Wajah mistis, di bilik kerja ruang Resepsionis

Wajah mistis, di bilik kerja ruang Resepsionis | Satu hal yang saya sukai ketika harus bekerja seorang diri, adalah hening. Bukan lantaran sesat karena dianggap sebagai penganut Sekte yang mengagungkan sesuatu hal mistis yang berbau keramat. Namun karena sudah menjadi bawaan, semenjak duduk di Bangku SMK dulu. Untuk hal-hal tak bermanfaat yang kerapkali mengganggu. Selagi tidak terlalu keterlaluan, Saya abaikan dalam bentuk sikap cuek. Kemana-kemana menyendiri. Paling bawa sebuah gitar untuk mengusir bosan.

Bukan menjadikan satu-satunya alasan untuk menunjukkan ekspetasi diri, seolah-olah terikat oleh ritual khusus juga. Tapi menurut pandangan saya pribadi, dengan hening, waktu nampak sedikit melambat dari biasanya. Dengan hening, ada dimensi khusus yang membuat cara komunikasi kepada YMK jadi lebih terasa khidmat. Sejak mula hening itu saya jadikan metode khusus sebagai tambahan etika mengkaji seni tauhid bersama paman, terdapat ketrampilan tak biasa ketika tiap kali berhenti ditempat manapun untuk memutuskan membaca suasana.

Mulanya, saya menganggap visualisasi 5 panca indra hal tak biasa ini sebagai kepekaan yang lumrah, namun seiring waktu, terdapat hal yang menurut saya kurang begitu disuka. Sisi negatif yang kadangkala membuat hening tersebut malah dijadikan target oleh “benda asing” turut untuk ikut hadir. Entah apa motivasi benda-benda ini, tiba tiba ingin numpang eksis atau hanya ingin tebar pesona, saya juga tak mau tahu.

Dan, tempat yang menurut saya paling sering menuai perhatian adalah di Rumah sakit. Sensasi ekstrem yang ditimbulkan, lebih menyengat ketimbang kuburan. Bahkan jika Tuhan mengizinkan saya untuk mencari ide menulis di malam hari diantara 2 tempat tersebut, saya akan lebih memilih menulis di kuburan saja ketimbang di Rumah Sakit.

Wajah mistis, di bilik kerja ruang Resepsionis

25 agustus 2018 adalah hari “mengsle” yang menjadi inspirasi tulisan ini untuk terbit.

Betapa tidak.
Hari dimana, momen pekerjaan dan aktivitas yang bertepatan dengan banyaknya orang melakukan hajat besar-besaran menikahkan anaknya. Sudah pasti bulan Dhulhizah, harus ada pengeluaran untuk menjamin itu semua. Sangat melengkapi penderitaan Blogermie yang tengah dilanda paceklik kekerean menjelang tutup bulan.

19.00, setelah pulang dari menghadiri resepsi pernikahan teman, langsung berangkat menuju tempat kerja.

Seperti menjadi kebiasaan yang sudah-sudah, ketika sampai lokasi kerja. Hal pertama yang saya lakukan adalah memandangi Aquarium ini dari dekat. Karena merasa ada yang perlu ditakjubi memang. Dari setiap penciptaan yang Tuhan semesta alam buat. Apalagi mengetahui terdapat spesies baru ikan badut gold fish yang di masukkan petugas cleaning servis kemarin siang, kedalam akuarium berdaya tampung besar ini.

Karena letak posisi Aquarium berada tepat di depan Lounge room perwira, 3 menit berlalu setelah terpaku dengan tingkah polah penghuni akuarium, Ada sesuatu yang membuat perhatian ini teralihkan.

Di sudut kiri. Tepat di ujung bilik, meja resepsionis. Ada sedikit keanehan yang mengganggu ingsun saya. Ada semacam keinginan yang mengarahkan mata kiri untuk menuju kesana.


Cermin itu. Seperti mengalihkan energi misterius, yang agak berbeda.

Media Perantara yang menyebabkan Wajah Mistis itu Hadir

Media seperti bunga sedap malam, kenanga bisa menjadi pemicu makhluk astral untuk betah tinggal disana. Demi kepentingan bersolek, ingin di sapa agar sedemikian syantiknya, sampai fokus kamera dibuat agak ngeblur karenanya.


Ealah, tidak hanya wanita saja yang suka tebar pesona, Bangsa halus dari strata golongan mbak kunti, ternyata ingin eksis juga.

Pembaca boleh tidak percaya. Namun saya juga tidak melarang bagi yang berkeinginan, untuk sekali tempo mencoba menebak siapa wajah mistis dan sosok dibalik vas berisi bunga sedap malam tersebut. Namun syaratnya. Siapkan mental, Hati dan fikiran. Jangan sekali-kali dibiarkan kosong dan hanyut. Harus terdapat sedikitnya, Iman di dalamnya. Sesuai keyakinan yang anda anut.

Artikel Terkait :

Comments are closed.