Rusaknya Sebuah Iman Karena Praktek Perdukunan

Seperangkat cara hidup dalam beretika spiritual yang berkembang di tahun 2018 ini, makin mencuri perhatian. Tak hanya dicari, namun sudah melebihi dari kapasitas itu. Bahkan ” diluar jalur “, Orang-orang malah kerap terjebak dengan sesuatu yang dianggap tabu, dan menjadikannya sebuah dogma yang wajib diyakini kebenarannya. Dengan pergi ke Dukun misalnya.

Terlebih, tersebarnya praktek-praktek perdukunan berkedok Islami, makin menambah rumit dalam hidup ditengah masyarakat yang majemuk. Seperti di indonesia tercinta ini.

Dengan segala muslihat, bujukan, dan iming-iming jaminan hidup yang menjanjikan. Praktek-praktek seperti ini agak sulit diperkarakan secara hukum. Tidak ada antisipasi yang manjur selain kemauan dari diri sendiri untuk merubah. Selalu berhati-hatilah kawan. Karena upaya-upaya yang terselubung seperti ini, acapkali ternoda. Memakai atribut Syar’i demi melancarkan modusnya.

 

Krisis Iman disebut-sebut sebagai pemicu munculnya bermacam bisnis perdukunan. Edit colongan wajah Yaoming 😀

***

1 minggu yang lalu, saya pulang kampung ke Probolinggo. Karena memperoleh kabar kurang sedap bahwasanya mertua sedang jatuh sakit, Saya kebetulan masih menyisakan cuti tahunan yang tinggal beberapa hari, bersama istri, memutuskan untuk meluncur secepatnya. Kecewanya tanpa di dampingi Irma, pulkam memang terasa penuh dengan dilema.

Setelah sampai di kampung halaman, agak kaget. Suasana di rumah mertua sepertinya sangat wingit, suram dan gelap.
Subjektifnya, ini diakibatkan oleh faktor apa, Atau hanya penilaian pribadi saya yang dicap gila lantaran berbicara diluar kesadaran. Entahlah..saya masih menduga-duga, tapi yang saya rasakan memang demikian.

Yang agak berbeda dari biasanya, terakhir kali kepulangan saya yang disambut hari lebaran beberapa bulan yang lalu, rumah mertua sudah lebih dulu dikenal “padang”, dan ramai oleh kehadiran tetangga maupun kerabat.
Hampir tiap malam, ada saja tamu yang datang untuk berkunjung.

Iya…dugaan yang semata-mata petunjuk dari YMK ini, memang benar adanya.

 

Setelah bertanya kepada adik ipar, saya memperoleh informasi yang tidak lazim. Duduk perkara sebenarnya mulai berjalan disini.
Sejak mengidap sakit asam urat, nafas tersengal-sengal akibat komplikasi, kolesterol naik, Beliau semakin lalai demi meninggalkan 5 waktu. Semakin sakitnya tak kunjung sembuh, semakin termotivasi berobat ke pengobatan alternatif. Hingga suatu ketika mertua mencoba segala ragam bentuk pengobatan alternatif, namun tiada hasil. Ujung rasa kecewa karena kegagalan terapi-terapi sebelumnya adalah awal sebuah petaka. Pertemuan beliau dengan seorang Dukun membuat mertua lebih percaya omongan dukun ketimbang meyakini apa yang suah beliau ajarkan selama ini.

Saya tidak habis fikir. Ketika seseorang yang sudah sangat priyayi, padahal berulang-kali tahu, yang sama-sama mengajarkan seni dan pengetahuan tauhid, bisa terpental jiwa dan batinnya ketika di dera sebuah musibah Sakit. Lalu Menggadaikan keimanan hanya karena memperoleh sebuah solusi melalui perantara seorang Dukun.

Dan Lagi, yang membuat saya makin tertarik bukan tentang identitas dan seberapa hebat kemampuan magic tuh Dukun, Tapi rasa ingin tahu terhadap gejala “complicated” yang ditimbulkan mertua saya, yang sampai saat ini masih menjadi misteri. Titik Ba, (denganNya lah semua ini terjadi, dan DenganNya-lah segala sesuatu akan kembali.)
Apakah manusia memang tidak dapat independen?
Apakah manusia, sepanjang hidupnya, ketetapan hati yang berubah-ubah adalah Haq’?

2018, di bulan Agustus ini.  Puji syukur, Mertua sudah dinyatakan sembuh. Walaupun istilah sembuh itu hanya sebatas fisik, tafsiran bahasa agar lebih sahih ketika didengar. Saya masih merasakan auranegatif.  Sudah sangat berbeda. Tidak seperti dulu.  Beliau sepertinya belum sembuh secara rohani.

Dibalik fenomena ini, Semoga Tuhan YME memberi petunjuk. Dengan senantiasa mengampuni, Menjaga beliau dari minimnya pengetahuan yang sekarang ini kurang dikaji akibat penurunan usia. Kalau yang dilakukannya itu merupakan sebuah penyimpangan.

Wallahu a’lam

Leave a Comment