Google History, Pemantau Aktivitas Jelajah Internet Anak Sejak Dini

Google History, Pemantau Aktivitas Jelajah Internet Anak Sejak Dini | Hidup di tengah keluarga kecil yang normal, relatif adanya untuk sanggup di nilai harmonis atau tidak. Yang jelas, Tak semanis film india. Yang sedikit -sedikit mengekspresikan keriangan emosional yang ada, dengan tabuhan gendang dan joget bersama.

Atau juga, Cerita kolosal ” Mak Lampir”. Yang khas dengan gaya nyentriknya ketika tertawa.
Tatkala melihat kalender sudah menunjukkan tanggal tua, ditambah kondisi finansial yang buruk, ada-ada saja aura yang ditebar. Berharap bisa menutupi celah dalam rumah tangga.

Keluarga yang bermasalah, rentan mempengaruhi perkembangan anak

Keterpurukan yang terjadi sekarang ini, kian nyata.
Kesan dramatisir di jadikan alat peraga. Kalau suatu saat, terjadi pertengkaran sengit bak perang Bhatarayuda. Salah satu pasangan, harus terpaksa mengalah. Hal yang pasti diamini oleh siapa saja. Terutama pria transmigran yang banting tulang hingga larut malam, berjuluk: “Bang Toyib”,

Bang Toyib yang sudah jarang pulang. Tak bawa uang lagi. Diskonsekuensi pasti datang menghantui Kasipah, Sang istri.
Rok sang Istri, sampai tak rela untuk disingkap Suami. Apalagi berharap di cincing tinggi-tinggi, hilang sudah hasrat  Bang Toyib mengajaknya memadu kasih.

Bahkan, Bang Toyib rela tidur di kandang Sapi, ber-alas pelepah pisang, pertanda Kasipah mulai garang, lantaran kebutuhan hidup keluarganya akan kekurangan. Sudah di dera paceklik dan kering pula, masih saja memikirkan cinta. Bang Toyib cuma terbengong, hanya garuk-garuk pantat dan kepala.

Anak sebagai Korban Eksploitasi Gadget dan Internet

Memang, salah satu kemelut rumah tangga yang kerap dialami Keluarga Bang Toyib, diakibatkan krisis uang, dikarenakan manajemennya yang salah. Namun tak jarang, jurang pemicunya mengakibatkan orang lain malah ikut kecipratan getahnya.

Karena kurangnya perhatian, maka, Anak Bang Toyib bisa menjadi objek percontohan “Korban” yang paling nyata. Dalam starata keluarga terdekat.

Kalau anaknya sudah terlalu sering mendengarkan kebisingan itu sebagai penyakit yang tak kunjung sembuh, didengarnya tiap hari tanpa henti, jangan salahkan jika anak itu, jika kemudian mencari tempat pelarian sebagai sebuah solusi. Karena merasa diasingkan dan minder, lantas menjadikan internet sebagai hiburan. Dan gadget sebagai sahabat karibnya, seumur-umur.

***


Kalau ingat sosok Keluarga bang Toyib, sesuai Anekdot yang saya buat tadi, saya agak miris gimana gitu.

Google History, Pemantau Aktivitas Jelajah Internet Anak Sejak Dini

Lha wong sekarang, internet telah menjadi sesuatu yang Haq’ di jaman now. Bagi anak-anak kecil, adalah hal “shaleh” untuk mempergunakannya, layaknya Asisten pribadi. Dan lagi, anak jaman sekarang itu, susah untuk dinasehati.

Ya, bisa dibilang Kids zaman now. Dalam pembiasan konotasi bahasa yang cenderung negatif. Faktanya, Anak jaman sekarang itu tumbuh berkembang, bukan dari wawasan dan kasih sayang kedua orang tuanya. Melainkan dari rahim= gadget, dan bapaknya= internet.

Betul opo ora hayo…?

Gadget dan Internet, pemicu Google History Diciptakan

Sebagaimana kita ketahui bersama. Kemutakhiran teknologi, khususnya internet, terkadang disalahgunakan dalam pemakaiannya. Survei KPAI membuktikan, sebanyak 97 persen, anak di Indonesia mengakses game dan menonton video di Youtube yang mash memiliki keterkaitan dengan isu berbau erotis dan Parnografi. Dan itu terjadi berkali-kali.

Parahnya, demi mendapatkan akses langsung ke situs maupun konten yang mereka tuju, yang dilakukan pertama kali untuk mencari celah tersebut adalah dengan meresearch terlebih dahulu. Dengan memasukkan kata kunci yang mereka cari. Di halaman utama, kolom pencarian Search Engine. Dalam hal ini Peramban Google.

Untungnya, dari beberapa pengetahuan yang hadir dari sebuah fitur pemantau berbasis Aplikasi, Google berusaha menangkap pesan dan keluhan para orang tua tersebut sebagai upaya antisipasi. Google History diharapkan mampu menjelajahi tiap riwayat penelusuran yang dilakukan anak-anaknya, tiap kali berselancar di dunia maya.

Dengan memanfaatkan Layanan Google History, kini para orang tua (Google plus, dan blogger,maupun akun lain yang terintegrasi dengan google) bisa mengetahui aktivitas seperti apa yang mereka lakukan di dunia maya. Riwayat aktivitas tersebut bisa dirangkum secara spesifik berdasarkan intensitas dan frekuensi si Anak.

Semakin anan memilki kedekatan dingan akses luar internet, semakin cepat mereka belajar di luar pengeahuan mereka mencar tahu. Termasuk dalam hal ini aktivitas surfing, blogging, download video, bermain game, situs yang dikunjungi maupun sekedar browsing.

Dengan fitur ini kita juga bisa memantau rutinitas pribadi di dunia maya secara estafet. Semua catatan jelajah kita akan tersimpan otomatis melalui layanan ini.

Untuk memulai mengaktifkan Google History

  1. Anda bisa mengunjunginya di : http://www.google.com/history
  2. Dengan terlebih dahulu log in dengan akun Google
  3. Ketahui Aktivitas jelajah Internet kamu dengan Google History
  4. Di halaman selanjutnya, kita akan diarahkan mengaktifkan monitoring History secara full update dengan mengklik pada “Turn Web History ON
  5. Ketahui Aktivitas jelajah Internet kamu dengan Google History

Layanan ini terakumulasi dengan baik dan sangat akurat. Bahkan ketika harus melepaskan Gadget maupun Smartphone anda untuk dipinjamkan ke si- Anak. Anda dapat merencanakan pemantauan dengan cermat keseluruhan aktivitas anak, dengan didahului mengaktifkan fitur ini terlebih dahulu. Selagi dirinya terhubung ke internet.

Schedule, durasi, akuntebilatas perangkat yang mereka gunakan, dapat dipantau dan terlacak secara detail. Dalam hitungan bulan, hari, dapat dijadikan pembanding , terhitung sejak kapan anda berkeinginan mengaktifkan layanan Google History ini.

Anda tidak perlu khawatir kata kunci yang rentan dengan penyalahgunaan konten dapat dengan mudah mereka cari. Pusat Kebijakan Google telah di evalusi ulang untuk mendapatkan konten-konten sehat yang layak dikonsumsi untuk anak-anak kita.

Anda juga tidak perlu cemas pencarian konten anak anda teralihkan dengan adanya konten dan isu miring seperti Kerajaan ubur-ubur, maupun Momo Chalengge. Semua kata kunci yang hendak dibidik oleh anak, semuanya dapat dipastikan aman, mudah dilakukan pemantauan sehingga dapat di filterisasi.

Ketahui Aktivitas jelajah Internet kamu dengan Google History

Selain dapat melakukan filtering terhadap kata kunci yang negatif, Google history juga dapat dipergunakan untuk mencover data /link sebuah situs tujuan yang hilang. Ketika kita memutuskan untuk menghapus data dan cache pada browser.

Kombinasikan fitur ini dengan Aplikasi Mobile Google Play. Jika dirasa perlu, referensi Link dibawah ini bisa dipakai sebagai acuan:



Cara mengaktifkan Kontrol orang tua. Masuk Aplikasi Playstore › Setelan › Kontrol Orang Tua › Aktifkan dengan membuat pin random 4 digit terlebih dahulu. Agar Konten aplikasi yang muncul bisa sedikit dibatasi, dan game dapat dikontrol melalui batasan umur.

Kelemahan Google History

Biarpun sepintas, layanan ini menjanjikan dari segi keamanan. Namun jangan terlalu berharap banyak dijadikan solusi. Setiap Aplikasi, sistem secanggih apapun , pasti memiliki celah kekurangan yang rentan untuk dibobol. Solusinya adalah mengupdate Layanan Google Account ke versi yang terbaru, Sesuai device gadget yang anda miliki. Otomatis Layanan Google Playstore juga terupdate dengan sendirinya

Pun begitu, layanan Google History ini sangat cocok di hubungkan dengan 2 perangkat yang bekerja secara bersamaan. Selama 2 perangkat tersebut memiliki 1 akun google yang valid. Google history bekerja dengan sangat baik untuk anda yang memfasilitasi internet dengan koneksi Wifi di rumah.


Google History Adalah sebuah fitur ” FASILITAS “, bukan sebuah fitur ” TUJUAN “

Tulisan ini semata-mata pengembangan diri, yang saya sendiri masih perlu untuk belajar banyak selaku orang tua. karena tugas utama selaku orang tua, tetap pada kepentingan yang sesungguhnya.

Mendidik dan membesarkan. Bukan malah bergantung pada peralatan yang sebenarnya hanya bersifat menunjang.
Sukses atau tidaknya anak, adalah tanggung jawab orang tua, bukan Google History.

Mutlaknya-pun, ada baiknya kita tidak terlalu memanjakan anak dengan terlalu mengapresiasi keberhasilan dan pencapaian yang mereka peroleh, dengan memberi reward dalam bentuk gadget.
Bukan bermaksud menggurui, Rusaknya Akidah anak, dipengaruhi oleh seberapa persen kedekatan yang terjalin di lingkup yang lebh kecil, yakni keluarga.

Lingkungan memang menunjang, tapi tanpa benteng akan pentingnya sosok yang membangun mental mereka untuk tahu diri, Ya kita sendiri. Selaku orang tua. Seintens mungkin mengalihkan perhatian mereka akan racun dari gadget itu sendiri.

Dengan gadget, mereka mungkin akan berkembang. Pengetahuan akademis pasti akan ditunjang. Tapi tanpa kasih sayang, besar kemungkinan, mereka tumbuh dewasa tanpa mengenal tata krama dan tuli akan budaya.

Tugas kita semua untuk mendampingi mereka supaya tidak hanya menjadi anak yang melek teknologi, tetapi juga mampu bersosialisasi, tanpa cacat iman. Kalau bisa. Bukankah menyenangkan bisa merealisasi itu semua. Sesuai harapan KPAI dan Kak Seto.

Ingat ya, Pesan Kak Seto.
Kak Seto yang asli dari Indonesia. Kak Seto yang rambutnya belah samping itu lho. Dari Kiri ke kanan. Kalau bukan, sudah dipastikan itu kak Seto KW.

Salam Roekoen…

Artikel Terkait :

Comments are closed.