Bencana Gempa Bumi, Bukti Nyata Dari Alam yang Tak Pernah Ingkar Janji

Pernah suatu ketika, Saya membaca Kisah Marcus Aurelius Antonius. Seorang Kaisar Roma di awal abad Masehi, yang mengatakan melalui quotenya : “tidak ada yang jahat apabila sesuai dengan alam”.

Kalau begitu pemikirannya, boleh diterjemahkan bahwa rasa sentosa dan bahagia itu, senantiasa menjadi hak setiap insan, manakala ia sendiri tidak berlawanan dengan “Hukum Alam”. Walaupun Alam tetap bekerja sesuai koridornya, dengan cara dan tatarannya sendiri.

Ketika digma Marcus ini dirunut menjadi aplikasi yang besar, dalam konteks panen bencana di Nusantara, 3 hari ini berturut-turut, KekuasanNya telah tersampaikan dengan demikian hebat sebagai suatu ujian dari Tuhan, Kerap ditunjuk sebagai fakta akan disharmoninya Manusia dengan Alam.

Ataukah dalam bahasa yang agak kasar, kejahatan manusia yang sudah terlukis di kitab suci manapun seperti Alqur’an, Bibel, Jawa Sansekerta, dsb, Merupakan reaksi alam yang sudah menunjukkan sulitnya menyesuaikan hakikat dengan perilaku manusia pada akhir Zaman?

Tsunami Aceh adalah etalase musibah alam terkongkrit yang tergambar jelas. Menyiratkan sebuah kebenaran yang menyakitkan bahwa “kesuraman” masa depan tengah menghampiri negeri ini, setelah tragedi digulung ombak dan lumpur.

Disusul dengan Musibah beruntun berupa Bencana Banjir Bah di Solo-Pacitan-Ngawi, kemudian Banyuwangi kapan waktu yang lalu, Letusan Gunung Merapi, Letusan Gunung Kelud, Erupsi Gunung Semeru dan Bromo. Gunung Agung di Bali-pun, tak luput dari perhatian.

Sejak BMKG menyatakan berstatus Siaga 1, yang bisa sangat beresiko menjadi Gempa Bali di pertengahan tahun 2017 kemarin. Terakhir pula tersiar kabar, bencana susulan berupa gempa, baru saja terjadi di beberapa titik Nusantara seperti Riau, Malang, dan Nusa tenggara. Dilansir BMKG untuk prediksi 2018 yang jatuh pada tahun ini.

Selaku penulis dan Penganalisa, Saya tak menghitung seberapa banyak dan seberapa jelas total kerugian yang diakibatkan. Taksirannya bukan terletak pada kerugian harta benda dan ekonomi, melainkan kerugian emosional dan fikiran, Karena di sinilah beban mental akan sangat terkuras demi terciptanya simpati global secara kemanusiaan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memperingatkan akan adanya perubahan suhu yang dibilang ekstrem di wilayah terdekat khatulistiwa. Dan ini sudah terjadi di Puncak Dieng.

Suhu udara dingin yang melanda sejumlah titik dataran tinggi, adalah yang terekstrem dalam sepekan terakhir. Di Sumatera, Jawa, Kalimantan Bali dan Irian, akibat pergeseran udara di Asia yang kini berstatus menjadi lebih dingin. Seolah sedang terjadi Pertukaran Musim di penjuru Bumi

Memang, Bencana sekecil apapun tetaplah Bencana. Hanya manusia yang mengalaminya-lah yang pantas tahu, pantas mengerti arti kegetiran hidup sebagai korban. Termasuk kehancuran hati ketika ditinggal sanak famili. Dari kerugian material dan moril, yang kesemuanya itu merupakan fasilitas hidup mereka sendiri.

Sebatang Pohon dan rumput teki yang terinjak-pun pantas di sikapi. Ia potensial menjadi bencana kebudayaan, disaat manusia mulai tahu kesadaran diri demi menggunakannya untuk kepentingan ibadah, kesenian, dan piranti spiritual.
Sayangnya ketika alam sudah terlanjur “murka”, kita baru berharap akan datangnya perubahan. Kita terlambat menyadari hal itu.

Sayang, tidak semua insan piawai menterjemahkan kajian kitab yang sudah dirapal. Di Alquranulkariim yang selalu di dahului dengan 2-3 huruf Hijaiyah di pembuka suratNya. “Alif-Lam-Mim“, “Alif-Lam-Ro‘, “Ya’- Syin“, dst.  Yang kesemuanya itu hanya akan (mungkin) diungkap melalui bahasa tasawuf, secara makrifat Oleh Alam. Jazakumullah Khairan Khasirah. 🙁

Bencana Ibarat Benih, Bukti Nyata Dari Alam yang Tak Pernah Ingkar Janji

Sanepan 41 Butir ayat Eyang Semar. Terdapat korelasi antara Alam (Alif Lam Mim) yang bermakna ALIM, dan Waktu (AL-Ashr’). 2 surat yang berisi petuah dari literatur tua yang sampai detik ini masih mengundang banyak teka-teki.

Alam tidak sekadar inspirator estetika, Alam juga ditempatkan sebagai spiritualis dan ekspresi pemujaan. Bahkan ketika Surat Al-Ashr sudah dikalamkan lebih dulu Oleh Sang Maha Agung, kita lalai menyikapinya. Atau berpikir anggun sebagaimana wedaran Eyang semar dalam sanepan 41 butir-nya. Melalui petuahnya, ia menyatakan dalam alam ini, tidak ada tafsiran yang bermakna buruk.

***

Sebenarnya agak terlambat bagi saya men-draft tulisan ini yang seharusnya terpublikasi di bulan Juni, yang kebetulan terstempel pula sebagai bulannya lingkungan hidup. Dimana Rotasi bumi sedang kembali di titik itu. Bumi butuh lebih dari rehabilitasi setelah cukup lama diperdaya dan “diperkosa ” oleh penghuninya.

Mumpung rehab ini dikaji sebagai bentuk peringatan, gunakan kesempatan yang tersisa untuk bersekutu kembali dengan alam. Kalau perlu, ajukan kembali tawaran untuk rujuk bagi yang terlanjur bersengketa. Bumi kita sudah cukup renta untuk diracuni limbah plastik, emisi gas yang tak kunjung henti, dan dikeruk sumber dayanya untuk dikelola sebagai properti tanpa ada rasa peduli. Kita yang menanam benih keserakahan, Anak cucu kita pula yang akan memakan Karma yang terlanjur Instant.

“Alam tidak pernah mengkhianati hati yang mencintainya” kata William Wordsworth. Seorang penyair Inggris.

Jadi, siapa yang sesungguhnya tengah berselingkuh ketika Alam sudah menunjukkan jati dirinya seakan-akan ingkar Janji?

Semoga Kita semua adalah Insan yang sadar diri agar memperoleh pengampunan dariNya, karena yang kita perlakukan selama ini terhadap alam, adalah Salah.

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan