Tidur Bebas Selama Sepekan

Tidur bebas selama sepekan | Saya sadar. Kurang lebih sepekan lamanya, telah meninggalkan rumah saya ini. Tidak menyambangi Blog pribadi yang kumuh dengan argumen-argumen subyektif versi saya demi satu alasan. Maka, selama rentan waktu yang ada itu, Blogger seperti saya ini tak lagi dipandang produktif. Tidak memuat tulisan dalam bentuk apa-apa.

Dan sekarang, saya ingat bahwa Blog ini ibarat rumah kedua juga bagi saya. Sebagaimana rumah yang harus dipelihara, diisi, dan diperhatikan.
Ada sedikit goncangan batin yang termaktup, Sehingga ketika ada sms himbauan dari beberapa orang fans yang didominasi kaum hawa, saya agak kikuk menanggapi sikap protes mereka.
Mereka cenderung posesif jika sampai Blog ini mengalami mati suri nantinya.

Yup, ini semua terjadi karena sebuah proses yang disebut “Lantaran”. Lantaran di perhatikan oleh fans, lewat pesan WA yang ditulis tulus atau tidak.


mas, lapo sampeyan gak nulis maneh..vakum tah?
eman soale tulisan sampeyan bab renungan, arep tak gawe riset..



Sampeyan arep pindah profesi dadi dukun tah?


-dan beberapa pertanyaan nggapleki lainnya-

Tenang, tidak pernah terbesit keinginan di benak Blogermie untuk menjual rumah ini. Selain Blog Blogermie tidak memiliki standar nilai tinggi dari sisi ekonomi, Toh belum tentu laku juga ketika harus dijual.

Nah, perlu saya tegaskan bahwa selama masa vakum tersebut, Saya mengalami transisi aneh yang tiba-tiba menyerang. Ya, amnesia sesaat akibat tidur bebas yang keblabasan. ( Tidur bebas dalam artian agak keren: ritual mengurangi intensitas berponsel, bersosmed, bermain game, dan berinteraksi dengan hal-hal yang menurut saya tidak penting ).

Bukankah satu minggu merupakan waktu yang sangat panjang untuk tidur?…
Tapi benar. Saya tidak mengada-ada. Saya benar-benar ketiduran. Dan ketika bangun hari ini, saya baru sadar banyak hal yang telah terlewat bersama waktu.
 

Tidur bebas Ashabul Kahfi

Tapi, tunggu dulu. Rasanya tidur saya yang hanya selama satu minggu itu tidak aneh. Banyak orang yang pernah mengalaminya.
Apalagi kalau dibandingkan dengan tidurnya para penghuni gua pada zaman raja Dikyanus tahun 112 M. Dimana di Zaman itu, dongeng Putri tidur kalah tenar dengan kisah Ashabul Kahfi bukan?…

Lha wong Ashabul Kahfi tertidur lebih dulu sampai 300 tahun lamanya.

Bayangkan 300 tahun, sedangkan saya baru tidur satu minggu saja.

Nah, karena nama Ashabul Kahfi sudah terlanjur disebut, maka biarlah saya menindak lanjuti pertanyaan-pertanyaan saya ketika pertama kali mendengar kisah orang-orang terdahulu yang dengan teguh mempertahankan identitas mereka ini.

Sekadar informasi, Ashabul Kahfi adalah sekelompok orang beriman yang terdiri dari 7 orang. Karena kondisi negara yang mereka tinggali, dipimpin oleh Zionis yang kejam dan lalim, ( penguasa lalim yang membasmi pihak yang memiliki standar keimanan berbeda ) Para Ashabul Kahfi ini harus lari meninggalkan negerinya sendiri.

Ditemani anjing bernama Qithmir, Ashabul Kahfi memilih untuk bertapa/mengasingkan diri untuk masuk ke dalam sebuah gua. Sesampainya di sana, Oleh Allah SWT, mereka di buatkan lelakon cerita yang amat khusus. Dimana 7 pemuda ini harus tertidur pulas selama kurang lebih tiga ratus tahun.

Saat mendengar guru ngaji saya menuturkan kisah ini, saya tidak berani menelisik secara detail tafsir mimpi yang dialami oleh Fisabilillah seperti mereka, namun saya bertanya-tanya dalam hati:

Apa yang dirasakan oleh manusia saat terbangun dan melihat iklim di sekitarnya telah berubah?…

 

Tidur bebas, setelah terbangun…

Jujur saja, saat itu saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya. Sama sekali tidak terbayangkan.
Dan anehnya, saya tak lagi memikirkan pertanyaan itu, tiba-tiba saya mengalami kejadian yang mau tidak mau justru membuat saya menghubungkannya dengan peristiwa Ashabul Kahfi.

Saat saya bangun dari tidur untuk langsung menuliskan cerita ini di huruf pertamanya, saya melihat begitu banyak hal yang telah berubah. Begitu banyak kerumunan orang, pemilik Blog lain yang sudah membahas banyak hal. Sementara blog saya ini, karena tidur bebas saya, belum membahas apa-apa.
Blog saya masih seperti dulu, sedangkan blog tetangga sudah begitu berbeda dan jauh lebih baik.

Mungkin saja, perasaan saya saat melihat blog tetangga yang telah jauh lebih baik ini, sama dengan perasaan Ashabul kahfi saat keluar gua dan melihat peradaban telah berubah. Ya, semoga saja saya tidak mengalami kesurupan iman.

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan