Pria yang Lemah dan Pasrah itu ternyata. . . .

Pria yang lemah dan pasrah itu ternyata | Hidup normal di lingkungan serba Prekitiew itu adakalanya anugerah. Bagi Blogermie yang memiliki aura tabah dan terlanjur di cap gila ini, biasanya timbul ketika berkumpul dengan kerabat dan sanak famili. Melalui sarana bercanda, mengkaji dan membimbing keluarga, agar senantiasa bersikap santun dan peduli.

Sebagai bentuk upaya menghargai tata krama yang telah lama ada, meskipun peristiwa dekil yang terserap terkadang disertai dengan bumbu absurd, niscaya selain koplak, Blogermie akan tetap berpegangan teguh terhadap nilai syar’i, yang sudah tegak lurus di JalanNya

 

Di lingkungan yang berbeda, ketika sudah memutuskan berada di ujung terluar pintu rumah, bilamana tidak terjangkau oleh pantauan Istri dan anak, ada-ada saja perilaku dan godaan Syaiton yang justru membuat blogermie terjerumus. Sanggup berbuah simalakama, dan memalukan. Seperti yang menimpa pada  Jumat sore, tempo hari yang lalu.

 

Sebelum melanjutkan maksud inti tulisan ini ke ke dunia absurd, izinkan saya menjerumuskan perhatian pembaca sejenak menuju tema kemerdekaan, dan semangat kebangsaan terlebih dahulu.

Pernah tersenggol B3nc0ng .?. Saya sih belum, dan nggak berharap lagi untuk bertemu.

Ya, ini semata-mata menambah wawasan saja. Tidak bermaksud membuahkan pemikiran miring merendahkan martabat b3nc0ng, atau upaya balik arah dengan  pasrah menjadi pria yang lemah gemulai, seolah-olah diri ini menjaga “Kesucian” trik agar terhindar dari godaan B3nc0ng karena menornya bedak yang dipakai. Selain sudah sejak lama alergi dengan b3nc0ng,  Blogermie seringkali mengalami merinding disko, jika harus berdekatan dengan b3nc0ng. Itu saja

Pria yang lemah di hari Kemerdekaan

Tapi, Pria yang lemah di hari Kemerdekaan ini telah paham betul jika tanggal 17 agustus 2018, Pak RT sudah memiliki banyak persiapan. Termasuk mempersiapkan kostum bagi warganya untuk wajib mengikuti serangkaian acara demi menyambut hari kemerdekaan.

Apalagi mendapatkan ancaman yang serius jika sampai tak hadir, di tengah kolam lomba kepruk guling nantinya, akan ada korban yang siap basah kuyup di depan masyarakat umum. Bersedia di ceburkan sebagai saksi hidup, sebagai objek percontohan warga lain yang apatis dengan kerukunan bertetangga. Seperti yang sudah sudah saya saksikan di lomba Agustusan HUT RI ke-70, tahun lalu.

Di sebuah pagelaran seni Agustusan kemarin, puluhan warga 1 dusun, mengikuti karnaval yang diadakan gratis. Warga antusias tampil dengan beragam tema. Karena memang tidak dituntut menang. Berapapun skor dan poin penilaian juri diberikan, tidak banyak membawa pengaruh apa-apa.

Hadiah yang didapatkan nantinya, hanya bersifat pelengkap kemeriahan yang ada. Tak harus mewah. Meski sederhana, berhak menjadi milik mereka dan bisa dibawa pulang secara cuma-cuma.

Kelompok anak-anak mendapat giliran pertama. Selama berjalan dengan rute kurang lebih 2 km, mengitari dusun
Dengan mengambil titik finish di balai desa, nereka diberi kesempatan bergaya sebanyak mungkin dengan sisi humanisme yang dimiliki.

Aksi anak-anak mengenakan atribut kepolisian dan kemiliteran, berlangsung seru dan penuh kelucuan.

Pria yang lemah akan pentingnya berbagi Moral

Banyak di antara mereka yang terlihat hanya ingin bermain, eksis dan tertawa. Namun tak sedikit pula yang bersemangat ingin terkenal, dengan melakukan selfie dengan macam pose anarkis.

Beberapa pria paruh baya, bahkan ada yang menobatkan diri menyampaikan pesan anti radikal. Ahh Ada-ada saja

Di persimpangan jalan ini, tak kalah heboh dan nyaris gelak tawa yang hadir ikut pecah. Ketika keranda jenazah di jadikan kultur sindiran, akan hinanya budaya korupsi.

Keseruan bertambah setelah kelompok ibu-ibu, berpacu dalam tarian pawai papua. Masuk di belakang barisan anak-anak.
Tak terlihat rasa segan atau canggung dari para ibu itu. Totalitas ibu-ibu menari, mendapatkan perhatian tambahan dari para juri. Meskipun mereka terlihat enjoy saja di bawah teriknya matahari, menambah kemeriahan terlihat semakin seru.

Apalagi selaku Istri pak RT. seakan tak mau kalah lebai. ” mas, jangan lupa. Foto warga RT 3 Kebeslu jangan ada yang sampai kelewatan

Di akhir acara, semua warga merasa senang. Namun tidak untuk saya.
Keterlibatan panitia sebagai seksi dokumentasi , malah membuat beberapa manusia “mengsle”, mulai kisruh dengan jati diri mereka sendiri.

Saya juga bingung. Dalam mengindikasi krisis identitas, untuk membedakan mana yang perempuan asli, dan mana yang masih tulen laki-laki.

Pria yang lemah dan pasrah itu ternyata…

Dengan cukup sadar diri juga, saya akhirnya terpaksa dibuat untuk menyerah. Ketika harus diculik untuk eksistensi fotografi, dan demi mengabadikan momen alay dari pria-pria malang ini.

jangan panggil om

mimpi apa saya semalam

Pria yang lemah dan pasrah itu ternyata. . . . ada di tulisan ini

Artikel Terkait :

Comments are closed.