Media Sociality: Intoleransi yang berawal dari kurangnya kesadaran diri

Media Sociality: Intoleransi yang berawal dari kurangnya kesadaran diri | Era komunikasi global, di tambah gaya kebebasan berpendapat, seringkali mengundang banyak masalah. Pengaruh media sosial yang digadang-gadang mampu meringkas jarak, malah tidak sejalan dengan keinginan para penghuninya.

intoleransi

Apalagi setelah pasca zaman reformasi, alur informasi yang begitu cepat mengudara, membuat konsumen internet indonesia yang dominasi oleh para pemuda dan “kaum”terpelajar” lebih konsisten semaunya dalam berkata-kata. Ketimbang memupuk rasa yang membangun antara pengguna sosial media.

Yang tak bisa terhindarkan untuk saat ini ialah: masyarakat Indonesia masih memiliki kecenderungan negatif dalam berasumsi. Rasa sentimen kecil terhadap perbedaan, masih saja menjadi klenik hina dalam membangun semangat ke Bhinekkaan.

Banyak di antaranya, generasi milenial yang nyatanya belum cukup uzur secara pola pikir. Belum memiliki wawasan yang baik tentang akidah keberagaman, sehingga begitu mudah terbujuk menjadi organisme koplo.

Generasi muda yang akhirnya tumbuh dewasa oleh upaya hasut dan provokasi koplo, dari berita bohong yang disebarkan.
Generasi yang tercipta dari kemajuan teknologi, akan besarnya rasa Intoleransi. Intoleransi dalam beragama contohnya.

Media Sociality: Intoleransi yang berawal dari kurangnya kesadaran diri

Belajar dari Kasus Meiliana. Yang sekarang lagi satir menjadi perbincangan awak media. Tentunya bagi semua warga indonesia, kita berharap semua permasalahan akan segera terselesaikan dengan baik, dan jangan sampai kemudian, nama Agama dibawa-bawa. Kata mbah saya, itu gak baik.

Intoleransi berupa rasa: “selalu menyalahkan agama”

Agama merupakan hal yang paling rentan di tuju sebagai sasaran diskriminasi. Yang paling mudah untuk dicela di media sosial.

Ujaran kebencian dan simbolisasi penistaan keyakinan masih saja berujung dilema. Dengan comot-mencomot simbol agama, seolah “Berjualan Kitab suci“. Yang naifnya, para pelaku penista agama, nyatanya berasal dari 1 rumpun yang sama. Lingkungan kita sendiri.

Memang, menyebarkan kebaikan itu baik. Dengan di bubuhi atribut dalil. Namun perlu di pertimbangkan kembali, seberapa intenskah sumber tersebut dipergunakan untuk suatu negara yang memiliki kemajemukan tinggi akan budaya, spiritual, hak asasi dan agama.

Seperti di Indonesia, karena keberagaman yang sudah terjalin sekian lama. Keberagaman hanya satu-satunya terdapat disini, dan yang tidak dimiliki oleh negara manapun.

Dan lagi, Karena intervensi sosia media lebih luas, menyangkut hajat hidup banyak orang yang memiliki perbedaan kultur, corak dan budaya dalam seninya menyampaikan pendapat. Anehnya, seorang yang intolerir, menganggap media sosial itu lahan kavling seolah-olah miliknya sendiri untuk di kelola dan dibela.

Anehnya lagi, sosial media dianggap sebagai forum pengajian. Menunjuk-menunjuk muka orang, seolah dia-lah yang paling benar ajarannya. Mengenyampingkan bahwa orang yang hadir di sekelilingnya cuma seonggok arca yang bisa terdiam begitu saja, ketika dengan seenaknya mencela keyakinan mereka.  

kalau sudah begini, rasa-rasanya kurang begitu sopan apabila mencatut simbol ajaran agama untuk dipergunakan sebagai alat, demi menyerang suatu ajaran / agama tertentu.

Intolerasi “nambah dosa rame-rame” sebagai perilaku yang syarat masalah

Kecaman intoleransi di media sosial, acapkali dipicu dari informasi sepele, namun siklus yang ditimbulkan oleh pola “latah” rame-rame tersebut membuat pendengar dan pembacanya juga ikut terkena getah.
Informasi sepele, yang kemudian menjadi sebuah masalah. Dibuat oleh 1 orang dungu, dibaca oleh 3 orang bodoh, dan disebarkan oleh 5 orang idiot sekaligus.

Sulit untuk memutus mata rantai seperti ini di Indonesia. Namun apalah daya, medsos dengan cepat mengundang orang-orang yang berpikiran serupa, untuk berkumpul.

Tidak mengherankan jika sebuah tulisan di Facebook yang dengan jelas mengumbar kebencian justru diapresiasi dengan like dan share. Meskipun bagi saya pribadi, harus ada parameter jeli, yang wajib untuk memfilterisasi hal tersebut.

Intoleransi Media Sosial Yang Wajib dihindari

Medsos tidak hanya mempengaruhi secara psikologi dan meracuni tingkat kecerdasan seseorang, tapi juga mampu mengarahkan perilaku.

