Novel CINE US : Karena “Survive” itu Harus !

NOVEL CINE US

CINE US

Judul Buku : Cine US
Penulis : Evi Sri Rezeki
Penyunting Dellafirayama
ISBN : 978-602-781656-5
Penerbit: Noura Books
Penyelaras kata: Novia Fajriani
Desain Cover: Fahmi Ilmansyah
Layout isi: Annisa Meilasyari
Tanggal Terbit: 01 agustus 2013
Harga: Rp. 48.500,-
Tebal: 304 halaman


PROLOG

Demi menang di festival Film Remaja, Lena merelakan apa saja demi mengalahkan mantan pacarnya. Sebuah Misi yang membuatnya terjerembab dengan ambisi pribadi. Adapun alasan lain demi mempertahankan Klub Film di Sekolahnya yang butuh dukungan, Lena Ingin menunjukkan bahwa kreatifitas siapa saja membuat film bisa dijadikan impian yang ( Mungkin) realistis suatu hari nanti.

Beruntung. Kali pertama bertemu dengan Cowok seru yang berkali-kali menyaru menjadi super hero…membuat Lena menyadari bahwa kebanggaan sejati, harus memiliki tempat persembunyian dan tidak perlu di ketahui oleh banyak orang.

Dalam sebuah proyek festival web-series, si Cowok Hero punya banyak talenta yang mampu membuat Lena terkesima. Karakternya yang pasif, mengundang feel romantis, dedikatif dan sedikit datar. Pada situasi tak terduga, sanggup membuat perut terasa kram Karena terselip humor ringan di tiap pembawaan yang disajikan.

Cine-Us…bisa diabadikan sebagai Novel SABU (syarat budi) yang paling santun, berisi tentang cerita-seru-seruan di Klub-klub sekolah


SINOPSIS

Indra penglihat seringkali salah duga. Apabila tidak seksama, pasti tergelincir dengan kata-kata plesetan yang malah menjadi gurauan. Itulah pengalaman pertama saya, ketika membuka chapter pembuka novel Cine US.

Mata sedikit terkecoh dengan nama tokoh utama di Novel ini. Lelatu-Namira, karakter dominan yang menurut saya “emejing”. Karena bisa jadi, bagi siapa saja yang tidak seksama menyingkap matanya sendiri, Kata “Lelatu” nampak mirip sekali dengan kata “Belatung”.  Walaupun secara etimologi, kedua kata ini sudah jauh berbeda secara arti.

Lalu dengan tiba-tiba, Mbak Evi berbisik mesrah di telinga kiri saya seolah menghardik : “Mas her, yang serius dikit poo kalau mereview Novelku. Jangan Bercanda ah. Aqhuw gag sukak 😀 “

OK..OK..kakak. Saya hanya bercanda kok 🙂

 

Untuk itulah, saya berharap jika pemirsa membaca novel Cine-US, disarankan mencari tempat teduh dan hening. Sedapat mungkin hindari tempat angker yang mampu mengintimidasi naluri membaca, agar tetap dalam kondisinya yang fokus dan khidmat. Karena hampir seluruh cerita di Novel ini mengundang rasa penasaran apabila tidak teliti membacanya kalimat-perkalimat.

Mengambil sudut pandang orang pertama, “AKU” (Lelatu Namira).

Penulis novel tersebut nampak meracau dengan imajinasi tokoh yang diperoleh. Lelatu yang berarti Bunga api, sedangkan Namira yang diambil dari bahasa arab yang mengandung arti Kucing, macan tutul/hewan bertaring.

Bisa dikatakan bahwa Lena adalah pembentukan karakter wanita kucing yang memiliki kecenderungan anarkis, naif, dan terkenal dengan egoismenya yang tinggi. Jika emosinya meletup bak bunga api, Lena tak segan merubah diri menjadi wanita berambut ular (red:Medusa), yang menindas siapapun jika terdapat suatu kesalahan yang sanggup mematahkan prinsipnya.

Seni membela dirinya juga sangat keren, Lena tak segan berdiskusi dengan cara yang halus. Bahkan jika waktu memungkinkan, Lena adalah wanita sedap yang protektif. Saking protektifnya, dikata mahir berkelahi dan piawai mengumpat, seringkali dia tunjukkan di pertengahan cerita Novel ini.

Cara menjaga image juga tergolong unik. Selain berjudi, Lena sangat bergengsi dianugerahi gelar Rider. Itu lho… pembalap ugal-ugalan yang gaul. Tak peduli orang lain celaka biarpun dirinya berkacak pinggang, kebut-kebutan.

Dengan ditemani 2 sahabat karib, Dania dan Dion. Berperan sebagai tokoh protagonis yang membantu Lena dalam keadaan suka mupun duka. Cerita di novel Cine Us begitu hidup ketika dengan tiba-tiba, Dion memiliki gangguan perilaku ADHD tanpa diketahui sedikitpun oleh Teman-temannya.

Pun begitu, tidak lantas Dion selalu dianggap tokoh yang tidak berperan sama sekali. Di penghujung akhir cerita, ada sebuah kejutan yang membuat Lena terkesima dengan Ketulusan Dion. Dan, semuanya serba membuat penasaran.

 Novel CINE US : Karena “Survive” itu Harus !

CINE US…

Diantara konflik yang terjadi, cerita dikemas dengan background yang berbeda-beda. Beberapa tempat khusus yang tersembunyi dan tersesuaikan, menambah paradikma yang terjadi di tengah iklim pergaulan remaja jaman sekarang. Tidak perlu monoton diruang kelas untuk mengukir banyak kisah. Di Toilet, Warnet, Kafe, Taman, bahkan di Bunker, Novel ini sudah lebih dulu tersaji dengan berbagai wahana yang tergolong anti mainstream.

Perseteruan Antar geng sekolah, dilema percintaan disisipkan untuk saling melengkapi 2 kubu yang berseberangan.
Di kuadran merah, Adit yang memang terlahir antagonis, terjebak asmara dengan Lena. disinilah konflik terjadi dengan begitu histeris.

Atau juga Romi, dengan tendesi, merubah haluannya untuk menjadi seorang pengecut, gegabah dalam bertindak diktaktor, hanya demi memperoleh simpati Renata.

Satu-satunya tokoh yang berada di Kuadran Hijau menurut saya hanyalah Si-Rizki. Karena hanya dia-lah cowok yang tidak gampang terpedaya. Punya ekstensi diri. Yang semata-mata tidak ingin kelebihan yang dia miliki, terlalu diheboh-hebohkan.

Sebagai pembaca yang kurang baik, Saya masih belum menemukan titik temu  jalinan asmara Rizki dan Lena.Belum jelas status hubungan keduanya berlanjut seperti apa di akhir cerita. Saya berharap bisa lebih kompeten bilamana status keduanya akan tetap terpelihara dengan baik sebagaimana Kisah “Naruto dan Hinata”.

 

INTISARI DAN DIKSI CERITA

Untuk isi cerita dari Novel ini, garis besarnya sesuai dengan “bulb” di back cover.. Tidak ada nuansa garing. Cerita tidak melulu diisi dengan tangisan yang berdarah-darah, namun yang menjadi ventilasinya amat menarik adalah gaya dialog memikat, yang terjalin dengan nyaris sempurna untuk semua tokoh yang diperankan.

Ada pula tokoh pelengkap yang mampu membuat saya tertawa geli terhadap sosok Pak Kandar. Demikian dengan casting si Kembar-Sugeng. (Jujur saya tidak bisa berhenti tertawa ketika membaca cerita yang ini).

Novel ini menggunakan alur maju, dengan sentuhan parodi didalamnya. Pun Novel ini lancar bercerita dan layak rekomendasi.

Hanya saja beberapa Flashback yang menceritakan kisah sang mantan yang menurut saya terlalu banyak sisi melodramatiknya. Hampir di beberapa Chapter, Si Adit beserta kisah asmaranya, selalu diungkap berulang-ulang sehingga kesannya sedikit hambar. Sementara di lain sisi, pahlawan bertopeng seperti Rizki, hanya diberikan kesempatan bernarasi sedikit di akhir Novel, namun pada akhirnya, jalan cerita tetap nyambung untuk diikuti.

 

Novel Cine Us ini sangat unik. Karena setelah membaca halaman satu persatu, nuansa pelangi bisa hadirdi beberapa chapter tergantung mood. Bisa muncul, kemudian raib untuk sesaat, lantas muncul lagi dan berlalu pergi.

Kalau di awal-awal, Saya membaca dengan psikologi yang biasa-biasa saja. Di tengah cerita sampai pada Ending Novelnya,  terengah-engah seiring kompleknya intrik yang terjadi.  Selalu ada jeda “serius” yang membuat novel ini puas terselesaikan dengan rasa  takjub, pengkhianatan, kebablasan, dan Kekecewaan.

Memang harus demikianlah Novel bagus itu (menurut saya). Cerita di dalamnya, mampu membius psikologi pembacanya hingga sanggup mengundang banyak rasa yang tak terduga.

Kalau jalan ceritanya sudah cukup menarik diikuti, Gambar pendukung novel-pun tidak banyak “maksud” dan tidak berpengaruh, andaikata disisipkan. Karena tanpa gambar-pun, cerita di Novel ini sudah hidup dan menggiring pembacanya untuk masuk ke alam imajinasi mereka sendiri untuk lebih dalam, dan lebih dalam lagi. Diksi hipotesa ala Romie Rafael sudah terjalin dengan baik di Novel ini

 

PENUTUP SECARA MORALITAS

Kelebihan dari Novel ini tergolong banyak. Bukan saja mengajarkan  beberapa materi untuk lebih mengenal Sinemafotografi beserta pengetahuan baru seperti Storyboard, Budgeting, Casting, Cameo, Tilt-Up Follow Shot, dan Estabilish Shot.  Terdapat wawasan baru bagi saya untuk mengenal ADHD, (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dimana penderita gangguan perilaku seperti ini bukan malah dikeplak kepalanya lantas di Suaka, namun mereka juga butuh uluran tangan, dihormati dan di akui sebagai manusia normal seutuhnya.

Konfliknya mengerucut dengan penyelesaian beragam sisi. Lena mendapatkan kembali rasa percaya dirinya dengan dukungan teman-teman, sementara kisah Adit dan Romi sedikit mengambang di ending cerita. Saya tidak tahu apakah tindakan Adit selanjutnya, setelah kejadian menimpa dirinya dan keluarganya.

Saya tidak menilai Novel ini berat,  Penulisnya sangat berhasil menyajikan cerita yang gampang di cerna. Dan tentunya ada sesuatu yang menurut saya menarik lewat buku ini.  Saya tidak ingin mengada-ada, kalau sebagian Jati diri Lena merupakan penjiwaan si Penulis yang dibubuhkan sebagai penguat karakter utama. Apa yang anda lihat lewat Lena, demikian juga pengembangan karakter yang “Nyaris” sama dengan penulisnya sendiri. Meski tidak banyak yang saya gali sebagai parameter, semoga ini cuma sebatas tebakan khilaf saja.

Dalam novel ini dijelaskan bahwa, setiap orang pasti memiliki imajinasi sendiri dalam menentukan impian yang mereka raih. Ada yang terimplementasi Tokoh favorit superhero mereka sewaktu kecil sebagai firasat untuk bangkit, ada pula yang menjadikan pelopor impian mereka, murni mengalir  melalui darah keturunan dan ikatan genetik.

Mungkin terlalu Tahayul jika kita menganggap orang lain memiliki impian yang aneh, lantas kita mencela dan mencibirnya.  Namun di saat rasa ketidak-adilan dan ketertindasan yang telah kita doktrinkan kepada si korban, malah memberikannya sebuah kekuatan ‘Survive’ untuk menghadapi kesulitan dan penderitaan. Justru melalui berbagai kesulitan, si korban malah ditempa menjadi ciptaan Tuhan yang tegar dalam menghadapi berbagai keterpurukan dan kegagalan. Semakin gemar pula si korban belajar dari kegagalan yang membuat bumerang berbalik arah menerjang si Pelaku.

Melalui Novel Cine-us pula-lah, Kita diajari untuk tidak sekali-kali Membullying, bersikap Ortodok, apatis, merendahkan imajinasi, dan impian seseorang dalam berkarya. Orang yang kaya terobsesi dengan impian itu, menandakan manusia yang punya bakat lebih dan Spesial.  Asal… tidak berlebihan dan tidak “asal” besar mulut saja.

Oleh karenanya …jangan pernah usil untuk membunuh impian siapapun. Terlepas apakah impian tersebut seolah-olah pengandaian manusia di luar kesadaran, namun siapa tahu, kedudukan derajat mereka bisa berubah.  Lebih mulia ketika dewasa dalam merealisasikannya menjadi cita-cita.  Saya yakin, Tuhan Maha lebih Tahu  🙂

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan