kategori barang ekspor.

Harus disertai berkas tambahan untuk melegalisasinya. Misalnya menyertakan Ijin SIUP, dan NPWP. Sehingga untuk bisa mewujudkan itu semua, tolak ukur yang diapakai adalah menggantungkan harapan pada bank atau lembaga keuangan yang memeiliki otioritas yang jelas secara hukum.

 

Masukan ke-dua ini bisa jadi yang masuk akal secara nalar demi melengkapi hasil temuan saya yang pertama, yakni:

Kalau mau mengajukan hutang lagi, sebisa mungkin menyelesaikan tanggungan piutang sebelum-sebelumnya apabila masih memiliki tunggakan. Apalagi kalau menyertakan jaminan, Dengan pihak bank manapun.ini Mutlak jadi sebuah permasalahan yang berbuntut panjang

Mengingat pengakuan teman saya ini begitu terkendala oleh piutang bank yang masih tersisa hingga kini, yang sepenuhnya belum terlunasi lantaran harus mengembangkan usaha warnetnya secara multitasking. Agak sulit kedepannya jika teman saya mau ini “nyundul” berhutang ke bank untuk ke-2 kalinya tanpa disertai syarat-syarat khusus.

Semua orang syah-syah saja dalam berinvestasi. Setiap investor seperti teman saya tadi sebagai pelaku bisnis, tentu mengutamakan aspek rasio dan aspek risiko dari keuntungan yang diperoleh. Namun, investor yang bijak, alangkah baiknya memahami beragam aspek lain sebagai prioritas diluar aspek bisnis, misalnya aspek social.

Berikut ini beberapa manfaat skema investasi peer to peer microlending yang wajib kita ketahui agar “tidak buntung di kemudian hari” :

    • Membantu industri kecil atau ekonomi kerakyatan
    • Salah satu manfaat skema investasi peer to peer microlending UMKM yang digalang bapak presiden jokowi adalah dampak social yang diberikan secara langsung. Karena, ketika kita berinvestasi pada skema investasi ini, maka secara tidak langsung kita telah membantu ekonomi kerakyatan mengingat mayoritas debitur pada skema investasi ini merupakan para wiraswasta kelas menengah di sektor UMKM yang membutuhkan dana untuk mengembangkan usahanya.
       
      Dengan kata lain, Anda bisa saja menjadi menjadi pelopor perekonomian bagi bangsa Indonesia mengingat sektor UMKM merupakan pilar dasar dalam perekonomian suatu negara.

    • Memberikan beragam pilihan investasi yang menggiurkan
    • Selain membantu industry kecil, dengan berinvestasi pada skema investasi peer to peer microlending, maka kita juga dapat memilih sendiri bisnis dan investasi yang di inginkan.
      Maksudnya, Kita dapat memilih sendiri wiraswasta manakah yang ingin Anda biayai dengan mengetahui imbal hasil yang ditawarkan serta tenor waktu pinjaman yang dijanjikan.
       
      Dengan demikian, kita dapat menentukan sendiri risiko yang dipilih serta potensi profit yang akan di dapatkan dikemudian hari secara fleksibel sesuai dengan keinginan.

    • Kepastian imbal hasil yang diberikan
    • Bukan hanya dampak social dan fleksibilitas yang dijanjikan skema peer to peer microlending juga memungkinkan kita untuk mendapatkan imbal hasil yang sesuai dengan kerja keras kita. Kepastian imbal hasil ini didapat dari persentase bunga yang ditawarkan debitur saat akan meminjam uang. Hal ini tentu menjadi keuntungan tersendiri mengingat investasi dengan imbal hasil yang pasti umumnya lebih minim risiko.

    • Harus resmi terdaftar dan diawasi Oleh OJK.
    • Lembaga, instansi, badan usaha maupun perusahan apapun yang bergerak di sektor simpan pinjam peer-to-peer atau P2P lending harus resmi terdaftar di OJK  (Otoritas Jasa Keuangan.)
       
      Dengan sertifikasi yang demikian menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan lembaga regulasi hukum pada perusahaan yang memiliki misi meningkatkan akses keuangan bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah tersebut.Untuk meninjau itu semua perlu disesuaikan dengan standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan pemerintah dalam hal sistem elektronik, penilaian dan mitigasi risiko, kualitas sumber daya manusia, dan faktor-faktor lainnya yang menunjang kelangsungan dan keamanan bisnis yang akan kita jalankan.

Melalui pengalaman pribadi dengan beragam referensi yang kami peroleh, kami tidak hanya berdebat. Kami berdua juga saling bernasehat hingga pada akhirnya menuju sebuah kesimpulan yakni:

Baik perbankan maupun lembaga keuangan manapun, pasti akan menerapkan sistem peer to peer micro landing bagi siapa saja yang berkepentingan membangun sebuah usaha. Khususnya bagi era Ecommerce seperti sekarang ini, rasanya tidak sulit menjangkau kaum milenial yang notabennya selalu dekat dengan perangkat smartphone. Akan selalu ada pertimbangan dibalik kelebihan yang di fasilitaskan badan usaha keuangan maupun lembaga-lembaga tersebut.

Jika menelisik lebih mendalam motifnya, bisa bercabang menjadi manfaat yang cenderung relatif bagi yang berpiutang. Kajiannya-pun bisa memiliki 2 alur yang berbeda makna. Bisa saja anda untung, bisa juga malah anda yang ketimpa buntung. Untuk itulah agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam mengungkap motif terselubung Peer to Peer Micro Lending untuk UMKM, Usahakan agar lebih mawas diri, membaca tiap persyaratan yang disodorkan pihak jasa pengelola apabila hendak mengajukan hutang.

Salah satu platform microlending yang memberikan dampak social yang besar adalah Mekar. Karena, Mekar berusaha menjembatani para pelaku usaha wanita yang ingin berkarya dan tengah membutuhkan modal.

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan