Mantra, Buku Psikologi Manusia Cerdas yang Masih Tersibak Sekilas

Buku Mantra Deddy Corbuzier ini sangat kontroversial. Bukan karena kemampuannya sanggup menyantet orang, namun kata-katnya yang mengundang segenap rasa keingin tahuan yang tersembunyi untuk hadir…

Hakikat diri kehidupan manusia dalam bersosial adalah “Komunikasi”.  Berkomunikasi tak hanya mengenal ideologi berpendapat, berbicara, dan saling berkomentar, namun yang menentukan adalah gaya ber-komunikasi itu sendiri. Bagaimana membuat sebuah informasi yang kita sampaikan, dapat dipahami oleh lawan bicara.

Seni berkomunikasi merambah menjadi sebuah strategi cerdas mengolah kata, atau yang dikenal dengan strategi berbicara cerdas. Dalam hal ini, memahami karakter sesama, baik secara psikis, gaya bicara, dan gerak tubuh dan menangkapnya secara visual adalah kebutuhan telak. Namun sayang, tak banyak orang yang mampu mengkaji kebenaran ini.

Untungnya ada Deddy Corbuzier. Entertainer yang berhasil membuat imaji sulap menjadi hiburan yang cerdas. Meskipun Deddy tidak menyukai sebutan pesulap, hadir pada dirinya.

Memahami banyaknya pencapaiannya yang beliau peroleh, kebutuhan profesi keartisannya sekarang mungkin juga tak jauh berbeda. Menggunakan konsep yang sama sebagai referensi. Lebih banyak menerapkan pengetahuan yang ia capai sebelumnya sebagai seorang Mentalist.

Keberhasilan seorang mentalis ditentukan berkat kepiawaiannya menggali karakter dan perilaku manusia dengan lebih spesifik.

Mantra, Psikologi Manusia Cerdas yang Masih Tersibak Sekilas

Mantra, Psikologi Manusia Cerdas yang Masih Tersibak Sekilas

Melalui buku karangan yang telah Om Deddy Corbuzier tulis, saya tak hanya mengenal seni berfikir seorang Deddy dengan segenap hiruk-pikuknya, namun juga memperoleh tambahan pengetahuan yang sifatnya baku. Yaitu istilah Linguist Deception Art, dan Body Perception.

Apa saja itu?

Linguist Deception Art atau yang disingkat LDA adalah sugesti yang kita masukkan kedalam pikiran orang lain secara sadar, menggunakan percakapan umum yang biasa kita olah.

LDA ini membeberkan tentang rahasia kekuatan kata-kata ibarat sebuah padang tajam yang terhunus. Rahasia dari kata-kata yang terucap, sekilas nampak sepele namun ternyata dapat dipergunakan untuk memperdaya orang lain, maupun lawan.

Ini bagian terpenting Mantra, Buku Psikologi Manusia Cerdas yang Masih Tersibak Sekilas dalam etika berkomunikasi.

Bagi om Deddy, Penggunaan Kata-kata yang tepat dapat berguna sebagai mantra. Sebagaimana seorang Adolf Hittler yang terbukti mampu membuat massa dan mengumpulkannya dengan sedemikian banyak, mengubah pola pikir mereka dan membuat ribuan orang berduyun-duyun menggalang aksinya hanya dengan bermodal kata-kata.

Ini yang menurut saya paling menarik.

Mantra, Psikologi Manusia Cerdas yang Masih Tersibak Sekilas

Point kedua setelah membaca buku dari Om Deddy, saya jadi sedikit banyak mengetahui Istilah Body Perception (BP) atau yang dikenal dengan “bahasa tubuh”.

Ini merupakan suatu gejala penunjuk awal, atau indikator perasaan manusia yang sangat akurat. Boleh saja mulut berdusta, namun gerak tubuh tidak akan dapat mengingkari hati. Salah satu yang mudah dipelajari melalui metode ini adalah memantau gerak mata seseorang. Dari gerak bola mata saja, kita akan cepat mengetahui apabila lawan bicara itu tengah tulus atau berbohong.

Selain mata, deteksi kejujuran ini dapat di pantau melalui gerak jemari, gerak tumit dan gerak alis.

Om Deddy sengaja membagi tulisannya dalam 2 bagian besar diatas, (mungkin) dengan tujuan aware bagi kita. Mengingat rona zaman yang berubah seperti sekarang, bukan tidak mungkin bagi kita akan menjumpai fenomena yang berujung tipu daya dan upaya kebencian. Buku ini sangat bagus dibaca pada saat menyendiri, dengan penuh penghayatan.

Buku Mantra Deddy Corbuzier ini sangat kontroversial. Bukan karena kemampuannya yang tidak hanya sanggup menyantet orang, namun ketahuilah dan baca dengan seksama jika apa yang ditulis Om Deddy Corbuzier dalam buku ini bukan menjadi kemutlakan 100 %.  Bagi saya pribadi, masih memerlukan satu alat lagi, yaitu Kepekaan.

Agar metode yang dipakai sebelumnya memiliki akurasi yang tinggi. Kepekaan mencakup perasaan, spiritual, literatur pengetahuan yang kita miliki demi melihat suatu peristiwa dengan sebaik-baiknya pertimbangan. Wallahua’lam

Leave a Comment