Lagu Sendu Berjudul Kecoa dan Kupu-kupu

Hampir setiap orang suka mendengarkan musik. Musik tak hanya berisi alunan nada dan himpunan lirik yang terimprovisasi dengan baik, tapi juga memiliki ragam dan manfaat. Mulai dari penyemangat mood, membakar adrenalin sehingga mampu membuat pendengarnya tetap khidmat dalam mengerjakan sesuatu.

Berbicara mengenai Musik, diantara sekian banyak penikmat musik pasti pernah mengalami peristiwa kurang menyenangkan apabila suatu ketika musik favorit kita dicibir seseorang hanya karena iramanya terdengar fals, liriknya kurang greget, dan beragam alasan rancuh yang membuat musik tersebut tidak familiar sehingga kurang begitu diterima oleh rekan seusia kita.

Melalui Kopdar kecil-kecilan dengan Uncle Loozakbar pada tahun 2013 yang lalu secara pribadi, saya mendapatkan banyak wedaran akan hal itu.
 

 
Menurut Sam Loozakbar (red-Panggilan Akrab sam), orang yang mencibir dengan gaya berpikir demikian, telah gagal membaca psikologi sesama.
Dengan mendengarkan alunan musik, apapun genrenya, kita tidak hanya akan merasa bebas seolah hidup merdeka dari berbagai tekanan yang sedang dihadapi, namun juga akan menggali sesuatu yang tersaji dibalik alasan terciptanya sebuah musik itu sendiri.

Sam Loozakbar yang diam-diam menyembunyikan identitasnya sebagai vokalis band dengan genre musik Indie ini juga menuturkan, mendengarkan musik juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi para pecinta seni demi mengurangi depresi. Musik juga berpengaruh sebagai salah satu indikator baku yang terbukti mampu mengekspresikan emosi seseorang secara tak sadar.

betul, saya sependapat.

 

Diskusi yang disampaikan oleh Uncle Loozakbar tak hanya membuat saya tertegun, tapi juga membuka mata saya yang penuh belek ini agar secepat mungkin terbangun dari ketidak-tahuan. Kebodohan kita selama ini yang mengaku sebagai penikmat seni ternyata dinilai tak efektif dalam memfilter kesenjangan yang ada. Bahwa sebaik-sebaiknya musik yang di gemari teman dengan judul apapun, ada baiknya di pahami terlebih dulu, disyukuri sebagai upaya penghormatan. Tanpa mesti mencibir, tanpa harus mencela demi mengulas sesuatu yang tersaji didalamnya.

Setiap lagu tentunya memiliki sebuah pesan yang tersyirat dalam tiap arrangement yang dibuat. Secara nada, tempo, dan lirik yang disampaikan pasti memiliki makna yang tersembunyi.

Kenapa musik itu dibuat dengan tempo yang cepat, nada yang rendah, hingga ritme yang rancak. Semuanya pasti penuh pertimbangan dan dibedakan, namun sesungguhnya tidak mengubah maksud yang disampaikan.

 

Lagu Sendu Berjudul Kecoa dan Kupu-kupu

 

Lagu Sendu Berjudul Kecoa dan Kupu-kupu

Grup NTRL | Sumber : mochammad-firdausblogspot(dot)com

Kecoa dan Kupu-kupu ini juga merupakan lagu anti sosial, anti mainstream yang mewakili wawasan dalam bermusik sejatinya wadah mengekspresikan diri. Lagi-lagi, menyanyi dan bermusik bukanlah sebuah ajang mencari tenar, namun sebagai simbol penyampaian ketersesakan diri terhadap keruhnya permasalahan yang dihadapi.
Grup netral adalah yang band yang menurut saya paling mumpuni. Membaca trauma sosial yang terjadi akhir-akhir ini.

Lagu yang secara syar’i mencerminkan kondisi sosial pada masa itu maupun masa sekarang ini, pernah suatu ketika hendak saya garap dengan Grup Band saya (namanya: Pekokyo’Band), namun kerap gagal karena mungkin bagi teman-teman penikmat musik, kehadiran bang Netral kurang begitu berkenan.
Alasannya sih sepele, karena liriknya cenderung urakan dan Chordnya di bilang ngawur,  tidak beraturan.

Pun begitu sebagai alternatif lagu pengganti meskipun agak kecewa, saya juga tidak menolak tawaran teman untuk menggarap lagu lain dengan genre pop rohani meski dalam hati banyak rekan yang menolak lagu-lagunya netral hanya lantaran sosok Bagus sang Vokalis yang di cap minus sebagai seorang pemabuk. (tidak suka vokalisnya, tidak harus tidak menyukai kesemuanya bukan..hadeeeh 🙁 )

Lagu ini menyiratkan pesan tentang prosa 2 kepribadian yang terdapat pada diri manusia, Dua sisi dua muka.
Ya, di ibaratkan tentang seekor Kupu-kupu yang memiliki banyak keindahan yang menjuntai, disandingkan seekor Kecoa yang menjijikkan. Tak memiliki potensi apa-apa selain organisme pembawa wabah penyakit.

kodratnya karena memiliki perbedaan sifat yang berseberangan telah hadir sejak lama, lagu ini diciptakan oleh Bagus netral dengan tidak melihat sisi kemunafikan, lirik-liriknya kritis terhadap perilaku sosial yang tengah terjadi saat ini. Tentunya lagu ini tidak bermaksud menghujat karakter manusia-manusia macam ini, namun secara humanisme lebih menyampaikan “hiburan” bagi hati yang didera depresi agar segera bangkit.

Saya berpendapat, meskipun memang terdengar urakan, Lagu Kecoa dan Kupu-kupu ini lebih ‘sahih’ jika menyanyikannya di iringi Drum, di tabuh pelan-pelan secara solo dari dalam rumah. Untuk diam-diam dinyanyikan dan di-amini dalam hati di sebuah studio yang kedap suara, tentunya akan lebih afdol dilakukan dengan tidak berteriak-teriak seperti orang gila daripada merusak kerukunan bertetangga.

***

Kita tidak akan tahu seberapa dalam kegalauan yang dihadapi teman. Untuk menentukan dirinya terhibur dengan caranya sendiri, kita tidak mungkin lantang menyodorkan solusi seolah genre musik kita-lah yang paling ampuh sebagai “obat” pelipur lara dalam menyelesaikan sebuah stigma sosial. Musik tidak diterjemahkan sesederhana itu.

Selain itu, musik memiliki caranya sendiri agar mampu membuat kesan nyaman bagi yang siapapun mendengarkan. Apalagi membaca waktu bergerak dengan keterlimpahan internet sebagai prasarananya. Kenikmatan dalam bermusik dapat diakses dimana saja.

 

Dengan adanya internet, kita bisa streaming lagu apapun sesuai kemauan. Salah satu provider yang memberikan paket internet terjangkau dengan kuota unlimited adalah GIG. Selain terjangkau, GIG juga suka memberikan promo buat para pelanggannya yang katanya dapat dipantau di http://gig.id/id/promotions buat dapetin berbagai promo yang lagi ditawarin GIG

Leave a Comment