Wajah Baru Bengkel Servis Jok Kemendung Milik Syaiful

CilukBa. Syaiful beserta Adiknya

Keduanya secara reflek menengadahkan kepalanya. Ketika tahu silaunya cahaya Blitz kamera, menerpa dan membuyarkan konsentrasi mereka saat sedang asyik-asyiknya fokus bekerja.

Jangan Mas, Aku jangan dimasukin Koran ” , Kata Susanto, sambil menutupi wajahnya dengan posisi telapak tangan kanan, setengah terbuka.

Nggak, gapapa. Aq cuma sebentar kok mampir kesini. Cuma pengen lihat-lihat ” Saya menimpali perkataan remaja berusia belasan tahun ini sambil tertawa geli.

Sore itu, merupakan kunjungan perdana saya ke Bengkel Servis Jok Kemendung Syaifullah. Setelah terakhir kalinya di tahun 2017, bulan September yang lalu, saya mengabadikan liputan suka-suka. Sebagai hasil kerja keras Syaiful beserta Adiknya demi membantu perekonomian warga Sidodadi dalam upaya padat karya yang digalang Pak Lurah.

 

Saya berencana melakukan pembaharuan, sekaligus pemetaan baru terhadap Lokasi Bengkel Servis Jok Motor Syaiful, yang sebelumnya sudah terunggah secara akurat ke Google Maps. Ya, sepertinya saya perlu melakukan sedikit update data sebelumnya, agar tempat ini lebih dikenal. Dengan sedikit sentuhan, menambahkan beberapa Foto terbaru.

Live View Bengkel Servis Jok Kemendung Sidodadi – Sidoarjo [ Milik Syaiful ]

Mungkin ini yang disebut rejeki. Hampir genap 4 tahun bengkel ini berdiri, belum ada satupun dermawan yang membantu renovasinya. Bangunan berdinding bambu, yang setengahnya hampir roboh karena lapuk. Bengkel Jok Motor ini merupakan satu-satunya tempat berkarya, sekaligus mata pencaharian bagi “duo anak langit” seperti mereka. Saipul dan Santo.

 

Kakak Beradik ini seringkali terlihat kusut jika pengunjungnya mulai sepi. Etalase bengkel Jok yang mereka kelola, pun nampaknya tak cukup menjamin kelayakan apabila dihuni untuk 3-5 orang. Apalagi kalau siang hari, sinar matahari yang menyengat terkadang membuat para langganan malah “berisik”.
Yang panas-lah, yang sempit-lah, yang de-el-el, berikut kalimat keluhan lainnya. Yang menjadi satu-satunya wacana Syaiful di tahun depan untuk berbenah.

Syaiful mengakui, sejak terjadi pelebaran jalan protokol Sidodadi, Bengkelnya kian menyempit. Karena akses pintu masuk menuju halaman parkir di depan Bengkel mungilnya, telah termakan 1 meter sebagai trotoar. Tentunya, lepas sudah potensi sandang pangan bagi mereka. Membuat pelanggannya enggan untuk mampir di siang hari.

2 minggu yang lalu, ada konsep terencana dari beberapa orang yang terketuk hatinya untuk membantu. Satu diantaranya adalah pemilik kontrakan yang ditempati Syaiful sebagai bengkel sekaligus tempat tinggal sementara. Untuk saat ini.

Tak hanya mengerahkan upaya untuk berdaya guna di segi finansial, tiap pagi hingga sore, beberapa penderma itu selalu terlibat aktifitas fisik. Membantu memugar bangunan ini untuk di renovasi. 

Alhamdulillah, Hamparan bangunan yang berdiri sebagai bengkel servis jok ini, sekarang lebih tampak manusiawi.

Ruang kerja, sekaligus Ruang Tunggu Pelanggan. Lebih lapang ketimbang dulu

Selayang pandang, terlihat dari depan. Bengkel Syaiful lebih kece dari biasanya. Temboknya sudah memakai bahan dasar asbes. Aksen tegas yang dulunya hanya menampilkan 2 ruang berhimpitan layaknya kandang Kera, nyaris sekarang tak terlihat lagi.

Kusen pintu yang dulunya memakai bambu, sekarang di perkokoh menjadi meranti. Meskipun sederhana, Bengkel Servis Jok Milik Syaiful, kini tambah bergaya.

Bengkel Syaiful Jok Sidodadi-Sidoarjo, yang di kelola oleh Syaiful, mendapatkan upah bersih Rp70- 100 ribu per hari. Yang dibagi serta dengan Adiknya, Santo. Hanya cukup memenuhi kebutuhan makan dan ngopi dalam sehari.

Kadang tak tiap hari, orang datang hanya untuk keperluan merapikan Jok sepeda miliknya, sehingga satu-satunya jalan agar komoditas pangan kedua anak ini tetap ” hidup “, adalah mengandalkan Jasa Tambal ban yang tak seberapa.

Upah itu terkumpul dan mereka peroleh tanpa melalukan tindakan “nyleneh” seperti menyebar paku, tanpa siasat busuk yang tidak perlu.

Agak mirisnya, apabila terdapat pelanggan yang masih seumuran usianya, Seringkali kolaps tak membawa uang, sehingga banyak pelanggan yang sebagiannya dari golongan remaja sekolah, riskan untuk berhutang.

Sesuatu yang menurut saya “gak adil”, dan seringkali menuai keprihatinan. Saya hanya bisa tersenyum kepada mereka. Tanpa bisa berkata apa-apa. Seandainya saya cukup tahu diri untuk memendam perasaan “menunduk” yang sejatinya gambaran kisah mereka sebagai kajian. Mungkin, satu-satunya orang yang bisa saya jadikan sandaran ketika hati sudah sangat terpukul dengan Keruhnya dunia, Hanyalah Baginda Rasullullah Muhammad SAW. Semoga

Selain itu, sambil berbisik mesrah kepada penulis brengsek Blogermie, Santo Agak canggung mengutarakan keinginannya untuk membeli HP baru. Sementara di lain sisi, sang Kakak belum mengijinkan, lantaran terdapat kepentingan yang lebih uzur ketimbang memenuhi keinginan adiknya. Sebagai syarat utama  demi membantu perekonomian Kedua orang tua mereka di kampung halamannya, Kediri.  Santo dengan terpaksa mengalah.

Dulu, Dindingnya masih sebatas bambu kering yang di anyam

Setidaknya terdapat peningkatan income dibanding tahun lalu, yang ditujukan untuk membenahi sisi persisi bangunan bengkel yang mereka tempati. Semenjak kamar tidur yang mereka tempati nyaris ambrol diterpa banjir tahunan yang kerap melanda desa Sidodadi

Syaiful suka aneh. Ketawa ketawa sendiri. Kadang tanpa tedeng aleng-aleng, matanya  berka-kaca sendiri. Apalagi sebelum lebaran ketupat 2 bulan lalu, dia pernah tertipu temannya yang memiliki piutang, yang sampai sekarang belum terbayar. Syaiful sendiri masih punya tanggungan servis vespa yang ia beli seharga 2 juta.

Puji syukurnya, ketika semuanya ditanggung beres. Wajah Baru Bengkel Servis Jok Kemendung Milik Syaiful juga sudah terbilang keren, Vespa sudah kinclong  karena sudah di cat ulang…Masih saja ada yang kurang

Test Drive Vespa baru

Memang, terdapat satu kekurangan dari diri Syaiful yang sudi di toleransi, ketika saya ingin mengakhiri tulisan ini.

Pul, Kapan kamu nikah…? ”

Syaiful cengar-cengir sendiri, seraya melempar si Penulis dengan remetan koran

Artikel Terkait :

1 Comment