Anggota Baru Keluarga Kami : “Malikun” dan “Siti”

Anggota Baru Keluarga Kami : “Malikun” dan “Siti” | Memiliki nasab sebagai satu dari sekian banyak keturunan manusia dengan predikat “setengah baik-baik”, segogyanya pantas untuk di amini bagi siapa saja. Sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Agung, beragam upaya, sering kita jumpai untuk melengkapi khasanah ” Hablum Minannas ” .

Upaya Hablum Minannas, bisa di tunjukkan melalui etika bersosial dengan lingkungan, misalnya memperbanyak teman dan saudara.

Disinggung mengenai, sudah berapa banyakkah kontribusi kita akan pentingnya menjalin ikatan saudara tersebut, setiap orang pasti memiliki metode sendiri-sendiri dalam memahami istilah pengayoman yang dimaksud. Misalnya contoh kecil saja, Mengadopsi anak.

Mengadopsi Anak sebagai titipan dan Anggota baru keluarga yang terpelihara

Mengadopsi anak, bukan hanya dicap bagi keluarga yang mengalami kesenjangan akan gagalnya memperoleh keturunan. Mengadopsi anak, bukan lantas dijadikan pedoman, sebagai stigma buruk karena datangnya gejala kemandulan.

Persepsi ini sebenarnya salah kaprah secara Maknawiyah. Karena kandungan isi yang tersyirat, bisa bermakna luas
Semoga kita semua tidak tersesat dengan berkembangnya apriori miring seperti ini.

Karena Faktanya, ada beberapa rekan kerja yang nyatanya berhasil mematahkan pendapat ini. Diantara dari teman-teman perempuan, yang kebanyakan berprofesi sebagai paramedis.

Mereka yang dibilang cukup sehat secara riwayat kesehatan, memiliki banyak anak dari proses kelahiran normal, namun entah kenapa, mereka juga segan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan.

Ternyata tak disangka. Upaya mereka dinyana, sangat cukup berhasil menggalang opini publik. Bahwa mengadopsi anak, memang seharusnya tidak boleh dipandang sebelah mata.

Nah, bagi yang merasa rendah diri karena sulitnya memiliki keturunan, Mengadopsi anak sebaiknya jangan dianggap sebagai sebuah tuntutan yang serius. Karena mulai saat ini, mengadopsi anak, mulai dihinggapi oleh keluarga manapun. Darimanapun stratanya berasal, dan siapapun orangnya.

Nilai luhur dibalik Mengadopsi anak sebagai anggota baru keluarga

Yang teman-teman lakukan, hanya semata-mata ingin berbaik hati dan bersyukur. Mengingat mereka juga ingat dengan janji profesi yang dijalani, Sehingga ketika bekerja, selain mencari rejeki, prospek cerah demi menolong orang. Mereka jalankan sepenuh hati.
Itu yang memotivasi keinginan mereka.

Subhannallah, saya bersyukur kembali, karena mendapatkan pengetahuan ini sebagai pemahaman yang layak untuk dikaji

Sebagai Keluarga Absurd. Karena merasa terpanggil, Saya beserta istri sepakat mengadopsi anak.

Bisikan akan datangnya Anggota Baru Keluarga Blogermie

Meskipun kami tidak memiliki latar belakang penyimpangan yang abnormal dari segi kesehatan, dan sudah cukup bahagia melakukan upaya adopsi, setulus hati.

Alhamdulillah, karena rasa terpanggil dan iktikad baik saja. Demi mencapai keinginan yang disampaikan teman-teman tersebut, Saya mengiyakannya.

Karena efek kegirangan yang ada, malamnya, saya melakukan sholat hajat. Semoga timbul harapan dan semoga cita-cita halal tersebut, bisa terkabul di keesokan harinya.

1 jam kemudian, Pukul 02.12. Terdapat perasaan tak biasa. Menyisakan mimik yang Aneh. Entah karena pendengaran ini yang terlalu peka atau apa. Terdengar sayup-sayup suara, rintihan anak kecil dari teras rumah.

