Diam: Kelemahan sebagai pangkal ilmu yang menguntungkan

Diam: Kelemahan sebagai pangkal ilmu yang menguntungkan | Diam, Grogi dan tidak percaya diri,  dengan apa yang disampaikan atau bahkan yang dipikirkan orang lain kepada kita.

 

Pastinya, siapa saja pernah mengalami Grogi dan tidak percaya diri, ketika berhadapan dengan sesuatu yang menurut kita lebih dewasa.

Bagi siapa saja yang pernah berdialeg dengan macam orang yang menyebut diri mereka sebagai: jenius, master, cum laude, syufi, tabi’in, sudah uzur diketahui bilamana lawan bicara tersebut adalah pencerminan personal yang cerdas, universal dan benar. Memiliki segalanya dari beragam aspek pengetahuan yang tidak kita miliki sebelumnya.
Nah, seperti itulah yang sering kali saya rasakan. Selama 25 tahun berinteraksi dengan lingkungan.

 

Dan memang benar, penyebabnya adalah saya selalu merasa bahwa: orang yang saya hadapi kebanyakan, adalah orang yang memiliki “ruang lebih”, yang tidak ada di dalam diri saya. Maka, jadilah saya orang yang canggung dan tidak berani menyatakan pendapat karena celah itu.

Celah yang mendorong saya untuk mengamini bahwa apa yang mereka katakan, terdapat pengetahuan yang tersyirat benar. ( menurut pandangan mereka ).

 

Sedangkan yang ada dalam benak diri, Saya tengah berada di posisi yang salah sebagaimana seorang terdakwa, justru memunculkan sensasi yang menguntungkan ( sebatas yang dipikirkan ).

Sehingga, bilamana kemudian terjadi peristiwa yang sama,  Entah kenapa, rasa tahu diri, timbul dengan sendirinya. Sehingga saya merasa sangat nyaman ketika harus menjadi pendengar.

Tajalli dan perenungan “diam” dalam hati

Banyak sahabat dan handai tolan yang kecewa. Mereka malah menilai  saya sebagai pribadi yang lembek. Tidak berani membuat keputusan dalam melakukan suatu tindakan. Apapun, demi menghadapi macam orang-orang yang ber-IQ tinggi seperti itu.

Saya sadar kalau maksud sahabat-sahabat saya tersebut baik sebagai upaya perlawanan. Namun bagi saya, ungkapan kekecewaan dengan mengembalikannya lagi dalam bentuk sikap memberontak dan membantah, sepertinya bertentangan dengan hati kecil ini.

 

Nah, kalau sudah demikian, sepertinya saya harus memberi sedikit alasan manusiawi kepada sahabat-sahabat saya ini. Kenapa reflek tak sadar yang timbul dari hati, sulit untuk saya hindari.
Sebab, meski timbul rasa tidak percaya diri di hadapan orang yang dimaksudkan sahabat-sahabat saya, bukan berarti Blogermie itu samar dan tidak berbuat apa-apa untuk menutupi kesan tersebut.

 

Kenyataannya, saya justru bahagia telah berjumpa dengan orang-orang berkualitas seperti itu. Karena buah pikir mereka-mereka yang terhimpun secara dialegtis tersebut, akan cenderung mudah tersedot ke dalam otak saya yang kadang sulit dimasuki idealisme-idealisme baru.

Terlebih kalau sudah disampaikan secara lisan. Baik dalam bentuk nasihat, bahkan sampai hujatan.

 

Kalau sudah demikian, maka saya akan mendapat banyak petunjuk dari orang di hadapan saya tersebut. Poin pertama, sudah saya genggam.

 

Poin ke dua, yang saya lakukan untuk tidak menawar kejadian yang sudah terjadi dengan begitu cepat, tanpa harus mengeluh. Saya tidak menggunakan trik langka yang hanya ditulis di dalam buku-buku tebal karya cendikiawan barat dengan harga selangit. Saya belajar wedaran dari ibu saya. Itu saja.

 

Pasti pembaca penasaran toh, Apa gerangan kata-kata Ibuk saya tersebut, sehingga bisa membuat saya menempatkan diri pada posisi yang demikian menguntungkan, meski sebetulnya perasaan saya sedemikian tersudutkan?

Retorika linear: Hanya Tuhan-lah yang berhak memantaskan diri untuk benar

Saya belajar memperdalam kata-kata retorika dari Ibunda tercinta. Bukan kata-kata mutiara memang. Hanya penggalan literatur dalam bahasa jawa.

Beliau menyatakan dengan lugunya tentang pengertian hakikat. Tentang letak kelemahan manusia, adalah sumber kelebihan kita yang tidak bisa diungguli oleh siapapun.

Bunyinya seperti ini:

“Tan keno Kinoyo Ngopo”

 

Nah, nasihat itu kemudian langsung saya terjemahkan dalam tindakan.
Sebagai modal, mungkin saja interpretasi nasihat itu terlalu ortodoks dan literal bagi sebagian orang. Akan tetapi, saya benar-benar merasakan manfaatnya.

Saya menerjemahkan nasihat itu demikian:

  1. Kalau kita merasa lemah di hadapan seseorang, maka jangan coba-coba menyembunyikan kelemahan kita dengan mengatakan hal-hal di luar wawasan kita, hanya dengan maksud menunjukkan perlawanan. Bahwa kita memiliki beragam kelebihan.
  2. Kalau ada informasi apa-apa, jangan lantas terseret untuk membenarkan atau menyalahkan, tapi ambil manfaatnya. Jangan bersikap akademis dan komunitif, dengan terus menerus menyangkal.
    Coba tahan kalimat-kalimat yang disajikannya untuk diam sejenak. Petunjuk tuhan bisa muncul dalam beragam bentuk. Bahkan melalui intervensi orang lain
  3. Sebaliknya, yang harus kita lakukan hanyalah menunjukkan simpati kita kepada orang yang kita ajak bicara. Selain itu, perlihatkan juga pada lawan bicara kita bahwa ia memiliki integritas yang unggul, (dari pada kita) sehingga amat wajar kalau kita mencuri pengetahuan dari dia.

 

Intinya, tempatkan diri kita di bawah lawan bicara kita, maka otomatis ilmu dari orang tersebut akan mengalir kepada kita dengan lancar. Bukankah air hanya akan mengalir dari sudut tinggi ke tempat yang lebih rendah?

 

Diam merupakan Kelemahan paling mendasar yang ditempa sebagai kebijaksanaan

Nah, strategi berlindung di balik kelemahan diri sendiri inilah yang membuat kita selamat.

Saya menyebutnya demikian karena ketulusan mengenai kelebihan yang dimiliki lawan bicara kita, dan atas kelemahan kita sendiri yang sudi untuk kita akui, justru melindungi kita dari perasaan bersalah.

Pun sebaliknya.
Jika berkeras hati menutupi kelemahan kita tersebut dengan kalimat-kalimat paradoks muluk-muluk, tapi penuh omong kosong, maka secara tidak sadar, kita menjual banyak rasa malu demi kebodohan diri, untuk leluasa ditertawakan orang lain.

Maka bagi saya, diam dan jujur mengenai perasaan, adakalanya mutlak diperlukan. Meski kejujuran itu juga bukan epidemi yang berarti menunjukkan ekspresi dan dijadikan bahan agar kita bisa tulus 100%, secara menyeluruh. Namun adalah jauh lebih baik daripada melakukan pembelaan berupa menutupi prasangka kita dengan kebohongan-kebohongan yang terlalu dibuat-buat.

Kebesaran hati akan sebuah kekalahan, akan lebih cepat mendidik mental diri untuk bersikap bijaksana.
Maka jelas sudah pengertian: Yang terdiam, bukan berarti kalah bukan ?

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan