Mahkota diatas Sajadah, Hadiah untuk Pak Jokowi dan Indonesia

” Sejarah, selalu mengajarkan, akan pentingnya sistem darimana manusia itu dibesarkan. Sejarah adalah kaidah yang membimbing seseorang, untuk menjadikannya sebagai “batu loncatan”, agar secepatnya berbenah dari kepiluan.

Tanpa berkelit dari keadaan itu, Sejarah juga memberikan kita peringatan: ” Police line, You better not cross !!! ” bertindak tanduk, penuh kehati-hatian dalam menyambut masa depan. Agar terhindar dari keterpurukan sebuah Zaman ”

Mahkota diatas Sajadah. Begitulah pesan moral yang tersyirat melalui buku ini. Dengan tebal buku 128 halaman, buku ini tidak hanya mengisahkan sejarah perjuangan ulama dalam menegakkan kebenaran, semendiang Kanjeng Nabi Muhammad SAW wafat. Tapi mengijinkan pembacanya merenung berhari-hari, demi menemukan tokoh pemimpin sejati, menurut versi mereka sendiri.

Di awal Cover, puji syukurnya, bahasa syari’ dapat dicerna dengan mudah. Namun semakin kedalam, mendekati artikel isi, covernya sudah tak menunjukkan makna filsuf yang tersaji. Pengetahuan rumit yang dipahami secara logika adalah yang terdapat pada bab hakiki. Yang bermakna Tabayyun. Yang jelas, akan kurang afdol jika mengkajinya disini.

4 Mazhab juga diselipkan di pertengahan kisah klasik buku ini, yang kerap membuat mata kiri saya makin pedih. Apalagi sebagai penganut Mazhab Syafi’i, Saya agak terpukul melihat kesaksian-kesaksian Para pemimpin di zaman itu terkenal diktaktor. Tak segan melakukan banyak cara, untuk tetap ego dengan prinsipnya yang salah. Jalan dakwah para ulama di Zaman itu, seringkali berujung petaka.

Sebagai satu-satunya media menyebarkan dakwah, Terhitung beberapa kisah dari ulama, yang sebagiannya telah terpotong.  Karena sekali saja pemimpin-pemimpin culas itu mengangkat jari telunjuknya keatas, tanda tak sepaham dengan nasihat, urat leher para “Fisabilillah” disana, niscaya tertebas. Innalillahi wainnailaihi rojiun.

Badan saya sempat bergetar, sewaktu membacanya. Namun yang membuat saya takjub sebagai seorang hamba, para ulama tersebut sudah tahu diri. Tabah jika sewaktu-waktu maut datang menjemput. Bahkan ketika mereka dengan sukacita harus menanggung beban hidup disuaka, seumur hidup. Diusir dan diasingkan dari wilayah kerajaan.  Ada beberapa kisah yang nyatanya masih hidup hingga kini, untuk semata-mata dijadikan pedoman dalam menegakkan agama Allah.

Ketika membaca kisah mereka, dengan kondisi kamar yang sengaja remang tanpa cahaya, saya hanya menyalakan sebuah lilin. Demi menghormati pengorbanan mereka.

” Mahkota diatas Sajadah “. Menempatkannya di paling atas di deretan panjang rak buku , yang pernah saya baca sebagai koleksi

Jika Anda, untuk pertama kalinya baru membaca buku ini, saja jamin akan ” kolaps “. Teramat sulit memahami, karena pesan akidah beruntun yang di sampaikan di buku ini nyatanya, menyesuaikan dengan norma dan gaya komunikasi masyarakat timur tengah. Yang identik dengan budaya Arab.

 

Pun demikian. Di Indonesia tercinta ini, kita selaku masyarakatnya, masih dapat menggali makna kajian Syufi tersebut, tanpa harus mendompleng adat Arab.  Indonesia yang lebih dulu menjunjung tinggi adat ketimuran, telah lebih dahulu tercatat, melahirkan banyak sekali tokoh-tokoh pemimpin yang bijaksana. Tentunya itu bukan sekadar prestasi yang luar biasa, namun lebihnya semata-mata Sebagai Titipan “pesan” dari Sang Maha Agung.

Lebih dari itu, Tauladan yang diberikan bisa dijadikan satu-satunya penentu untuk negeri ini terus berkembang secara nasionalis dan religius. Melalui keanekaragaman Keyakinan, Suku, Budaya, Indahnya tutur kata, dan tingkah laku. Kita diharapkan tidak mudah untuk terbelenggu dengan jarak. Lantas berpikiran sempit akan pentingnya perbedaan. Karena perbedaan inilah yang membuat kehidupan penduduknya yang kian harmonis. Saya mempercayai satu filosofi warna pelangi itu diciptakan, seperti crayon warna. Pada saat crayon ini dipergunakan sendiri, dia akan biasa saja. tapi seiring dipakai secara bersama-sama, warna nautural yang dihasilkan makin indah.

Hal yang demikian inilah, yang sudah lebih dulu ada. Dalam Pemikiran YMK. Walaupun saya tidak ingin lancang menerka-nerka cara berpikir tuhan. Namun entahlah, semakin disyukuri, makin mudah dipahami ada sesuatu yang tersembunyi di Bumi Nusantara ini. Terletak pada nilai-nilai luhur yang sudah terpampang jelas tentang arti ke-Bhinnekaan itu sendiri.

 

Jauh hari sebelum negeri ini merdeka. Para kyai, pemuda, budayawan, bekerja sama dengan tokoh pejuang kemerdekaan di Zamannya. Mereka yang telah bersusah payah berjuang, membela hak masing-masing dari kita, sebagai generasi penerusnya untuk mengenal arti kebebasan.

Ini sudah membuktikan bahwa dibalik peran Tokoh Pahlawan dan pemuda, terdapat tokoh religius yang mendorong semangat keinginan bangsa ini untuk bangun. Mereka bekerja sembunyi-sembunyi dalam berdakwah. Menyebarkan tekat penyemangat. Demi mengentas rasa individualistis menjadi semangat nasionalis. Mereka inilah yang kita sebut Tokoh tokoh ulama.

Keberhasilan Pemimpin di Zamannya, juga tak lepas dari tokoh ulama sebagai satu-satunya penasehat pribadi, ibarat ” Wedaran Diri “, di setiap perjuangan untuk melangkah.

Islam yang Kaffah itu benar-benar ada. Bukan sebuah isapan jempol belaka, dan bukan sebuah ramalan lagi. Ketika Para pemimpinnya di semangati tokoh spiritualis dan religi yang hadir disisinya. Islam yang Kaffah adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan YMK, pada suatu negeri, karena majemuknya keragaman. Hidup bersebelahan dengan beragam perbedaan, yang didalamnya penuh ketentraman. Kecil kemungkinan perbedaan untuk berkembang terjadi pertentangan.

***

Maaf sebelumnya, tulisan ini sama sekali tidak berbau politis. Tak satupun terdapat keinginan untuk mendramatisir keadaan sekarang ini, yang sebagaimana diketahui bersama, bahwa rakyat Indonesia akan memeriahkan pesta demokrasi, yang akan terjadi sebentar lagi.

Saya menulis ini, juga tidak merasa mendapatkan tekanan dari pihak manapun, apalagi mengkomersilkan diri untuk menjadi tim sukses Pak Jokowi. Ini murni dari kesadaran, buah pemikiran pribadi tanpa embel-embel “dibayar” oleh sponsor.

Dengan mata kepala sendiri, melihat secara seksama Kinerja pak Jokowi di lintas penjuru negeri. Ketika beliau menuju Papua, memantau sendiri Ekologi dan krisis ekonomi yang terjadi disana. Saya meyakini bahwa Gambaran kebenaran yang samar-samar terlukis melalui Alquranulkarim. Berikut riwayat cerita yang di suguhkan melalui penggalan kisah Nabi, adalah kisah nyata yang muncul kembali ke permukaan sebagai bukti bahwa:

Berkembang maupun tidaknya suatu negara, dapat dilihat melalui Tokoh dan para Pemimpinnya.

 

Buku Mahkota diatas Sajadah, adalah salah satu sumber kesaksian yang menggambarkan perulangan waktu yang nyaris sama. Meskipun hal terjadi tersebut, dituang dari tanah kelahiran sumbernya. Di Arab Sana.

Pun begitu, tanpa melihat proyeksi pada 1 titik di negara tertentu, di Indonesia sendiri saja, pengetahuan tersebut sudah lama ada. Semenjak Wali Songo (Sembilan Wali) diutus ke bumi Nusantara. Maupun kisah berdirinya kerajaan Hindu Budha Majapahit dsb. Semua ajaran Ke-bhinekaan akan sadarnya jiwa pemimpin itu perlu. Tanpa perlu bersolek dari budaya negara tertentu. Budaya masa lalu.

Yaaa…demikianlah. Mata rantai kehidupan lama, sudah berpola sedemikian rupa. Akan berputar, dan kembali pada titik awal, dimana ia berada.. Mungkin saja, di akhir Zaman nanti, atau yang disebut Zaman Now. Zaman kekinian, kita akan mengalami kegersangan hati dan pikiran demi menemukan sebuah solusi. Kembali pada zaman yang awalnya berisi Dogma. Saya meyakini itu. ( Saya skip dulu untuk pembahasan yang satu ini ). Ok, kita kembali ke Leptop.