Orang yang tidak mampu merenungkan kenyataan dan menerima kesalahan setiap informasi di medsos, membuat penikmat sosial media, sulit membedakan yang benar maupun tidak. Yang selektif akan mengkajinya sebaga aware, sedangkan bagi mereka yang kepincut, terlanjur buru buru, akan dengan mudah tercaplok berita bohong.

Seorang perempuan yang membiarkan dirinya tergelincir informasi, berisi muatan hoax di media sosial, akan menerima intoleransi sebagai hal yang biasa. Hal demkian adalah wajar, karena kodratnya perempuan memang seperti itu. Sejak mula bawaan genetik ibu hawa terlahir, selama itu pula perempuan akan senantiasa dianugerahi kelebihan yang demikian unik (bagi pribadi saya).

Namun bagaimana seandainya, jika yang menerima informasi tersebut alah pria alai yang buta aksara dan hatinya? Tentunya pria ini hanya mengkonsumsi informasi tersebut dari 1 sisi saja, menelan kenyataan pahit ibarat meneguk alkohol. Lama kelamaan, dirinya akan terpengaruh untuk bersikap intoleran.

Dunia medsos hampir tidak memiliki celah. Kebebasan memiliki dan menggunakan media sosial membuat semua orang bebas menggunakan celah yang ada sebagai ladang basah, untuk produktif.
Produktif menghasilkan apapun itu kontennya . Demi uang, kejahatan, maupun pamor.

Medsos menjadi ruang publik yang terbukti rusak. Di media sosial, seseorang bisa sangat liar dan berani menghina orang lain. Melalui media sosial pula, oknum-oknum tertentu dengan leluasa menjuntaikan pesan yang anarkis. Banyak bermuslihat, provokasi dan propaganda untuk membuat “panas” suhu di sekitarnya.

Yang perlu dilakukan agar budaya Intoleran dapat sedikit berkurang

Hp Andoid kini telah di gandrungi banyak kalangan. Sebagai alat penujuk eksistensi diri, Banyak orang yang akhirnya terpicu untuk Like dan Sharing. Komentar yang cenderung asal-asalan dan seenaknya, menjangkau terjadinya loncatan baru dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Loncatan yang kemudian melahirkan budaya baru yang disebut : Nyinyir.

Sebagai contoh nyinyir yang mengidap Lambe Turah. Akun yang sepertinya sudah piawai untuk ngrasani orang. Terlepas konteksnya untuk income atau bukan. Yang jelas, akun ini berbahaya bagi siapapun anda yang terbawa hasutan dan gaya rumpi. Yang baiknya tidak dijadikan inspirasi demi membuka aib orang.

Selain tidak ikut serta dalam upaya menyebarkan informasi sesat, pengguna medsos seperti kita juga perlu memiliki ketegasan. Dengan melakukan upaya bersih-bersih timeline. Karena budaya intoleransi juga di sinyalir hasil rekayasa kita sendiri.

Cara menghilangkan budaya intoleran ini dapat di implementasikan melalui pembatasan jumlah pertemanan di Facebook. Hapus keterkaitan teman yang tidak memiliki latar belakang kehidupan yang jelas. Jangan asal approve teman. Secara nyata, kita tidak pernah mengenalinya.

Biasanya cara ini efektif saya lakukan untuk menghindari status alai yang ikut muncul di time line, ketika saya di-Tag oleh mereka.

1 Minggu ini, saya melakukan kerja bakti. Bersih-bersih sampah pertemanan di beberapa akun sosmed yang terindikasi Anonymous.

Awalnya muncul keraguan untuk menyudahi “pertemanan” karena beberapa teman, memang ada yang baik, dan memang ada yang sedikit hemaprodit secara fundamental. Tapi akhirnya, saya melakukan unfollow untuk menangkal kebiasaan mereka yang mungkin saja berakibat buruk bagi kegentengan Blogermie.

Begitu tahu, ada sebagian dari mereka yang “mengupdate” status dan tweet berisi radikalisme, keluh kesah, kecaman, yang ujungnya mengekspresikan intoleransi.

Mengurangi Gejala Intoleransi dengan Komunitas

Langkah selanjutnya adalah menjalin keterikatan dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kepedulian khusus. Misalkan Komunitas.

Dengan berkumpul melalui wadah komunitas, di harapkan aspirasi kita tersalurkan tanpa harus merasa pintar sendiri. Di Komunitas, maupun organisasi, kita dapat saling bertukar pikiran dengan mereka yang fasih, dan kenyang pengalaman.

Dengan berorganisasi, kita tidak akan terdidik bermental apatis Atau yang lebih dikenal dengan Silent MajoritySilent majority itu bagus, namun hanya untuk skala hubungan yang lebih sederhana, misal keluarga atau percintaan


Hmmm, manusia itu memang sampai kapanpun tak akan pernah sejalan. Baik laki-lakinya, maupun perempuannya. Semuanya sama saja.

Namun, yang tetap menjadi pertimbangan yang matang tentang intoleransi, sebaik mungkin kita harus segera menghindarinya. Jangan sampai teknologi maju bernama media sosial justru membuat kita memiliki keterlambatan mental dan berperilaku merosot, mengikuti cara berfikir masyarakat barbar.

Artikel Terkait :

Comments are closed.