Dogma yang Hilang di detik-detik Akhir Zaman [ 1 ]

Judul artikel ini bukan untuk merusak tataran kemaslahatan demi sebuah berita hoax yang menggiring pembacanya ketakutan, seolah-olah esok hari akan muncul kiamat besar. Namun sudah Haq-Nya, dan menjadi sebuah kewajiban bagi hamba-hambanya untuk menularkan semangat yang membangun, saling memotivasi dan mengingatkan sebuah pesan “tak terjawab” , tanpa melakukan upaya-upaya diskriminasi dan memecah belah antar umat beragama.

Selama masih sama-sama berpijak di bumi nusantara indonesia dan bernaung di bawah langit yang sama, semoga tulisan ini sanggup membuat kita makin sadar, bahwa durasi hidup, sejatinya cuma sebentar.  🙁

Sebelumnya, saya memohon maaf, apabila terjadi salah tafsir dan pendapat yang mungkin berseberangan dengan pemikiran Anda semua.  Ini saya anggap adalah murni dari kekurangan pribadi yang minim akan pengetahuan tauhid. Mohon melengkapi kekurangan saya dengan tidak segan memberikan pendapat di kolom komentar.

Jika terdapat pihak-pihak yang tersinggung, saya memohon maaf untuk kedua kalinya. Bukan karena ingin dicap sok suci, sok priyayi, sok anti deodorant, kaum sumbu pendek dsb,  namun secara sadar tanpa terlibat tekanan dari pihak manapun,  menghimbau untuk diri saya sendiri utamanya. Agar upaya mendekatkan diri kepada YMK, tidak dinilai sembrono dan serampangan dalam ber-etika spiritual. Khususnya dalam hal beribadah dan menebar kebajikan.

***

 

Bencana Gempa bumi yang terjadi di NTB, 5 Agustus 2018 yang lalu, meninggalkan Luka yang mendalam bagi kita sebagai Hamba-Nya. Tak hanya menghantam tatanan rantai kehidupan melalui banyaknya korban nyawa, namun juga kerusakan tatanan sosial yang ada. #PrayForNTB.
Tentunya ini merupakan PR bagi kita untuk lebih mengerti maksud dari tiap ujian yang diberikan semata-mata oleh Tuhan YMK dalam bentuk Bencana.

Menyingkap tabir kebenaran pada detik-detik akhir zaman melalui Kajian Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Emha Ainun Nadjib ( semoga keduanya selalu dalam perlindungan Allah SWT ), melalui beragama bahasa maknawiyah, yang kebetulan juga disampaikan oleh Paman, terkadang mengundang segenap tanda tanya untuk turut hadir dalam uneg-uneg saya.

Cicak di Akhir Jaman

Cicak sebagai etimologi hewan melata, penyampai pesan dan pembawa bencana

2 hari ini, saya membuka kembali catatan saya selama 3 tahun lamanya bersama Paman. Setelah mengaji mengkaji diri dengan mengkolaborasikan banyak pengetahuan yang Tuhan titipkan melalui berita-berita di koran dan konten multimedia yang hadir, berikut tragedi bencana NTB, membuat fikiran dan batin acapkali beradu pemahaman.

Berkecamuknya lagi, tiap kali memutuskan hening di sela sela aktifitas saya bekerja, tiap dini hari melekan seorang diri (sewaktu jaga malam sendirian), bisikan bisikan gaib sering saya alami. Salah satunya mendengar sendiri jeritan anak kecil dan perempuan di telinga kiri saya sewaktu memejamkan mata. Ketika saya memutuskan berdoa, suara suara itu akhirnya hilang dengan sendirinya.
Tiap kali membayangkan Kondisi NTB Pasca gempa itu lagi, suara-suara tersebut hadir kembali, meskipun terdengar lirih. Yang membuat himpunan pertanyaan menggelayuti pikiran saya. Bagaimana mungkin seorang Blogermie yang memiliki perawakan slengekan, tiba-tiba mendadak shahih dan menjadi sosok yang “pendoa” ?

Sungguh, saya merasa hina dan tidak pantas menjadi orang suci. Saya tidak ingin menceritakan kebenaran kepada siapapun, namun semakin ditahan, kenyataan sakit itu makin mendera. Hampir tak mengertinya lagi, semacam halusinasi.

Ketika memandangi suatu peristiwa yang menyayat nurani dan kemanusiaan, seringkali Mata mengalami efek pedih.
Meneteskan air mata, namun hanya terdapat pada mata saya sebelah kiri. Anehnya, Sementara peristiwa yang menimpa mata kiri, tidak sekalipun dialami oleh mata kanan. Semakin diperdalam, anggota badan sebelah kiri seringkali mengigil dengan sendirinya, seperti menghembuskan udara dingin. Tanpa sebab yang jelas pula, pandangan mata kiri saya lebih tajam ketimbang mata kanan. Meskipun ” ketidak-laziman ” ini terjadi pada waktu-waktu tertentu saja.

Saya mengira ini sebuah penyakit. Ketika mencoba berkunjung ke klinik mata, diagnosa dokter tetap sama di 2 tahun ini. Saya dianggap pasien normal tanpa keluhan. Walaupun deskripsi tidak saya urai secara gamblang kepada dokternya, lantaran takut terjadi kesalahpahaman rekam medis dan budaya spiritual.

Saya mencoba alternatif lain, dengan upaya menanyakan keganjilan yang saya alami keesokan malamnya kepada Paman. beliau malah tersenyum dan berpaling.

“Sudahlah Nak, terima saja”.

Semakin intens saya bertanya apa penyebabnya, paman semakin menghindar. Beliau hanya memberi sebuah wedaran berupa pengetahuan baru berupa konsep penciptaan dan konsep pemusnahan.

Berserah diri dan ikhlas menjalankan peran kita sebagai Wayang. Peristiwa yang terjadi esok pagi masih misteri (termasuk yang menimpa mata-mu dan kondisi badan kirimu sekarang ini ).

Suka maupun tidak, manusia sudah di jilid dalam 1 Buku, terdiri dari beberapa bab yang terbagi menjadi masing-masing peran.

Kita menyadari, masing-masing diri kita adalah budak. Budak yang lemah. Ikuti arah petunjuk hatimu nak, maka kamu digolongkan menjadi Insan yang selamat.

Pada saat menutup tausiyahnya malam itu, Paman hanya memberikan 2 buah kata kunci, ibarat PR sebagai teki-teki, yakni:
“Bayi Lahir Tanpa Kepala”, dan “Hak Waris”

Setelahnya, saya langsung di persilahkan wudhu, sholat hajat, dan berkemas.

Bersambung ke:

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan