“Bayi Tanpa Kepala” hingga “Hukum Hak Waris” yang Tiada [ 2 ]

” Ini bukan tentang ancaman Hari Kiamat. Ini bukan tentang siapa yang yang lebih dulu mengucap kata Taubat, Bukan tentang mengapa setiap hamba harus berpegang teguh kepada 2 kalimat syahadat, dan bukan pula tentang ajaran Nabiullah Khidzir demi mencapai mendekati pintu makrifat.

Bahasa-bahasa yang sulit di pahami menggunakan kajian Syar’i, sengaja tidak ditulis oleh para Pendahulu. Agar tataran yang haq’, tetap kekal, tak lagi rusak. Agar suci-Nya tidak bercampur dengan yang Bathil.

Itulah alasannya. Kenapa orang jaman dahulu, yang notabennya tidak dibekali keahlian formal seperti umumnya kita yang duduk dibangku sekolah, mulai dari pengetahuan berhitung, membaca dan menulis, namun sudah begitu cerdas mencerna bahasa-bahasa ketuhanan. Begitu ringkasnya menangkap pesan-pesan alam yang tersaji melalui budaya ngaweruh dan “laduni”. Melalui kualitas hidup yang mereka jalani tiap hari berupa tirakat sunyi ( Definisi Sembahyang * – Sembah Yang Maha Kuasa dengan Hati yang tenang- ), Baik dari perkataan, perbuatan, pemikiran, dan pengambil keputusan sebagai sebuah simbol hakikat diri.

Berusaha belajar untuk memahami, dan belajar “tak seberapa tahu” untuk mencari tahu. Dari literatur kuno yang dulunya terbenam, diyakini kesalihannya oleh para leluhur dan para pendahulu, menjadi ajaran yang sengaja tidak ditulis dan ditebar secara bebasdi kajian umum, sejatinya pasti muncul kembali sebagai kebenaran sejati dan terbuktikan oleh fakta-fakta ilmiah di abad ini.

Lebih spesifisifiknya lagi, Kebenaran sejati akan selalu di bombardir, dikelilingi dan selamanya akan ditentang oleh sifat sifat yang tak terpuji sebagai penghalang.  Tanpa berkelit dari keadaan itu, kita tidak perlu cemas. Jangan pesimis untuk senantiasa berbuat baik kepada siapapun, senyaman yang kita bisa. Sesuai dengan keyakinan yang kita anut.

Keduniawian akan selalu berliku-liku, disertai tikungan hidup yang menyakitkan. Sebagaimana pesan terakhir Kanjeng Nabi Muhammad SAW, agar kesucian-Nya tetap terjaga.  AHAD selama-lamanya”

Begitu pula sepulangnya dari kediaman paman dini hari itu. Saya merenung sendiri di bilik kamar. Hanya ditemani dengan lampu temaram dan gemeremang kalam ilahi, agak terbebani dengan 2 kata kunci dari paman. Makin dipikirkan sepanjang malam, Jawaban malah enggan untuk datang. Paman seolah tak pernah capek dan berhenti memberikan saya PR. Entah kenapa.

Keesokan paginya, ketika terbangun, saya tergerak mengikuti hati kecil untuk mengkaji makna filsuf yang ditimbulkan 2 kalimat beda arti tersebut. Atas SeizinNya-lah, Tulisan ini akhirnya selesai dibuat.

Makna Filsuf yang pertama

Bayi Yang Terlahir ke Dunia Tanpa Kepala

Bismillahirrahmanirrahim…Dengan menggunakan logika akal yang terbatas ini, semoga kita semua tidak salah kaprah menafsirkan tiap Ayat yang jadi Petunjuk-Nya. Aminn YRA.

Karena yang dimaksud dari petunjuk Bayi Yang terlahir ke dunia Tanpa Kepala, bukan lagi cerita fiksi berwujud Balita kecil yang mengalami cacat tubuh seolah kepalanya terpenggal sejak lahir, atau Bocah yang terjangkit Virus Zombie di Game Resident Evil 6, maupun Anabelle yang muncul tiba-tiba dari dari liang lahat yang menghampiri dan mencekik leher korbannya. Namun terdapatnya  sebuah kekuatan di muka bumi yang mampu menimbulkan perubahan besar dalam proses terbit dan tenggelam matahari, Seolah datang, kemudian pergi. Dalam konteksnya yang lebih diperdalam lagi menjadi Penciptaan dan Pemusnahan

Melalui sumber yang sebelumnya yang sudah seringkali disinggung melalui tausiyah paman, meski agak terngiang dan teringat-ingat tentang pengetahuan, yang bersama-sama [dengan guru beliau] dikembangkan dalam tahap belajar. Ditambah referensi yang saya peroleh dari sumber lain, Inshaallah saya meyakini 2 kata kunci yang dimaksud melalui bayi lahir tanpa kepala adalah:

Bayi yang lahir melalui hubungan gelap di luar nikah. Kemudian bayi-bayi ini sengaja dibuang oleh kedua orang tua lantaran karena takut aib Zina yang dilakukan kedua orang tuanya ketahuan. Sehingga di waktu kelak, bayi ini tumbuh menjadi dewasa dan hendak menikah, mereka menemui kesulitan. Karena tidak memiliki bukti kuat yang dijadikan Wali nikah yang Syah.

"Bayi Tanpa Kepala" hingga "Hukum Hak Waris" yang Tiada [ 2 ]

Untuk alasan kenapa anak kecil itu dibunuh oleh Nabiullah Khidir A.S, mohon maaf saya tidak berani membuka kajiannya lebih mendalam lagi karena pengetahuan itu sudah diluar, area “rasa”. Mohon maaf pula, tidak sopan dan wagu bila diceritakan tanpa di dampingi Mursyid. Sebelum kita digolongkan sesat karena kurangnya pemahaman makrifat ( termasuk diri saya sendiri). Ajaran Makrifat bukanlah ajaran sesat, hanya kita manusia yang kurang akan pengetahuan dan enggan untuk belajar. Untuk sementara waktu, baiknya kita wajib membentengi diri dengan hukum syariat terlebih dahulu jika ingin menanjak ke situ.

Paradoks memang. Namun demikianlah kenyataan itu. Menjadi satu bukti bahwa degredasi Zaman sudah memasuki fase “tua”. Gejala-gejala yang ditimbulkan melalui krisis sosial muncul sebagai peringatan “pemusnahan” yang mutlak untuk di pedomani. Menimbulkan perubahan besar yang harusnya membuat kita makin peka.

Untuk itulah, Keluarga merupakan aset yang wajib kita pelihara, agar terhindar dari kobaran api neraka. Jangan sampai pengetahuan akademis yang yang selama ini kita puja puja bak berhala, menjerumuskan anak kita menuju pergaulan bebas, pergaulan yang tidak semestinya.

Jangan sampai materi yang kita hibahkan kepada anak cucu kita sebagai bekal, yang kita gadai-gadai sanggup menjamin masa depan anak cucu kita makin sukses di dunia, malah menyingkirkan kita akan pentingnya tauhid dalam menuaikan ajaran agama, yang lebih “masuk akal” dipergunakan demi menunjang kesuksesan di Akhirat

Makna Filsuf yang Kedua

Hukum Hak Waris Yang Hilang

Pengetahuan ini sebenarnya umum, namun seiring perubahan zaman, aturan-aturan yang sebelumnya sudah terikat sebagai hukum Syariat, lama kelamaan malah ditinggalkan dan disepelekan. Bahkan dicampuri sebuah kepentingan lain. Lantaran materi.

Pun begitu, bukan berarti anda harus minta jatah lebih, bukan pula mendoakan orang tua-agar secepatnya lekas mati, lalu berharap lebih dari datangnya sebuah warisan. Sekali lagi, Ini persepsi yang salah.

 

Seringkali saya melihat. Bukan hanya divisualkan melalui tayangan sinetron. Bahkan dialami oleh salah seorang keluarga dari pihak mertua laki-laki. Selagi menjalin ikatan keluarga, anak kandung, saudara yang ditinggalkan. Mereka tetap memiliki hak waris, meski nominalnya tidak tergolong besar.

Celakanya, ada beberapa anggota yang tergolong tidak masuk kategori itu. Dia adalah anak angkat. Anak angkat yang tidak memiliki ikatan gen dengan keluarga manapun, anehnya malah diberikan hak. Sungguh, saya tidak mengerti dan tidak habis fikir. Sementara masih terdapat keluarga dari Adik mertua ( yang kini almarhum) yang semestinya lebih berhak memperoleh hak waris, malah tidak di prioritaskan. Nauzubillah.

Untuk menghindari persengketaan akan pentingnya kerukunan antar keluarga itu memang perlu, tapi yang patut diwaspadai adalah, setiap upaya kita dalam beribadah akan ada pertanggung jawabannya. Jika 1 saja terdapat tindakan tercela berupa memakan ” yang bukan haknya “, bisa bisa ibadah-ibadah lain akan dianggap mubazir. Ini dijelaskan di firman Allah SWT Q.S. An-Nisa’ ayat 13.
Kita bisa membacanya/ mencari tau isi kandungan ayatnya disitu.

Demikianlah. Jika berbicara tentang hak waris, itu merupakan gejala penunjuk awal akhir zaman. Sekaligus tanda sisi terlemah kita. Rendahnya akhlak karena manusia sudah diciptakan identik dengan kondisinya yang serba merasa kurang, serakah, dan tamak.

***

Kita semua seyogyanya berusaha belajar untuk memahami, dan belajar “tak seberapa tahu” untuk mencari tahu. Dari literatur kuno yang dulunya terbenam, diyakini kesalihannya oleh para leluhur dan para pendahulu, menjadi ajaran yang sengaja tidak ditulis di kajian manapun, sejatinya pasti akan muncul kembali sebagai kebenaran sejati.  Terbuktikannya oleh fakta-fakta ilmiah di abad ini, Semua yang terlukis dan tergaris, secara nyata sudah terjadi.

Comments are closed.