Ayat Suci Untuk Ibu Pertiwi – Semoga Tuhan Mengampuni

Setiap musibah dan cobaan, selalu terselip hikmah untuk mengundang segenap pertanyaan. Pertanyaan yang mestinya kita renungkan sendiri, sebagai tabir akan datangnya peringatan.

Satir dan menyedihkan. Itu terjadi ketika dunia menyorot Indonesia pada tanggal 19 Agustus 2018. Kemarin malam.
Media asing dan internasional, tak henti-hentinya melihat gempa Lombok, Nusa tenggara timur ini, sebagai suatu musibah yang serius, sepanjang sejarah.
Semenjak tragedi bencana tsunami di Aceh, yang lebih dulu dikenang lantaran gulungan ombak bercampur lumpur.

Kerugian material dan jatuhnya korban nyawa, sudah pasti ada. Namun yang paling menyakitkan adalah rusaknya tatanan sosial yang sudah sekian lama terbentuk. Peristiwa beruntun yang terjadi 2 kali sehari, yang menimpa pulau kecil yang dikenal sebagai destinasi wisatawan asing itu, membuat mata dan simpati siapapun yang iba, justru mengarah kesana.

Meskipun sempat terhibur dengan gaya nyentrik Yohanes Lau Gama, berikut ueforia janji Joni Panjat Tiang Bendera. Tatkala dirinya diundang duduk di meja Menpora, yang berhasil mewujudkan rasa kebhinnekaan terhadap sikap heroiknya menyelamatkan Sang-saka merah putih.
Entah kenapa, setelah mendengar kabar bencana, Saya seperti kehilangan kesadaran. Passion untuk menulis, terasa hilang.

Entah kenapa pula, Seperti Simbiosis mutualisme. Ketika melihat relawan yang sudah bersusah payah menghibur anak kecil di sana, demi mengurangi kepiluan yang ada. Malah dirudung kekhawatiran yang berulang.

Sulit sekali untuk tidak memikirkan mereka, apalagi jika seumpama korban yang terjatuh, berasal dari lingkup anak kecil dan lansia. Yang malah membuat mata kiri ini, kerap kali berkaca-kaca. Menjulang kembali paradoksalnya.
Semoga Saudara-saudara kita di NTT, di beri ketabahan oleh Tuhan YMK. Amin

 

Di Grup Whatsapp, teman-teman saling mengungkapkan rasa bela sungkawa. Begitu tahu, terdapat 1 rekan yang mengupload statistik gempa berkekuatan tinggi yang menimpa Lombok, melalui pantauan BMKG. Berupa aplikasi, berstatus awas.

Saya baru mengetahui informasi tersebut, ketika sampai dirumah. Bertepatan dengan jam pulang ngantor. Sepulangnya dari kerja shift sore, saya langsung membuka Hape

Melodramatiknya ketika ada dorongan kemanusiaan, yang ingin saya pelajari.

Ya … fenomena apa yang tengah terjadi, ditengah riuhnya masyarakat indonesia yang masih dalam kemeriahan kemerdekaan. Namun dengan secara mendadak dan tiba-tiba, Tuhan menghadiahi negeri ini dengan macam-macam kalam seruan.
Dimulai dari waktu terjadinya Gempa susulan kemarin malam. Sorot mata langsung terpaku pada tanggal 19-08-2018.

( Sembilan belas ) – 19, Angka pada kalender Hijriyah. Yang merupakan satu-satunya penunjuk bilangan, yang melengkapi 30 hari, dalam kurun waktu 1 bulan lamanya.
Bagi pemahaman saya yang masih dangkal ini, 30 hari sudah mewakili hadirnya 30 juz, dalam 1 Alqur’an.

Dalam Alquran, 30 Juz terbagi atas Judul surat yang berbeda-beda tujuan. Mengisyaratkan beberapa kejadian, asal, sebab-musabab dan pengalaman kelam orang terdahulu yang pernah mengalami peristiwa terjerumus.

Alquran adalah penyempurnaan dari kitab-kitab lampau, yang dimana para penghuninya pernah mengalami kuyub, lantaran mengesampingkan ajakan kebajikan.

Adapun maksud Alquran dibuat, tentunya tak hanya sebagai pedoman. Alquran merupakan wujud telah berdukanya sebuah keyakinan, akan pentingnya berbagi pesan. Tidak terdapat motif lain, kecuali untuk selalu bergandengan tangan dengan para sahabat, meraih selamat dalam hidup bermasyarakat.

Tanggal 19, dan Bulan 8 ?

19 yang tertuju pada gejala yang merujuk pada Surat Maryam. Sementara 8, adalah ayat yang menunjukkan latar belakang Maryam dilahirkan.

Sumber Gambar: Quran30(dot)net

Disebutkan melalui Ayat_Nya, Seorang Nabi yang akan di karuniai anak. Namun ditakdirkan menjalani serangkaian musibah yang ia jalani. Bersama Istrinya.

[Ayat 8 ] Zakaria berkata: Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua

Karena dirasa kurang mampu, lantaran uzur usia. Bagaimana mungkin Manusia yang sudah uzur tua, masih produktif untuk memperoleh keturunan. Disini, Mukjizat dari tuhan, telah Muncul.

Demi menjaga kesalehan iman, dan agar keinginannya terwujud. Sang Nabi Zakaria harus melakukan Puasa, selama 3 hari.
Sang Nabi harus dengan cukup rela melakukan seperangkat ritual “tapa wicara” yang seolah membuat hidupnya ter-suaka dari lingkungan sekitar. Tidak boleh bicara kepada orang lain selama 3 hari, terutama untuk hal-hal yang tidak perlu.

Masih dalam 1 naungan surat yang sama, terdapat sambungan ayat lain yang memiliki1 korelasi. Meskipun mencoba menukar angka 8, menjadi 19 . Menggunakan pola terbalik seperti intelektual cak lontong. Hasilnya tetap sama, dan cenderung tak berubah.

Ayat ke 19, malah mempertegas bahwa Sudah menjadi garis bagi Maryam, bahwa kelak akan lahir anak dari rahimnya sendiri.
Proses kelahiran yang sama terjadi, tanpa di dahului proses biologi. Mirip seperti nasab pendahulunya, Nabiullah Zakaria. Yang itu semua, semata-mata Anugerah dari Yang Maha Kuasa.

[ Ayat 19 ] Ia (jibril) berkata:Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci“.



***

Tataran, cobaan, dan ujian yang silih berganti, merupakan awal akan datangnya peristiwa besar. Yang Niscaya itu baik.
Maksud yang disambut “baik” tersebut adalah dengan lahirnya Siti Maryam itu sendiri. Calon ibu, yang kelak melahirkan anak laki-laki, yang memiliki pengaruh besar terhadap keselamatan makhluk bumi. Calon Ibu bagi Nabiullah Isa AS.

Ayat Suci Untuk Ibu Pertiwi – Semoga Tuhan Mengampuni

Bilamana kedua ayat itu dikejar maknanya sesuai tatanan bahasa filsuf, boleh jadi, Sosok Maryam itu adalah Gambaran tak kasat mata dari jati diri bangsa indonesia sendiri. Yakni Ibu pertiwi kita, Indonesia.

Ibu Pertiwi di sini, menggambarkan Kondisi Geografis negeri, yang telah lama hidup dengan memiliki sisi keragaman, kearifan lokal, dan nilai kemajemukannya.
Tanah Nusantara Indonesia, yang diketahui bersama, memang terlahir tanpa melalui proses biologis.Kemerdekaan indonesia-pun mutlak sebagai Anugerah dari Yang Maha Kuasa.

Karena sejak dari zamannya, yang seringkali kita dengar sebagai nilai history berdirinya negeri ini adalah: Ibu Pertiwi. Tidak satupun, di literatur lama, orang akan terpicu menyinggung : Bapak Pertiwi.

Ibu Pertiwi pun demikian. Akan melahirkan perubahan besar. Ujian-yang menghantam Maryam, adalah semata-mata Ridhonya. Berikut gambaran bagi suatu negeri untuk berbenah, sebagaimana akan disambutnya kelahiran Nabi Isa di muka bumi, sebagai juru penyelamat.

Boleh jadi, dengan di hadirkannya bencana di beberapa titik wilayah indonesia, akan menjadi awal perubahan yang besar pula. Akan lahirnya “ANAK”.

ANAK, tidak harus diterjemahkan ke kosakata kenabian sesungguhnya. Namun sesuatu yang belum spesifik, dan cenderung Ambigu. Pastinya, hanya sanggup di terjemahkan dengan Tatanan filsafat, maupun bahasa Tasawuf.

ANAK di sini, bisa berupa:  budi pekerti luhur, bisa berupa tokoh, bisa berupa pengetahuan, bahkan bisa pula Ideologi, yang membawa penghuninya berada di tataran yang benar.

Untuk kapan hal tersebut terjadi?

Wallahuallam, hanya Tuhan Yang Maha Kuasa-lah yang tahu

2 Ayat diatas adalah seruan untuk semua manusia. Karena jika dikembalikan kembali ke hakekatnya, semua kejadian itu, pasti berasal, dan kembali pada Allah, yakni “Ajakan Takwa kepada Allah”, beserta peringatan akan sampainya “Hari baik“. Sesuai keyakinan kita masing-masing.

Ibu pertiwi kita memang tengah bersedih. Seperti yang lebih dulu diungkap melalui penggalan lagu. Karangan Ismail Marzuki

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa

Artikel Terkait :

Comments are closed.