Panasonic LED TV, sudah seperti “Saudara” sendiri

Panasonic LED TV, sudah seperti “Saudara” sendiri | ” Kalau membandingkan sesuatu, tolong bandingkan dengan sebelumnya. Jelas pasca reparasi kali ini akan lebih baik dibandingkan kondisi sebelum dibawa kemari.
Jadi, jangan dibandingkan dengan kondisi pertama, ketika barang elektronik itu ketika masih rusak, “

Suara tenang Kak Hary merasuk pikiran saya yang berada di depannya.
Penjelasan itu menjawab rasa putus asa saya yang 2 hari ini gagal menyelesaikan perawatan sebuah inverter industri yang dibawa seorang rekan.

Hari itu, 6 September 2018, Reparasi 1 unit Inverter baru terselesaikan. Masih tersisa 1 unit lagi yang belum kelar.

Sungguh melelahkan. Bekerja secara triple tasking, jelas mengganggu ketenangan batin dan pikiran. Selain ada deadline menulis yang harus diselesaikan sebelum pukul 17.00, aktivitas momong anak dan mengasuh 2 ekor kucing, menjadi terabaikan. Sehingga pada saat hari tenang, di saat menikmati libur kerja, saya beserta sang kakak, duduk terpekur di bangku mekanik, menghadap ke beberapa buah PCB mesin yang harus diperbaiki.

Reparasi yang memakan waktu hampir 1 hari bertujuan tersebut bertujuan memperbaiki regulator-nya agar kembali hidup. Meski modul penaik tegangan sudah menyala, namun masih ada yang kurang.
Voltase yang keluar tidak berimbang, alias naik turun. Toh tetap saja bagi saya, Inverter tersebut belum normal sepenuhnya.

Rasa cemas pun muncul. mengingat Tanggal PO-nya mepet. Inverter tersebut harus selesai dalam waktu kurang dari seminggu. Namun bersyukurnya, masih terdapat penyemangat dari kakak saya.
Sosok kakak yang memegang peranan penting dalam bidang reparasi elektronik. Bukan karena keahlian-nya, tapi juga terobosan baru yang membuat pengetahuan Blogermie bertambah. Berada pada fase landai.

” telaten itu boleh, asal jangan pesimis. Tidak baik “,  lanjutnya lagi.
 

Panasonic LED TV, Saudara Tiri yang tahan suhu tinggi

Sepanjang hari, kami disuruh menjawab teka-teki tak terpecahkan, sebagai sebuah tantangan. Untungnya di tempat itu, masih terdapat anak tiri yang menemani kesibukan-kesibukan kami. Untuk siapa lagi rasa terima kasih ini saya sampaikan kepada muka lebar. Si layar datar, Panasonic LED TV.

Panasonic led tv ini merupakan hadiah tak terduga untuk Blogermie. 2017, Tahun lalu.
Dari klien, TV 32 inchi ini saya peroleh secara cuma-cuma. Imbalan yang tak seberapa dari hasil jerih payah membantu pekerjaan sampingan kakak, yang sepadan untuk sebuah profesi maintenance.

Tv led 32 inchi Panasonic terpasang menempel di bracketnya. Bersebelahan dengan ruang kerja.
Karena posisi ruang kerja yang menjorok ke dalam, saya gabung dengan kamar tidur. Tata ruangan sengaja saya perlebar agar Irma bisa dengan leluasa menonton telesinema anak, favorit-nya: ‘ Tayo-si Bus kecil‘ di ruang tengah.
Selain fokus bekerja, saya dapat memantau perkembangan si Kecil juga.

tv led 32 inch Panasonic

Sebagai saudara tiri, Panasonic led tv kerap saya siksa secara berlebihan. Lebih parah dari Arie Hanggara, dalam Film-nya.
Hubungan verbal ibarat keluarga sendiri, membuat Panasonic LED TV ini rela untuk banting-bantingan. Secara kekuatan, durabilitasnya memang menjadi 1 alasan saya sejak dahulu, untuk mati merek. Tidak pindah ke lain brand dan serampangan jika membeli perabotan elektronik.

Dalam sehari, TV led ini digeber mulai jam 5 sore, sampai jam 12 malam. Belum lagi kalau ada tayangan Bola, nyaris sekali pun tanpa jeda. Ruangan tanpa ber AC, rasanya tiada masalah.
Ditambah lagi, jika harus rutin berada di meja kerja, TV LED ini wajib menyala. Sebagai pengusir bosan.
 

Panasonic LED TV dan Sindroma Stockholm

Yang menarik dari pengalaman tersebut adalah Sindroma Stockholm. Dimana sesuatu yang tertindas, justru memunculkan loyalitas-nya kepada si penindas.

Meski tv led 32 inch Panasonic ini tak ubahnya benda mati, semakin sering di giring pemiliknya untuk menjadi rusak, semakin intens bagi TV ini untuk menampilkan performa.
Padahal besar harapan saya, sudah timbul rencana beli televisi baru. Eh ternyata, Tuhan berkata lain…

Selama 1,5 tahun ini, kecerahan Layar IPS LED-nya tidak menunjukkan penurunan. Komposisi warna, contrast dan Gamma yang membias, tidak berubah sejak pembelian kali pertama. Dengan jarak pandang tertentu, saya tidak cemas akan radiasi yang dipancarkan. Teduh di mata.

Memang benar kata kakak saya Kalau membeli barang elektronik, jangan asal tuding. Di kira mampu beli produk murah, agar kelihatan dipandang mewah saja. Begitu tahu dipakai belum genap 1 tahun, produknya sudah hancur lebur. Padahal, Harga tv led murah yang beredar, kebanyakan memiliki kualitas bodong. Belum tentu pula menjamin mutu dan standar kelayakan bagi para pemakainya.

Harga tv led murah, jangan dijadikan patokan sebenarnya. Untuk mengetahui seberapa kuat durability-nya demi menemukan letak kebenaran, uji ketahanan perlu untuk dilakukan. Analisis, bagi seorang teknisi adalah mutlak.

” Kita kudu berani nekat menggebernya sampai titik terendah. Terutama jika masih memiliki sertifikat garansi. Mempergunakan jaminan kritis tersebut sebagai jaringan “hidup” adalah perlu. Memperlakukan benda mati seolah menyayangi makhluk hidup, sudah mencerminkan hati si pemilik benda itu sendiri “, imbuh-nya lagi.

Sebagai referensi bagi siapapun, dapat membeli tv led 32 inch Panasonic, karena tv ini sudah teruji memiliki kualitas yang bagus. Sudah ihwal dari jamannya merek lama, tidak perlu cemas akan kualitas yang ditawarkan Panasonic.

Artikel Terkait :

Comments are closed.