Karena memang gangguan-gangguan gaib, seringkali menjadi pemandangan yang biasa di lingkungan saya tinggal, yang sejak dulu terkenal angker. Ditambah aksen tegas posisi rumah ini tegak berdiri, yang bersebelahan dengan rerimbunan pohon pisang. Semakin menambah kesan mistis itu. ( Bagi teman-teman yang tertarik melakukan Urban Exploration di tempat saya, dengan berkenan hati, akan saya antarkan. Urusan kesurupan, ditanggung penumpang ya. 😀 )

Anggota Baru Keluarga Kami : “Malikun” dan ” Siti “

Sudah menjadi kebiasaan melakukan “Melek Wengi“. Sering bagi saya untuk tidak peduli, menghiraukan suara-suara lirih, sebagai satu tantangan tersendiri dalam menghadapi tirakat sunyi. Saya tidak merasa teralih dari posisi.

Pun begitu, semakin sering diabaikan, suara anak kecil yang makin lama, terdengar makin lantang ganjilnya, mengganggu gendang telinga kiri.

3 menit kemudian, saya putuskan beranjak dari posisi bersila, saking kesalnya. Melangkah ke pintu depan raung tamu. Demi mengetahui dari mana suara-suara sumbang itu berasal.

Astaga, tak disangkah. 2 anak bayi tanpa sengaja, di biarkan tergeletak di Ubin, teras rumah. Hanya dibalut Kain halus dan sebuah Kerdus.
Kedua bayi itu sangat lucu. Kedua matanya masih terpejam. meskipun terlihat jelas keduanya sangat lemah, dengan kondisi yang memang terlahir secara prematur.

” Sungguh tega benar, siapa orang tua yang rela membuang bayinya di tengah malam seperti ini “ ; – Pikir saya

Karena Gugup dan takjub, saya membangunkan Istri untuk mengadopsinya sebagai anak asuh. Istri saya riang bukan main. Kami berdua-pun, sepakat memberi nama kedua anak itu dengan panggilan Malikun dan Siti. Hari bertepatan dengan kejadian angker tersebut bermuara, hingga keduanya tumbuh dewasa dalam kurun waktu 1 bulan lamanya.

Kami tak buru-buru lapor polisi, karena kami sangat peduli dengan kondisi keduanya. Belum lama ini, Kami juga berkeinginan untuk mengurus urus akta lahirnya. di Kantor kependudukan. Agar keduanya, dapat secepat mungkin memiliki identitas diri.

Harapan yang akhirnya dinanti-nantikan. Anggota baru keluarga kami

Ya, begitulah cara kami mengeksplorisasi wujud rasa syukur kepada Yang maha kuasa, Tentang makna penting Adopsi anak. Melalui titipan 2 bayi mungil. Sekaligus menutup ketidak tahuan banyak orang, dan heningnya malam itu.
Kalau keduanya terlahir sebagai anggota baru keluarga kami.
…..
…..
…..
Sebagai Kucing.

Yeay !!!…. Waktunya Makan-makan 🙂

Malikun yang berarti “Makhluk Lakum dinukum. Binatang satu-satunya Kesukaan Rasullullah. Terhadap Tauladan beliau, menjadi alasan dan motivasi diri bagi kami, untuk wajib merawatnya.

Malikun sangat lincah, dan bulunya lembut, cenderung bersih. Kadang tidurnya di kamar. Di bawah kolong tempat tidur. Kadangkala kalau sudah bermain, Sajadah sholat malah dibuat bermalas-malasan. Terkadang kalau terlanjur nakal, Malikun bisa berak disana.
Waduh. apess buat saya.

Sedangkan Siti, di plesetkan dari olah bahasa: ” Yang tersyirat Kata, harus senantiasa di jaga dan di lindungi“.

Karena jenis kelamin Siti adalah perempuan. Wajib dibela sebagai hak kekayaan, intelektual perempuan.
Irma kecil seringkali bermain dengan Siti. Hanya di saat Siti sedang Bad mood, dan merasa butuh teman.

Baidewe, nama Siti ini kami berikan, mengingat kondisinya waktu pertama kali diadopsi, sangat kurus, dan butuh perhatian.

Malikun dan Siti. 2 Kucing lokal, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Satu-satunya yang membuat kami mendirinkan Azas tersendiri. Azas perkucingan.

Agar komunitas Front Pembela Kucing, atau FPK, terpelihara dengan baik, Kami melarang orang jahat menganiaya dan mengintimidasi kucing dari bermacam ras. Karena itu Jahab, dan tidak sesuai Perikekucingan. Kecuali 1 jenis Kucing yang boleh anda siksa, Yakni Kucing garong.

Artikel Terkait :

Comments are closed.