 

Dalam hasil survei yang dilakukan Organisasi Kesejahteraan Rakyat ( Orkestra ), kinerja Presiden Joko Widodo dipandang cukup bagus dan memuaskan dengan presentase mencapai 52,1 persen. Ada beberapa indikator yang menyebabkan naiknya angka tersebut. Yakni Tuhan yang maha kuasa sudah menggaris janji Jokowi menjadi Nyata, berupa: pembangunan infrastruktur, kepemimpinan yang bagus dan pro rakyat.

Pak Jokowi yang sudah kenyang dengan tataran hidup masyarakat sederhana. Sudah jelas mewakili tumbuh kembangnya sosok pemimpin idealis, cepat tanggap dengan toleransi kemanusiaan. Insan yang bijaksana, yang tegak berdiri seperti ” Alif ” dalam huruf Hijaiyah.

Dengan mempertimbangkan masukan-masukan dan saran dari berbagai elemen masyarakat, yang ini juga merupakan semata-semata implementasi anugerah dari yang maha Kuasa. Profesor Doktor KH Ma’ruf Amin Ma’ruf Amin disandingkan bersama pak Jokowi untuk meneruskan pesan dari kaum rakyat kecil, sebagai Calon Wakil Presiden Jokowi.

Dan lagi-lagi, ini sudah terjadi kembali sesuai tataran yang ada di Alquran. Tentang Kebhinnekaan. Sebagaimana pemimpin, tetap harus memiliki pembimbing dalam menjalankan proses pemerintahan.

Pak Jokowi adalah trendsetter untuk saat ini. Seperti artis yang tidak lekang diterpa gosip miring, Beliau juga tidak luput dari sasaran media turut serta mempermasalahkan kinerjanya. Segelintir orang maupun organisasi yang dengan mudah menyalahkan pak Jokowi.

Tidak usah disesalkan dan dibenarkan. Siapapun oknumnya, tidak ada yang salah. Yang salah adalah daya kritis kita yang memang sudah terlahir secara alamiah. Diciptakan demikian rumit, unik, dan juga picik, sehingga terkadang, malah menggalang pemikiran-pemikiran yang tidak pada tempatnya.

 

Seperti pemikiran saya yang kerapkali simpang siur. Tertuang kepada beliau, melalui surat ini. Saya tulis dengan sepenuh hati. SBB:

Kepada YTH, Bapak Joko Widodo.Saya warga Sidoarjo. Saya terkesima dengan kinerja bapak saat ini. Semua tindakan anda, mencerminkan budi baik yang anda tularkan kepada siapapun. Untuk senantiasa kerja-kerja dan kerja, dengan sepenuh hati. Itulah Quote dari bapak yang saya tancapkan dalam hati sanubari. Sebagai penutup perjumpaan dan ungkapan terima kasih.

Pun begitu, sebagai manusia yang tak luput dari kekurangan dan perasaan bersalah. Saya sebenarnya agak kecewa juga kepada panjenengan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada panjenengan, izinkan saya menuliskannya:

Tanpa mengurangi upaya dalam mencerdaskan bangsah,  dengan reward memperebutkan sepeda. ( mungkin lain kali bisa berhadiah sertifikat tanah..#peace Pak Jokowi – ) Besar harapan saya, agar panjenengan lebih tulus mengganti pertanyaan “Sebutkan nama-nama Ikan” tersebut, menjadi “Sebutkan nama-nama Pahlawan nasional” saja pak.

Karena itu merupakan pertanyaan yang agak horor bagi saya. Sepanjang usia yang pernah saya ketahui, selama masa kepemimpinan Bapak. Karena akhir-akhir ini, istri saya cenderung ketawa-ketawa sendiri jika melihat video Youtube tersebut secara berulang. Saya mengkhawatirkan akan datangnya pergeseran otak dan perubahan psikologi, semacam guna-guna terhadap sang istri.

Saya juga takut, jika lidah putri saya terpleset jika terpaksa menjawab pertanyaan itu. Harap bapak memaklumi putri saya yang masih Cadel. Belum bisa mengucapkan huruf Vokal “R” 🙂

Sekali lagi, Saya mohon maaf jika terdapat salah-salah kata. Karena, semakin saya teruskan untuk menulis, saya malah tak terkendali untuk tertawa, dan nyaris mirip dengan orang gila. Saya harap bapak berkenan, dan senantiasa seperti ini. Tak capek berhenti menjadi orang baik.

Sudah, itu saja kesan saya kepada Bapak jokowi. Agar Bapak tetap selalu sehat, sedap dan elegan, Inshaallah, doa kami, terpanjatkan untuk panjenengan beserta keluarga di rumah. Amiin YRA

Terima kasih, Bapak Jokowi. Dari kami, keluarga Absurd.

“Happy Anniversary” untuk 1 periode, kinerja Pak Presiden Jokowi. Dari Irma Herliana Binti Suneo

Artikel Terkait :

Comments are closed.